Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXX/21 - 27 Januari 2002
   
Olahraga

Menanti Rekor Pecah

Pecatur Ukraina, Ruslan Ponomariov, berpeluang memecahkan rekor menjadi juara dunia termuda.

KOTA Moskwa masih beku. Namun, suasana di sebuah ruangan di Hotel Metropol justru terasa sebaliknya. Di atas meja, pecatur asal Ukraina, Vassily Ivanchuk, menjambaki rambutnya sendiri. Sebuah langkah blunder di-ambilnya. Melihat kebodohan itu, Ruslan Ponomariov, yang juga asal Ukraina, langsung menggasak.

Dengan taktis, hanya dalam 23 langkah, Ponomariov berhasil mengakhiri perlawanan Ivanchuk. ?Ah, Ivanchuk cuma gugup, kok. Seharusnya dia bermain lebih efektif dalam pertandingan ini,? ujar Ponomariov sumringah mengomentari permainan seniornya itu.

Kemenangan dalam game pertama ini memang mengejutkan. Pasalnya, Ivanchuk bukanlah pecatur sembarangan. Dia termasuk pecatur berbakat dengan teknik terbilang mumpuni. Buktinya, sebelum lolos ke final, pecatur yang akrab disapa ?Chucky? ini berhasil menggulingkan juara bertahan Viswanathan Anand dari India dengan skor 2,5-1,5.

Di atas papan catur, segala kemungkinan bisa terjadi. Seperti halnya kehadiran sosok Ruslan Ponomariov. Pecatur yang sebetulnya masih junior ini?baru berusia 18 tahun?ternyata mampu nyelonong sampai babak final. Ia berhasil mengungguli para seniornya.

Pertandingan final yang digelar sejak Rabu pekan silam dan akan berakhir Kamis besok di Moskwa itu merupakan puncak dari rentetan pertarungan yang digelar Desember lalu di Kremlin. Saat itu, sebanyak 128 pecatur terbaik dari berbagai negara bertempur dengan sistem gugur untuk berebut tempat di final dalam kejuaraan yang berhadiah duit US$ 750 ribu itu.

Memang, sejak 1997, Federasi Catur Internasional (FIDE) mengubah format kejuaraan dunia. Sebelumnya, kejuaraan ini menggunakan sistem penantang yang diadu dengan juara bertahan. Sejak empat tahun lalu, sistem yang digunakan FIDE mirip dengan kejuaraan dunia olahraga lainnya.

Sebelumnya, para pecatur mengikuti babak penyisihan di zona masing-masing. Selanjutnya, mereka bertanding dengan sistem gugur untuk mencari dua finalis. Nah, dengan format seperti itulah pecatur junior macam Ponomariov bisa masuk babak penyisihan, bahkan sampai babak final.

Meski demikian, melajunya Ponomariov ke babak final tetap saja menggegerkan. Pasalnya, jarang terjadi seorang pecatur yang masih ingusan bisa tampil konsisten dan mengalahkan para seniornya. Dengan tampil di babak final, kini ia berpeluang mencetak rekor baru: juara dunia termuda, menggusur rekor yang dipegang Garry Kasparov, yang berhasil menjadi juara dunia pada usia 22 tahun.

Toh, jalan hidup Ponomariov tidak seindah dalam dongeng. Semua itu merupakan buah dari kerja keras dan keseriusannya. ?Lihat saja, tampangnya lebih tua dari umurnya,? kata Grandmaster (GM) Utut Adianto. Ponomariov memulai karirnya pada usia tujuh tahun, saat diperkenalkan orang tuanya dengan permainan catur. Dasar bakatnya bagus, prestasinya langsung berkilap. Saat berumur 10 tahun, ia berhasil menjadi juara ketiga dalam kejuaraan dunia catur tingkat junior.

Kehebatan Ponomariov itulah yang sempat terlihat GM Alexander Baburin, salah satu pemain catur tingkat dunia. Saat pertama kali melihatnya tujuh tahun silam, Baburin meng-aku sangat terkesan dengan keseriusan dan kengototan bocah berusia 11 tahun itu. ?Saya pikir dia akan menjadi pecatur tangguh dalam waktu singkat,? katanya waktu itu. Eh, betul saja. Tiga tahun berselang, Ponomariov meraup gelar grandmaster sekaligus menjadi GM termuda saat itu.

Jalan selanjutnya pun terbuka lebar. Namanya terdaftar sebagai anggota tim Ukraina dalam Olimpiade Catur pada 1998, meski tak mengantongi gelar. Dua tahun lalu, dalam usia 16 tahun, dia menduduki peringkat puncak untuk kelas junior dunia. Puncaknya, ya, akhir tahun lalu, saat dia mengalahkan pecatur-pecatur senior dan melenggang ke babak final kejuaraan dunia. Prestasi itu pula yang kemudian melambungkannya ke peringkat tujuh federasi catur dunia dengan Elo rating 2727. Di negerinya sendiri, saat ini ia merupakan pecatur nomor satu.

Deretan prestasi ini menjadi bekal untuk meraih ambisinya: menjadi juara dunia senior. Mampukah? GM Utut Adianto melihat Ponomariov berpeluang memenangi pertarungan delapan babak ini. Pasalnya, menurut pengamatannya, Ivanchuk tergolong pecatur yang eksentrik yang permainannya amat bergantung pada mood-nya. ?Meski secara teknis ia bagus, kalau tidak dalam keadaan yang enak, permainannya bisa sangat buruk,? kata Utut. Dalam keadaan seperti itu, jika dalam pertandingan pertama bermain buruk, biasanya ia akan sulit lepas dari kondisi itu.

Sebaliknya Ponomariov. Menurut Utut, walaupun secara teknis masih di bawah lawannya, remaja ini secara mental lebih stabil. ?Saya lihat dia memiliki peluang untuk menjadi juara,? katanya. Dan bidak-bidak catur akan menjadi saksi terciptanya sebuah rekor baru.

Irfan Budiman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data