Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXX/21 - 27 Januari 2002
   
Pendidikan

Resep Guru Durori

Seorang guru desa membuat alat peraga untuk menggairahkan minat belajar murid. Karyanya diakui di tingkat nasional, murid pun sukses.

Pelajaran baru akan dimulai sejam lagi. Namun, Senin pekan lalu itu siswa kelas enam Sekolah Dasar Negeri Kecila II di Banyumas, Jawa Tengah, sudah berdatangan. Tas masih menjadi barang mewah bagi anak-anak petani itu. Kebanyakan buku tulis mereka jinjing telanjang, masih lumayan kalau ada yang membawanya dalam tas plastik. Adapun baju putih mereka sudah kehilangan sinarnya.

Satu per satu siswa mengabsen diri sendiri berdasarkan urutan kedatangan. Kemudian mereka mengambil dan membaca guntingan koran yang tersedia di meja guru. Karena jumlahnya terbatas, siapa cepat dia yang dapat. Salah seorang siswa mendapat guntingan berita susunan kabinet baru Presiden Megawati. Bisa jadi, hari itu pelajaran akan membahas pengetahuan umum atau pendidikan kewarga-negaraan.

Pelajaran dimulai tepat pukul tujuh. Permainan berikutnya dimulai. Mohammad Durori, 36 tahun, guru kelas enam, memberi kesempatan siswa yang datang paling pagi memberi pertanyaan kepada siswa di nomor urut kedua. Pertanyaannya seputar pelajaran yang diberikan hari sebelumnya. Setelah berhasil menjawab pertanyaan itu, siswa kedua ini memberi pertanyaan lain ke siswa yang datang ketiga. Begitu seterusnya hingga siswa yang paling buntut datangnya, siswa ke-30, kehilangan haknya untuk bertanya. Setelah itu, pelajaran dimulai seperti biasa.

Siswa kelas enam sekolah itu memang punya cara sendiri dalam belajar. Durori, guru kelas itu, menciptakan sistem belajar tersebut dan memberinya nama Metode Belajar Mandiri (MBM). Pekan lalu, sepuluh guru dari Kecamatan Kroya di Cilacap, Jawa Tengah, datang ke sekolahnya. Mereka melihat langsung penerapan cara belajar itu kepada siswa dan bermaksud menirunya.

Selain mendapat pengakuan dari sekolah lain, metode belajar karya Durori ini juga mendapat penghargaan tingkat nasional. Akhir November lalu dia menang dalam lomba "Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran Tingkat Nasional 2001" tingkat sekolah dasar oleh Departemen Pendidikan Nasional. Sebagai juara, Durori berhak membawa pulang hadiah Rp 11 juta setelah dipotong pajak.

Durori memang membuktikan cara belajar yang dipakai itu berhasil meningkatkan kemampuan siswa. Nilai ebtanas murni siswanya terus meningkat. Sebelum dia memakai metode itu, siswa yang berhasil meraih nilai di atas 30 (rata-rata 6) kurang dari separuh. Namun, setelah resep itu dicoba dua tahun lalu, jumlah pengumpul nilai 30 melonjak menjadi 80 persen dan tahun lalu bertambah 13 persen lagi.

Berbeda dengan prestasi yang sudah dibuatnya, kehidupan Durori sangatlah sederhana. Hingga kini pria yang sudah 16 tahun menjadi guru itu masih tinggal di gudang sebesar garasi mobil milik sekolah, yang disulapnya menjadi rumah. "Saya bersihkan gudang ini untuk tinggal anak dan istri saya, daripada tak terpakai," kata Durori.

Pria asli Banyumas itu menyelesaikan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Terbuka Purwokerto, tiga tahun lalu. Saat itu dia masih mengajar dengan cara kuno untuk menyelesaikan beban kurikulum. Namun semua berubah setelah tiga tahun lalu sekolahnya menjadi proyek percontohan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dari Unicef dan Unesco (dua lembaga PBB untuk anak-anak dan pendidikan). Guru-guru mendapat pelatihan motivasi mengajar dengan alat peraga bermodel permainan.

Sebagai guru kelas enam, Durori sempat menolak membuat alat peraga. "Kalau bermain terus, kapan belajarnya?" sanggahnya waktu itu. Dia punya beban berat mempersiapkan anak didiknya menghadapi ebtanas. Dia berubah pikiran setelah mendapat penjelasan seorang konsultan dari Jepang, cara mengajak murid memandang belajar sebagai kebutuhan seperti halnya makan.

Durori kemudian memulainya dengan alat peraga yang disebutnya Kotak Pos Mandiri, terbuat dari bekas bungkus rokok. Bungkus rokok itu diisi soal sekaligus jawabannya. Siswa menukarkan kotak itu dengan kotak lain milik temannya. Ternyata murid-murid menerima cara ini dengan bersemangat. Sambil berjalan, dia terus mengembangkan alat peraganya hingga berjumlah 13. Setelah mempraktekkannya selama dua tahun, dia berhasil menggenjot semangat belajar muridnya.

Menurut Dr. Tukiman Taruno, project officer MBS wilayah Jawa Tengah, Durori telah menjalani tahap yang tepat sebelum menerima program ini. "Semula dia menolak, kemudian mencoba, dan akhirnya merasakan hasilnya," kata Tukiman, yang sempat bersitegang dengan Durori. Tukiman melihat alat peraga itu bisa dipakai di mana saja, karena memakai perkakas seadanya.

Selain itu, Durori berhasil membuat suasana belajar lebih menyenangkan. Siswa secara aktif terpacu belajar meski di saat luang. "Risikonya, saat istirahat, murid menjadi kurang bermain," kata Tukiman. Nah.

Agung Rulianto dan Ecep S. Yasa (Banyumas)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data