Harus Panglima Berkeringat? Pergantian Panglima TNI alot. Di baliknya ada persaingan ketat Jenderal Endriartono Sutarto dan Tyasno Sudarto.
|
CILANGKAP segera berganti bos, begitu berita yang beredar sepanjang pekan lalu. Panglima TNI Laksamana Widodo A.S. akan menyerahkan tongkat komandonya. Pergantian di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, ini akan diikuti semua kepala staf angkatan.
Seorang sumber militer mengungkapkan, Jenderal Endriartono Sutarto, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sekarang, segera disorongkan Presiden Megawati kepada DPR untuk menggantikan Laksamana Widodo. Yang naik mengisi pos KSAD adalah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Letjen Ryamizard Ryacudu—tandem Jenderal Tono, panggilan Endriartono, saat meredam dekrit yang dilansir Presiden Abdurrahman Wahid pada 23 Juli 2001.
Jika benar, "lokomotif militer" yang lama "mogok" kembali berderak. Widodo naik pada 26 Oktober 1999 di masa Presiden Abdurrahman. Agustus lalu ia sudah berusia 58 tahun, berarti telah mendapat perpanjangan tiga tahun dari usia dinas aktif. Kata sebuah sumber, Widodo dipertahankan untuk mencegah koyaknya tubuh militer, karena sempat ada ide Abdurrahman untuk mengambil pengganti Widodo (Angkatan Laut) dari Angkatan Udara. Maksudnya agar pucuk TNI dipegang bergiliran antarangkatan. Tapi suasana antarangkatan yang "kurang mesra" membuat ide ini batal dijalankan.
Setelah Megawati masuk Istana Merdeka, Juli tahun lalu, lagi terdengar rencana mengganti orang nomor satu TNI itu. Tapi rencana ini juga mandek. Selain harus minta persetujuan DPR, yang tiap fraksinya punya calonnya sendiri, persaingan antarcalon juga berlangsung sangat alot.
Alhasil, seperti pernah dinyatakan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Marsekal Pertama Imam Wahyudi, awal Desember lalu, bos TNI, "Kemungkinan besar dari angkatan darat." Undang-undang pertahanan yang baru disahkan pun mensyaratkan Panglima TNI pernah menjabat kepala staf angkatan. Itu artinya cuma dua nama yang punya peluang: Endriartono dan Jenderal Tyasno Sudarto, mantan KSAD.
Kata sumber TEMPO, Tono, angkatan 71, kuat disokong kalangan dalam TNI dan purnawirawan. Seorang jenderal senior yang cukup berpengaruh menyatakan, "Yang naik mestilah yang dulu berkeringat, yang berani menyarankan untuk tak mengeluarkan dekrit." Jelas arahnya, Endriartono.
Sementara itu, Tyasno, angkatan 70, kencang didukung "kalangan luar" TNI. Namanya dibisikkan ke telinga Presiden Megawati antara lain oleh Kepala Badan Intelijen Negara, Letjen (Purn.) A.M. Hendropriyono, dan sejumlah jenderal lain di kabinet maupun PDIP. Di mata pendukung Tyasno, sikap Tono yang menolak dekrit justru dianggap sebagai "tabiat pembangkangan". Dan itu minus poin untuk Tono. Faktor umur juga dikutak-katik. Tyasno, yang lahir 14 November 1948, memang setahun lebih muda. Tiga bulan mendatang, 29 April, jika tak diperpanjang, Endriartono akan genap memasuki usia pensiun.
Itu sebabnya dukung-mendukung calon pun ramai, bahkan sejak akhir tahun lalu. Awal November lalu, soal ini dilentingkan Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi PDIP, Raja Kami Sembiring Meliala. Sang pensiunan mayor jenderal menyatakan, tersendatnya pergantian panglima bakal merusak kaderisasi tentara. Pengamat M.T. Arifin, yang dekat dengan Tyasno, setuju. "Selain merusak sistem promosi, hal itu juga mematikan harapan para perwira muda," katanya.
Desakan kalangan "luar" itu kontan mengundang reaksi. KSAD Jenderal Endriartono Sutarto dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Hanafie Asnan menyatakan, Widodo justru mesti dipertahankan untuk menjaga solidnya TNI. "Kita memandang belum waktunya mengganti Pak Widodo," kata Endriartono.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Marsda Graito Usodo, membantah kabar pergantian ini. "Sejauh pengetahuan saya, tidak ada. Saya tidak bohong," katanya, Sabtu siang kemarin. Menurut dia, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) bahkan belum bersidang. Yang telah digelar barulah sidang pra-Wanjakti, sekitar dua minggu lalu. Cuma, sebagaimana pernah dijelaskan Jenderal Endriartono, pemilihan Panglima TNI tidaklah melalui mekanisme Wanjakti. Presiden mengambil keputusan berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan rapat khusus antara Panglima TNI, kepala staf angkatan, dan perwira tinggi lain.
Jadi, bisa saja tanpa Wanjakti pergantian terjadi. Hanya, menurut Tjahjo Kumolo, anggota Komisi I dari PDIP, pergantian itu belum dapat dipastikan. "Surat resmi ke DPR belum ada, kok," katanya. Tapi politisi yang dikenal dekat dengan Taufiq Kiemas, suami Presiden Megawati, yakin bahwa Jenderal Endriartonolah calon Panglima TNI terkuat. "Memang ada yang mengusung nama Tyasno, tapi saya kira sudah pasti Endriartono," katanya sambil tertawa.
Tapi, siapa dan kapan masih digenggam Mega.
Karaniya Dharmasaputra, Levi Silalahi, Gita W. Laksmini
|