Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXX/28 Januari - 03 Februari 2002
   
Monitor

Dalam Kepungan Banjir

Publik menuding pemerintah DKI tak punya konsep dalam menanggulangi banjir. Tapi tabiat membuang sampah sembarangan juga perlu dikritik.

HUJAN atau kemarau, bagi penduduk Jakarta dan sebagian besar daerah lain di Indonesia, sama-sama menyimpan derita. Pada musim kemarau, air kering, polusi meningkat. Di musim hujan, banjir datang dan jalan-jalan macet.

Nestapa banjir itulah yang muncul dan tampaknya akan bertahan sepanjang awal tahun ini. Dua pekan lalu aktivitas Bandara Soekarno-Hatta terhenti karena awak pesawat dan para penumpang terjebak banjir di jalan. Saban sore, sebagian jalan di Jakarta bisa berubah menjadi kolam lumpur bila hujan sudah menitik.

Banjir di Jakarta bukanlah persoalan baru. Tahun 1996, Sungai Ciliwung meluap hingga menggenangi belasan kelurahan di pinggirannya. Pada tahun yang sama, sejumlah jalan tembus bawah tanah tak bisa dilewati karena terendam air. Sekitar 50 persen responden jajak pendapat TEMPO mengaku pernah menjadi korban banjir, dari rumahnya tergenang, lingkungannya terbenam, hingga menjadi korban kemacetan berjam-jam akibat banjir.

Banjir memang multi-sebab. Banjir di bantaran sungai, selain disebabkan oleh gelontoran air dari hulu Sungai Ciliwung di kawasan Bogor, juga diakibatkan oleh penyempitan kali akibat hunian liar. Selain itu, sungai juga tak mampu menampung debit air karena disesaki sampah. Banjir di permukiman biasanya disebabkan oleh tumpahan air yang tak mampu dibuang saluran yang mampet. Dalam kasus banjir di jalan tol menuju bandara, pembangunan Perumahan Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara, yang membabat hutan bakau, adalah salah satu sebab utama yang sering disebut-sebut.

Tapi publik jajak pendapat ini menyebut sebab utama banjir di Jakarta adalah perilaku warga yang tak disiplin dalam membuang sampah. Sungai, bagi banyak warga Jakarta, bukanlah bagian dari keindahan kota, melainkan sarana membuang sampah. Selain itu, pemerintah DKI juga dinilai tak punya konsepsi yang jelas tentang manajemen banjir dan pengolahan sampah. Sodetan yang membelokkan air Ciliwung ke Sungai Cisadane (Tangerang) dianggap hanya memindahkan banjir Jakarta ke Tangerang. Di lain pihak, sampah yang dikumpulkan dari seantero Jakarta hanya dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan sampah Bantargerbang tanpa diolah lebih lanjut.

Di tengah tak jelasnya manajemen sampah dan ancaman banjir itulah masyarakat hidup. Ancaman banjir--dan segala bahaya yang ditimbulkannya--bisa datang kapan saja, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun.

Arif Zulkifli



Di mana wilayah Anda tinggal saat ini?
Jakarta Selatan28,85%
Jakarta Timur27,12%
Jakarta Barat19,62%
Jakarta Utara13,46%
Jakarta Pusat10,96%
 
Pernahkah Anda terganggu oleh banjir?
Ya50,77%
Tidak49,23%
 
Jika Anda menjawab ya, seberapa parah gangguan itu?
Rumah tidak terendam, tapi lingkungan tempat tinggal saya terendam air45,83%
Meski rumah dan lingkungan tidak terendam air, saya terjebak kemacetan berjam-jam lamanya29,92%
Rumah tinggal saya terendam air24,24%
 
Menurut Anda, siapa yang paling bersalah dalam kasus banjir di Jakarta?
Penduduk yang membuang sampah sembarangan43,46%
Pemerintah DKI, yang tak punya konsep penanggulangan banjir yang baik38,46%
Pengusaha pemilik proyek yang merusak lingkungan11,35%
Penduduk dan Pemda Bogor, yang kawasannya kerap mendatangkan banjir kiriman5,96%
 
Selama ini ke mana Anda/keluarga membuang sampah?
Ke tong sampah yang lalu diangkut petugas sampah86,92%
Ke halaman sendiri untuk kemudian dibakar12,31%
Ke sungai/got0,38%
Tanah kosong0,19%
Ke pasar0,19%
 

Menurut Anda, apakah cara berikut ini akan efektif mengatasi banjir di DKI?
 YaTidak
Menggusur perumahan liar di bantaran kali yang kerap menyempitkan sungai sehingga menyebabkan banjir80,96%19,04%
Membongkar proyek-proyek yang merusak lingkungan69,81%30,19%
Membelokkan sungai-sungai di Jakarta ke kawasan lain (Tangerang dan sekitarnya)50,38%49,62%
Menutup buangan banjir dari Bogor47,69%52,31%
 

Untuk mengatasi kemungkinan banjir besar di Jakarta, apa yang akan Anda lakukan?
Meninggikan rumah agar tak terendam31,54%
Mencari alternatif tempat tinggal jika benar-benar terkena banjir24,62%
Membuat bendungan di sekitar rumah agar tak terendam23,46%
Tidak melakukan apa-apa11,35%
Mengungsi sejak dini7,88%
 

Metodologi jajak pendapat :



  • Jajak pendapat ini dilakukan oleh Majalah TEMPO, bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 520 responden di lima wilayah DKI pada 19-23 Januari 2002. Dengan menggunakan ukuran sampel tersebut, estimasi terhadap nilai parameter mempunyai margin error sebesar 5 persen. Survei dilakukan dengan metode multi-sampel acak bertingkat dengan unit analisis kelurahan dan rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan dengan cara tatap muka dan melalui telepon.

    Independent Market Research

    Tel: 5711740-41, 5703844-45 Fax: 5704974


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data