Marxisme Tak Mampir di Tapanuli Sebuah buku penelitian Lance Castles yang berbicara tentang kehidupan politik di Tapanuli. Baru diterjemahkan setelah tiga dasawarsa, tetapi tetap penting.
|
Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940
Judul Asli : The Political Life of A Sumateran Residency: Tapanuli 1915-1940
Penulis : Lance Castles
Penerjemah : Maurits Simatupang
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, November 2001
BAHKAN penelitian pun berpusat di Jawa. Historiografi Indonesia, terutama menyangkut tema-tema politik pada masa pergerakan nasional (tahun 1900-an hingga 1942), identik dengan dinamika politik—kepartaian, perburuhan, pemogokan, media massa, tokoh, dan seterusnya—di Jawa. Kesan Jawa-sentris ini bisa ditemukan pada berbagai karya ilmiah sejarah—tesis, disertasi (yang lalu dibukukan), artikel, dan buku. Bisa disebutkan beberapa contoh, misalnya pada karya-karya John Ingleson, In Search of Justice (1986), yang berbicara tentang politik perburuhan; Savitri Prastiti Scherer melalui Harmony and Dissonance: Early Thought in Java (1975), yang bertutur tentang sejarah pemikiran tokoh politik pergerakan; atau yang fenomenal pada karya Takashi Shiraisi, An Age in Motion: Popular Radicalism in Java 1912-1926 (1990), yang berkisah tentang tumbuhnya politik radikalisasi kaum pergerakan di Jawa. Lalu, Ruth McVey, The Rise of Indonesian Communism (1965), tentang pertumbuhan ideologi komunisme di Indonesia—tapi dengan sebagian besar uraian mengambil setting di Jawa.
Hampir semua karya sejarah tersebut berfokus di Jawa, dan menempatkan pencerahan (aufklarung) yang dialami kaum pergerakan bumiputra Hindia seolah-olah hanya terjadi di Jawa. Makanya, berbarengan dengan lahirnya karya-karya yang menggambarkan tumbuhnya proses kesadaran politik di tanah Jawa, muncul pula studi sejarah yang merekonstruksi tentang asal-usul diserapnya para bumiputra terdidik dan kaum pangreh praja ke dalam struktur pemerintah kolonial.
Dari sedikit peneliti sejarah yang mengabaikan kebiasaan ini adalah Lance Castles, seorang sejarawan berkebangsaan Australia, yang melakukan terobosan mengambil tema disertasinya berupa periode pergerakan di luar Jawa, dengan judul The Political Life of a Sumateran Residency: Tapanuli 1915-1940. Disertasi yang bisa dipertahankannya pada tahun 1972 di Universitas Yale itu baru diterjemahkan untuk dibukukan ke dalam edisi Indonesia hampir 30 tahun kemudian.
Dalam disertasinya yang dibukukan ini, Lance Castles menguraikan dua pendekatan penting, yaitu dinamika politik—interaksi kaum kolonialis dengan kaum nasionalis pergerakan dan aktivis partai atau ormas pada umumnya, ataupun interaksi antarfaksi-faksi kaum pergerakan atau aktivis partai bumiputra—serta juga dinamika dari transformasi birokrasi di Keresidenan Tapanuli.
Kekuatan masyarakat Batak yang direfleksikan di dalam adat dan agama menjadi entry point bagi Castles untuk menjelaskan dinamika politik dan birokrasi yang terjadi. Dalam kasus di Jawa, dinamika lebih menonjol pada wataknya yang sekuler, seperti misalnya dalam menjelaskan kronologi perpecahan di tubuh Sarekat Islam, ataupun politik bahasa dalam menjelaskan kebangkitan prinsip-prinsip egalitarian di perkumpulan Jawadwipa.
Meskipun studi Lance Castles ini dinilai telah membuka jalan bagi studi selanjutnya tentang politisasi adat dan perkembangan cabang sejarah regional, ada beberapa aspek yang sebenarnya menarik untuk dieksplorasi dari kehidupan politik di Tapanuli yang belum terjawab tuntas.
Pertama, muncul pertanyaan mengapa—tidak seperti di Jawa— kecenderungan radikalisasi politik yang diinspirasikan oleh aliran pemikiran Marxisme tidak muncul di Tapanuli. Dua aliran politik yang tumbuh dan berkembang di sana adalah nasionalisme dan agama. Radikalisasi buruh perkebunan hanya terjadi di Sumatra Utara bagian timur, seperti pada peristiwa Tanjungmorawa.
Tampaknya perkembangan masyarakat—struktur sosial-ekonomi dan struktur sosial-politik—di Tapanuli berbeda dengan di Jawa, disebabkan oleh policy pembangunan infrastruktur dan suprastruktur yang didesain pemerintah kolonial. Di Jawa, ada prakondisi yang bisa menyuburkan aliran pemikiran Marxisme sejak awak abad ke-20: industrialisasi (lahirnya kelas buruh dan kelas pemilik modal), pendidikan modern (lahirnya kelas borjuis kecil), juga sarana-prasarana pendukung lainnya yang berkembang pesat sebagai prasyarat terjadinya mobilitas sosial, seperti transportasi dan media massa. Sedangkan di Tapanuli, meskipun pendidikan mo-dern juga diperkenalkan, masyarakat berkembang atas logika masyarakat pertanian dan per-kebunan.
Mengapa radikalisasi ini tidak tumbuh di Tapanuli, sementara sejarah mencatat adanya be-berapa pemuda Batak di Jawa yang menjadi aktivis—bahkan di posisi puncak—sebagai elite partai beraliran sosialisme, seperti Amir Sjarifuddin, Peris Pardede, dan Ajitorop Simanjuntak? Sesuatu yang bisa dimaklumi. Karena di dalam kognisi setiap orang sudah terbiasa melekatkan studi sejarah politik dengan Marxisme, jadinya agak aneh sebuah studi politik tanpa sedikit pun menyinggung-nyinggung tentang sejauh mana para pengikut aliran Marxisme di Tapanuli merefleksikan dirinya. Dan hal ini bisa dilihat pada indeks buku ini dengan tidak adanya satu pun istilah atau kosakata Marxisme dan sejenisnya yang muncul pada semua bagian buku.
Kedua, kita sampai pada pemahaman bahwa bentuk-bentuk aktivitas politik yang dimaksudkan Lance Castles—bukan sebagaimana imajinasi perpolitikan di Jawa masa per-gerakan nasional—menyangkut juga reformasi di lembaga adat dan agama, dalam kaitan tarik-menarik kepentingan untuk "merebut pengaruh dukungan" dari pemerintah kolonial.
Dari segi isi, harus diakui bahwa buku ini jelas memberi kontribusi yang positif bagi perkembangan kajian ilmu sejarah, karena merupakan "buku pertama dan satu-satunya tentang perubahan Tapanuli akibat kolonialisme yang ditulis berdasarkan penelitian", dan "…tidaklah mungkin kita memahami masyarakat Tapanuli dewasa ini tanpa terlebih dahulu mengerti sosok kekuasaan penjajah", sebagaimana tertulis pada kulit belakang buku.
Pada sisi lain, bisa dipahami mengapa buku yang diterjemahkan dari disertasi ini baru bisa diluncurkan hampir tiga dasawarsa kemudian. Ini pun tak lepas dari upaya dan jerih payah almarhum Herberth Feith, yang lintang-pukang mencari donasi untuk penerbitannya, dari proses penerjemahan hingga ke per-cetakan. Kesulitan atas penerjemahan dan pemahaman berbagai istilah atau kosakata bahasa Batak yang digunakan tentu membutuhkan seorang penerjemah yang menguasai bahasa Inggris dan bahasa Batak dengan baik. Dan beruntung bahwa penerjemahnya adalah linguis yang guru besar FSUI, Maurits Simatupang—sahabat Herb Feith dan Lance Castles.
Togi Simanjuntak—sejarawan, peneliti Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta
|