Etalase Pengagum Al-Quran Sejumlah ilmuwan Barat dinyatakan mempercayai Al-Quran sebagai wahyu Tuhan setelah menemukan sejumlah temuan sains modern yang cocok dengan kata kitab suci itu. Tapi ada yang protes.
|
Prof. Joe Leigh Simpson adalah ahli ginekologi dan obstetri dari Baylor College of Medicine di Houston, AS. Ia penganut Kristen Presbyterian yang rajin ke gereja. Namun, nama dan pendapatnya sering nongol di deretan para ilmuwan yang mengkaji Al-Quran. Pada tahun 1980-an, dia pernah mengungkapkan pendapatnya dalam sebuah konferensi bahwa Al-Quran pastilah wahyu dari Tuhan karena mampu memprediksi temuan-temuan modern dalam bidang embriologi dan genetika.
Simpson hanya salah satu dari sederet ilmuwan Barat yang kini, menurut situs Islamicity.com, masuk dalam etalase pengagum Al-Quran, kitab suci umat Islam. Koran berbahasa Inggris yang terbit di Hong Kong, The Asian Wall Street Journal, Kamis dua pekan lalu menurunkan artikel berjudul Para Ilmuwan Barat Berperan dalam Mengungkap 'Sains' dalam Al-Quran untuk menelusuri kebenaran pernyataan ini. Tulisan di halaman satu ini mengupas kepiawaian aktivis Islam merangkul para ilmuwan nonmuslim dalam mengkaji korelasi antara Al-Quran dan sains modern.
Adalah Sheikh Abdul-Majid A. al-Zindanī, Direktur Proyek Mukjizat Saintifik dalam Al-Quran dan Hadis dari Universitas King Abdulazīz, Jeddah, Arab Saudi, yang dikutip koran itu pernah mewawancarai beberapa ilmuwan Barat dengan rekaman video. Mereka antara lain Dr. Keith L. Moore (profesor bidang anatomi dan biologi sel Universitas Toronto), E. Marshal Johnson (profesor bidang anatomi dan biologi perkembangan Universitas Thomas Jefferson, Pennsylvania, AS), T.V.N. Persaud (profesor bidang anatomi dan kesehatan anak Universitas Manitoba, Kanada), dan yang lainnya.
Para ilmuwan tersebut dimintai pendapatnya tentang kesesuaian ayat Al-Quran dengan temuan modern di bidang sains masing-masing. Dr. Moore dari Universitas Toronto, adalah yang pertama. Penulis buku acuan tentang embriologi yang diakui dunia internasional ini diminta menafsirkan pernyataan Al-Quran bahwa Tuhan menciptakan manusia seperti lintah. Kesimpulannya? "Kajian mendalam terhadap Al-Quran dan hadis selama empat tahun ini menghasilkan sistem klasifikasi embrio manusia yang menakjubkan, karena ini catatan abad ke-7 Masehi," kata Dr. Moore. Dia menyimpulkan, karena persamaan biologis lintah dan embrio manusia hanya dapat dilihat dengan mikroskop, deskripsi dalam Al-Quran bukan bersumber dari ilmu pengetahuan abad itu--yang belum mengenal teknologi mikroskop. Dengan kata lain, ia wahyu dari Tuhan.
Dr. Moore bukanlah ilmuwan nonmuslim pertama yang berkesimpulan seperti ini. Dr. Maurice Bucaille, ahli bedah asal Prancis, adalah pelopornya. Pada 1976, dia menulis buku berjudul The Bible, The Quran and Science. Secara mendetail dan fasih, Bucaille mengupas ayat-ayat antara lain tentang penciptaan semesta, astronomi, dan reproduksi manusia. Intinya bahwa, berdasarkan sains modern, ayat-ayat Al-Quran tentang berbagai bidang ilmu tersebut saintifik. Contohnya ayat tentang reproduksi. Sebuah ayat berbunyi, "Kemudian Tuhan menjadikan keturunannya dari saripati cairan yang hina." Umum diketahui bahwa proses reproduksi manusia bersumber dari cairan sperma. Lalu, Bucaille secara khusus menafsirkan kata saripati sebagai spermatozoa, istilah biologi yang muncul dari ranah sains modern.
Bagaimana tanggapan dunia Islam atas pemikiran Bucaille? Dr. Pervez Hoodboy, ahli fisika dari Universitas Quad-i-Azam, Pakistan, menulis dalam bukunya, Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas, bahwa buku Bucaille ternyata diminati dunia. Ia diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dalam jumlah ratusan ribu eksemplar dan dibagikan secara gratis oleh organisasi-organisasi Islam seluruh dunia. Di kampus-kampus Amerika, buku itu digunakan para mahasiswa muslim untuk berdakwah. Gaung Bucaille berperan dalam mengislamkan banyak orang, terutama kalangan kaum muda terpelajar.
Gelombang pemikiran yang disebut sebagai Bucailleisme tersebut dibaca oleh Dr. Komaruddin Hidayat, cendekiawan dari Yayasan Paramadina, Jakarta, sebagai bentuk kekecewaan ilmuwan Barat terhadap sains modern, yang melahirkan nihilisme. Seperti diketahui, kebanyakan ilmuwan Barat cenderung bersikap ateistik. Mereka takut mengakui kebenaran agama karena khawatir kredibilitasnya hancur. Karena itu, kecenderungan Bucaille menjadi semacam solusi. "Mereka membutuhkan suatu rujukan yang absolut tapi sekaligus tetap diakui sebagai ilmuwan," kata Komaruddin.
Di Indonesia, pemikiran Bucaille pernah disambut dengan meriah. Armahedi Mahzar, pemikir Islam dan dosen Institut Teknologi Bandung, pernah mengikuti ceramah Bucaille di Jakarta dan Bandung. "Diakui atau tidak, Bucaille telah menunjukkan keunggulan Al-Quran. Namun, lebih bagus lagi kalau Al-Quran bisa mengilhami ilmuwan muslim untuk menemukan fakta ilmiah atau teori ilmiah yang baru," kata Armahedi.
Sementara itu, popularisme gerakan ini membuat sebagian ilmuwan nonmuslim yang disebut namanya merasa risi. Profesor Joe Leigh Simpson , misalnya, merasa pernyataannya dikutip di luar konteks. Sampai sekarang ia masih rajin berkunjung ke gereja.
K.M.N., Agus Hidayat, Upik Supriyatun (Bandung)
|