Juragan Baru Jalan Tol Malaysia Consortium, penawar yang disukai dalam tender jalan lingkar luar Jakarta (Jakarta outer ring road, JORR), belum tentu menang. Kemungkinan besar Torno yang akan tampil sebagai pemenang?
|
POSISI Malaysia Consortium dalam proyek jalan lingkar luar Jakarta sebenarnya sudah di atas angin. Dalam tender sebelumnya, konsorsium ini sudah tampil sebagai pemenang. Ketika tender ini harus diulang, Malaysia Consortium dinyatakan sebagai penawar yang disukai (preferred bidder) dan memperoleh beberapa keistimewaan. Namun, kekuatan Malaysia Consortium masih bisa digoyang pelamar lainnya. Bahkan, bisik-bisik di Kantor Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah santer meniupkan kabar bahwa Malaysia Consortium akan dikalahkan penawar dari Italia, Torno Internazionale SpA.
Proses tender memang sudah hampir tuntas. Dari empat peserta tender yang dinyatakan lolos prakualifikasi, tiga di antaranya sudah memasukkan penawarannya ke panitia tender. Ketiga investor itu adalah Malaysia Consortium (Malaysia), Gamuda Berhad (Malaysia), dan Torno Internazionale SpA (Italia). Jakarta Infrastructure Consortium (Indonesia) mengirim proposal ke tempat yang salah, yakni Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), sehingga dianggap batal. Kemungkinan besar Selasa pekan ini pemenangnya sudah diumumkan. Jika semuanya berjalan lancar, pemenang tender akan memulai pembangunan konstruksi awal tahun depan dan merampungkan proyeknya awal 2005.
Torno dikabarkan berhasil mengalahkan Malaysia Consortium karena mengajukan penawaran yang jauh lebih rendah. Perusahaan Italia ini mengajukan tarif Rp 340 per kilometer, sementara Malaysia Consortium Rp 500 per km. Sehingga, meski Konsorsium Malaysia mendapatkan keistimewaan dengan margin 10 persen, angka Torno pasti tak terkejar. Penawaran Torno juga masih lebih rendah dibandingkan dengan angka investasi yang dianggap layak sebesar Rp 350-370 per km dengan tingkat pengembalian investasi (internal rate return/IRR) 18 persen.
Masuknya Torno ke posisi teratas kabarnya karena dukungan sejumlah tokoh penting. "Ada juga pejabat di KKSK yang menjadi pendukung kuat Torno," kata sumber TEMPO di Kantor Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah. Langkah Torno bisa dibilang cukup spektakuler. Ketika tender pertama dibuka setahun lalu, Malaysia Consortium bisa dibilang sudah jadi pemenang karena mengajukan tarif Rp 500 per km sekaligus dana tunai Rp 1,2 triliun, Rp 800 miliar di antaranya untuk membeli tanah. Konsorsium ini juga bersedia tidak menaikkan tarif sampai 2003. Tapi, kemenangan konsorsium itu banyak meng-undang protes sehingga pemerintah kemudian mengadakan tender (right to match) dengan Malaysia Consortium sebagai penawar yang disukai.
Rupanya Torno menyalip di tikungan. Ketika pemerintahan berganti dari Abdurrahman Wahid ke Megawati, posisi Konsorsium Malaysia tiba-tiba melemah. Sebaliknya dengan Torno. Kendati demikian, sumber TEMPO lain yang dekat dengan panitia tender mencoba meyakinkan bahwa tak berarti Torno bakal memenangi tender. "Masih kita hitung apakah penawaran Torno layak. Jangan-jangan, setelah menang, belum genap setahun sudah mengibarkan bendera putih," katanya. Kalau itu yang terjadi, katanya, proyek ini bakal terkatung-katung lagi.
Kekhawatiran itu tak berlebihan. Sebelum kasus ini masuk ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), tiga konsorsium telah mulai menggarap proyek jalan sepanjang 46,85 km ini, yakni Marga Nurindo Bhakti, Citra Bhakti Margatama Persada, dan Citra Mataram Satriamarga Persada. Ketiganya mendapatkan pinjaman bank Rp 1,2 triliun. Ternyata, proyeknya macet dan utangnya pun membengkak sampai Rp 2,6 triliun. Kredit ini pun masuk ke BPPN. Kemudian, ketiga konsorsium menggugat pemerintah yang mencabut hak pengelolaan jalan tol. Tapi mereka kalah sehingga pemerintah sah mengadakan tender untuk mencari investor yang baru.
Runyamnya, mencari investor baru ternyata tidak mudah. Prosesnya pun ternyata berputar-putar sehingga pembangunannya molor lebih dari setahun. Sumber itu mengakui bahwa tidak mudah membuat keputusan karena urusan ini tak cuma melulu bisnis. "Muatan politiknya sangat kental," katanya. Dia bahkan mengatakan, panitia tender juga terlihat waswas ketika membuat analisis atas penawaran tender JORR. Maklumlah, nama-nama besar di percaturan politik level atas kerap disebut dalam berbagai rapat. Benarkah? Ketua Panitia Pengadaan Mitra Strategis Tender JORR, Djajat Sudradjat, menolak memberikan konfirmasinya.
Yang pasti, melihat reputasinya selama ini, tiga konsorsium yang kini masuk babak akhir memang bukan nama kosong. Torno, misalnya, sudah mulai berbisnis di sektor konstruksi sejak 80 tahun silam. Perusahaan ini menggarap sejumlah proyek jalan, bendungan, sampai pelabuhan di Eropa, Afrika, dan Amerika. Beberapa proyek yang digarapnya antara lain pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sichuan, Cina, senilai lebih dari US$ 500 juta (Rp 5 triliun), dan PLTA Yacyreta, Argentina-Paraguay, senilai US$ 1,5 miliar. Sementara itu, Gamuda dan Konsorsium Malaysia juga punya pengalaman yang cukup di bisnis jalan tol.
M. Taufiqurohman, Agus Riyanto, Rommy Fibri
|