Dalam Kepungan Banjir Publik menuding pemerintah DKI tak punya konsep dalam menanggulangi banjir. Tapi tabiat membuang sampah sembarangan juga perlu dikritik. |
HUJAN atau kemarau, bagi penduduk Jakarta dan sebagian besar daerah lain di Indonesia, sama-sama menyimpan derita. Pada musim kemarau, air kering, polusi meningkat. Di musim hujan, banjir datang dan jalan-jalan macet.
Nestapa banjir itulah yang muncul dan tampaknya akan bertahan sepanjang awal tahun ini. Dua pekan lalu aktivitas Bandara Soekarno-Hatta terhenti karena awak pesawat dan para penumpang terjebak banjir di jalan. Saban sore, sebagian jalan di Jakarta bisa berubah menjadi kolam lumpur bila hujan sudah menitik.
Banjir di Jakarta bukanlah persoalan baru. Tahun 1996, Sungai Ciliwung meluap hingga menggenangi belasan kelurahan di pinggirannya. Pada tahun yang sama, sejumlah jalan tembus bawah tanah tak bisa dilewati karena terendam air. Sekitar 50 persen responden jajak pendapat TEMPO mengaku pernah menjadi korban banjir, dari rumahnya tergenang, lingkungannya terbenam, hingga menjadi korban kemacetan berjam-jam akibat banjir.
Banjir memang multi-sebab. Banjir di bantaran sungai, selain disebabkan oleh gelontoran air dari hulu Sungai Ciliwung di kawasan Bogor, juga diakibatkan oleh penyempitan kali akibat hunian liar. Selain itu, sungai juga tak mampu menampung debit air karena disesaki sampah. Banjir di permukiman biasanya disebabkan oleh tumpahan air yang tak mampu dibuang saluran yang mampet. Dalam kasus banjir di jalan tol menuju bandara, pembangunan Perumahan Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara, yang membabat hutan bakau, adalah salah satu sebab utama yang sering disebut-sebut.
Tapi publik jajak pendapat ini menyebut sebab utama banjir di Jakarta adalah perilaku warga yang tak disiplin dalam membuang sampah. Sungai, bagi banyak warga Jakarta, bukanlah bagian dari keindahan kota, melainkan sarana membuang sampah. Selain itu, pemerintah DKI juga dinilai tak punya konsepsi yang jelas tentang manajemen banjir dan pengolahan sampah. Sodetan yang membelokkan air Ciliwung ke Sungai Cisadane (Tangerang) dianggap hanya memindahkan banjir Jakarta ke Tangerang. Di lain pihak, sampah yang dikumpulkan dari seantero Jakarta hanya dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan sampah Bantargerbang tanpa diolah lebih lanjut.
Di tengah tak jelasnya manajemen sampah dan ancaman banjir itulah masyarakat hidup. Ancaman banjir--dan segala bahaya yang ditimbulkannya--bisa datang kapan saja, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun.
Arif Zulkifli
| Di mana wilayah Anda tinggal saat ini? | | Jakarta Selatan | 28,85% | | Jakarta Timur | 27,12% | | Jakarta Barat | 19,62% | | Jakarta Utara | 13,46% | | Jakarta Pusat | 10,96% | | | | Pernahkah Anda terganggu oleh banjir? | | Ya | 50,77% | | Tidak | 49,23% | | | | Jika Anda menjawab ya, seberapa parah gangguan itu? | | Rumah tidak terendam, tapi lingkungan tempat tinggal saya terendam air | 45,83% | | Meski rumah dan lingkungan tidak terendam air, saya terjebak kemacetan berjam-jam lamanya | 29,92% | | Rumah tinggal saya terendam air | 24,24% | | | | Menurut Anda, siapa yang paling bersalah dalam kasus banjir di Jakarta? | | Penduduk yang membuang sampah sembarangan | 43,46% | | Pemerintah DKI, yang tak punya konsep penanggulangan banjir yang baik | 38,46% | | Pengusaha pemilik proyek yang merusak lingkungan | 11,35% | | Penduduk dan Pemda Bogor, yang kawasannya kerap mendatangkan banjir kiriman | 5,96% | | | | Selama ini ke mana Anda/keluarga membuang sampah? | | Ke tong sampah yang lalu diangkut petugas sampah | 86,92% | | Ke halaman sendiri untuk kemudian dibakar | 12,31% | | Ke sungai/got | 0,38% | | Tanah kosong | 0,19% | | Ke pasar | 0,19% | | |
| Menurut Anda, apakah cara berikut ini akan efektif mengatasi banjir di DKI? | | | Ya | Tidak | | Menggusur perumahan liar di bantaran kali yang kerap menyempitkan sungai sehingga menyebabkan banjir | 80,96% | 19,04% | | Membongkar proyek-proyek yang merusak lingkungan | 69,81% | 30,19% | | Membelokkan sungai-sungai di Jakarta ke kawasan lain (Tangerang dan sekitarnya) | 50,38% | 49,62% | | Menutup buangan banjir dari Bogor | 47,69% | 52,31% | | |
| Untuk mengatasi kemungkinan banjir besar di Jakarta, apa yang akan Anda lakukan? | | Meninggikan rumah agar tak terendam | 31,54% | | Mencari alternatif tempat tinggal jika benar-benar terkena banjir | 24,62% | | Membuat bendungan di sekitar rumah agar tak terendam | 23,46% | | Tidak melakukan apa-apa | 11,35% | | Mengungsi sejak dini | 7,88% | | |
Metodologi jajak pendapat :
|