Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXX/28 Januari - 03 Februari 2002
   
Kolom

Muhammadiyah yang Ingin Berubah

Syu’bah Asa
Pengajar Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta

UNTUK para fungsionaris Muhammadiyah, yang baru Ahad kemarin menyelesaikan sidang tanwir (musyawarah tertinggi sesudah muktamar) di Sanur, Bali, ada sebuah lelucon tentang surga. Di surga, kelak akan dipakai tangga berjalan. Dan di tangga yang bergerak itu, di depan berdiri antara lain para kiai, ustaz atau imam salat. Yang menarik, di belakang mereka ternyata bukan para juru azan dan para qari. Melainkan kaset.

Benar. Soalnya, yang mengaji di masjid, bahkan menyerukan azan, bukan lagi qari atau muazin, melainkan kaset. Tetapi benar juga, lelucon ini tidak cocok untuk orang Muhammadiyah kecuali kalau dimaksudkan untuk mereka pakai "menyerang" kalangan lain yang masjidnya riuh rendah dengan suara kaset. Masjid-masjid di lingkungan Muhammadiyah sendiri hampir tidak mengenal benda elektronik itu. Kalau toh mereka ingin mengudarakan suara Quran--hanya kadang-kadang, misalnya menjelang subuh--mereka lebih suka mengaji sendiri.

Alasannya sepenuhnya kita pahami, kalau kita mengingat lelucon surga di atas. Tapi justru ada yang dicerminkan di situ: sebuah sikap keberagamaan yang ingin sejauh mungkin menjaga peribadatan dari campur tangan budaya dan seni. Bahwa masalah ini besar, yakni bila kemudian juga menyangkut masalah percampuran dengan adat dan budaya lokal, bisa dibuktikan oleh tumbuhnya kerisauan tertentu di kalangan pimpinan salah satu ormas tua ini mengenai apa yang bisa dinilai sebagai ketidakberdayaan (atau keterasingan) mereka di tengah gelora sosial yang ternyata begitu besar. Itu ditunjukkan oleh bangkitnya secara serentak "umat-umat raksasa" seperti para pengikut Megawati Sukarnoputri maupun, lebih-lebih, pengikut Gus Dur, dua-duanya pekat dengan warna budaya lokal.

Itu hasil pertumbuhan yang luput dari pengamatan Muhammadiyah. Bukan saja mereka tidak bisa "masuk", melainkan juga tidak ada dialog, berhubung tidak ada share pengalaman budaya. "Itu menunjukkan bahwa dakwah kita sebenarnya gagal," kata salah seorang tokoh. Di situ menjadi semakin kuat desakan ke arah pemikiran "dakwah kultural", seperti yang kemudian menjadi pembicaraan dalam Sidang Tanwir kemarin ini.

Musabaqah Tilawatil Quran. Tema yang cukup luas. Dari satu dimensinya saja, Kuntowijoyo, sejarawan yang juga pemikir di kalangan Muhammadiyah, sudah lama menyesali "habitat"-nya itu sebagai "tidak punya ekspresi estetis" dalam beragama. Contoh kecil penolakan penggunaan kaset Quran tadi sebenarnya bukan menunjukkan kemauan lebih besar untuk memilih mengaji langsung. Orang Muhammadiyah justru tidak terkenal sebagai tukang membaca Quran: persepsi mereka tentang kitab suci ini lebih sebagai pedoman hidup, yang mestinya diketahui baik-baik maknanya, dan dilaksanakan, daripada sebagai benda ritual dan sarana memperoleh pahala lewat pembacaan. Meskipun yang terakhir itu juga tidak sama sekali mereka ingkari, kenyataannya keterampilan mereka membaca Quran juga rata-rata menjadi tidak bagus, misalnya kalau dibandingkan dengan di kalangan NU.

Penolakan mereka menggunakan kaset Quran itu justru memperkuat ciri mereka yang minimalis dalam hal ritus. Lebih dari itu, alasan bahwa Nabi dan para sahabat tidak pernah memperagakan pengajian Quran menjelang azan magrib atau subuh, misalnya (yang dilakukan di zaman Nabi, sebelum subuh, adalah azan dini hari, dan itulah yang mereka lestarikan), lebih-lebih tidak pernah menggunakan bacaan Quran untuk, seperti kebiasaan di sebagian lingkungan santri non-Muhammadiyah, sekadar menunggu kedatangan tamu-tamu waktu kenduri (tanpa disimak, dicampur ketawa-ketawa, biasanya), sejalan saja dengan alasan yang sering dikemukakan bahwa Quran bukanlah kitab suci yang diturunkan untuk dinyanyi-nyanyikan dan dilomba-lombakan begitu.

Itulah sebabnya tidak terdapat--atau jarang sekali--ulama Muhammadiyah, seperti juga ulama Al-Irsyad atau Persis, di kepanitiaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat apa pun. Masjid-masjid Muhammadiyah, yang memaksakan membaca Quran tanpa kaset, menjadi "tidak enak": bandingkan saja pembacaan qari-qari nasional sebangsa Mu’ammar Z.A. atau yang lain, yang begitu mengalun dan mendayu (dan di sana-sini begitu "diseni-senikan"), dengan bacaan merbot, penjaga masjid, yang bisa bikin sesak napas karena salah melulu.

Agama yang simpel. Tapi enak-tidak-enak ternyata bukan perkara agama. Sebuah dorongan yang cukup kuat di dalam Islam, yang berkebalikan dari, misalnya saja, Katolisisme, dengan misa-misanya yang begitu teatral, ialah semangat untuk menghindarkan agama dari "menjadi seni". Setengah abad yang lalu masih banyak kiai NU yang menolak tindakan menyanyikan Quran gaya MTQ itu--meski Imam Syafi’i, sebagai kebalikan dari gurunya, Imam Malik yang keras, terhitung yang paling lunak di antara empat pendiri mazhab. Riwayat gerakan Wahabi di Arab Saudi, yang begitu merebut takhta tidak hanya menghancurkan kubah-kubah di pemakaman Ma’la di Mekah, tapi juga berniat merobohkan makam Nabi yang penuh ornamen, kalau saja tidak dihalangi wakil-wakil dunia Islam, sudah diketahui sejarah. Puncak puritanisme seperti itu tentu saja ada pada pemerintah Taliban almarhum.

Jadi, Muhammadiyah tak sendirian. Bahkan yang begitu juga berkembang di kalangan besar santri kampus sekarang ini. Sejalan dengan penolakan nyanyian Quran, sudah lebih dulu ormas warisan K.H.A. Dahlan ini, dan yang sejenis, menampik aneka lagu selawat Nabi dan puji-pujian (yang isinya semacam kultus) yang, khususnya dengan merajalelanya budaya mikrofon sekarang ini, menjadikan masjid benar-benar sumber teror dengan suara ingar-bingar. Dan kalau mereka menolak lagu-lagu agama, betapa lagi dengan lagu-lagu daerah. Dengan tembang dan gamelan. Dengan wayang, ketoprak dan tari-tarian. Dengan rebana maupun kuda kepang.

Dan dengan berbagai adat yang menyangkut inisiasi pribadi (tingkeban, misalnya, atau tedak siten, di Jawa) maupun yang sosial (nyadran, nglarung, dan seterusnya). Juga yang merupakan hasil akulturasi dengan Islam seperti macam-macam tahlil. Budaya makam, apa lagi makam "keramat", dijauhi: umat diberi tahu bahwa doa bisa diucapkan di rumah, sementara meminta-minta kepada kuburan berhukum syirik. Dan bersama dengan kuburan juga ditinggalkan dunia tarekat dan wirid-wirid. Lalu dunia magi, mulai dari jimat-jimatan sampai kebal-kebalan, keris-kerisan maupun celurit-celuritan. Habis. Bersih.

Agama menjadi simpel. Kemudian, diharapkan yang simpel itu dilaksanakan dengan intens, dan selebihnya kebahagiaan keberagamaan diajarkan dicapai lewat amal sosial. Maka inilah umat yang gampang sekali, dengan niat ibadah, digerakkan untuk penggalangan dana umum, khususnya bagi keperluan internal mereka sendiri, dan berbagai proyek sosial yang bisa mereka selesaikan di berbagai bidang agaknya susah ditandingi organisasi mana pun.

Tapi lalu mereka merasa kesepian, konon. Merasa mandek. Mereka bicara tentang "dakwah kultural". Mereka merasa diri mereka seolah hanya sebuah yayasan besar, yang toh ternyata hampir-hampir tak membawa perubahan peta setelah hampir seabad hadir di tengah bangsa: yang "menang", seperti yang kelihatan lewat pemilu, toh yang itu-itu juga, yang harusnya "sudah selesai mereka dakwahi". Haruskah ia membanting setir?

Muhammadiyah dan Taliban. Semua fungsionaris tahu bahwa itu tak mungkin, sepanjang tidak urung menyangkut pembongkaran fondasi pendirian organisasi ini sendiri. Pertanyaan pertama, misalnya: apakah semua yang tak dilakukan Nabi, dalam perkara di sekitar ibadah tapi bukan ibadah formal (mahdhah), memang haram kita lakukan? Ini antara lain menyangkut bentuk-bentuk yang bagi kalangan seperti NU merupakan "cara berdoa" (kaifiyatud du’a), tapi bagi Muhammadiyah merupakan pensyariatan baru. Dari sini juga bisa dimasalahkan kemungkinan pengambilan bentuk-bentuk budaya lokal dengan "isi Islam". Masalahnya, di luar permasalahan hukum, kalau itu tak urung berarti pengubahan sebuah masyarakat kerja--seperti yang dicita-citakan Muhammadiyah--menjadi masyarakat upacara, sudah bisa dijawab berapa besar taruhan yang harus diberikan organisasi yang maju ini.

Pertanyaan kedua: seberapa besarkah peluang ekspresi diri yang bisa diberikan kepada sebuah masyarakat yang diinginkan sehat? Tanpa pengakuan kepada hak manusia yang sebuah itu, lewat jalan yang kali ini bukan jalan ibadah formal agama (hanya bagian lebih kecil orang, di semua agama, yang betul-betul santri), yang kita perbuat akan tidak berbeda dari kebijakan yang diambil Taliban. Tapi bahwa Muhammadiyah sama sekali bukan Taliban juga antara lain karena para warganya hidup di masyarakat plural yang penuh warna-warni budaya. Mereka menonton film; bahkan, kalau ada, juga drama atau konser; atau lukisan; malah barangkali tarian. Bisakah kita bayangkan andai saja--tentu saja tidak--ormas ini merebut kekuasaaan dengan senjata, ya, dan memaksakan hukum-hukum dari Majlis Tarjih mereka?

Tidak, yang diperbuat Muhammadiyah selama ini bukan melarang segala macam seni. Mereka cuma tidak peduli. Ada untungnya. Masalahnya, andai banyak kasus dipertanyakan secara agama, jawabannya akan sama dengan yang diberikan untuk "hukum bermain drama" yang satu kali, dulu, pernah dibahas. Yakni, "ditangguhkan"--karena pembicaraan tidak mencapai kesepakatan.

Berarti, umat Muhammadiyah hidup dalam dua dunia. Mereka orang-orang modern yang dicetak Muhammadiyah, dan dibiarkan hidup di dunia modern yang bukan bikinan Muhammadiyah. Di situlah poinnya, kiranya, kalau pembicaraan masalah kultur diinginkan mendapat artinya. Bahkan sebelum dakwah.



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data