Zainuddin M.Z.: "Jalur Islah Belum Tertutup" |
K.H. Zainuddin Hamidy Turmudzy, 49 tahun, baru bangun tidur Sabtu sore pekan lalu, se-telah hampir seharian beristirahat. Kesibuk-annya mempersiapkan kepeng-urusan PPP Reformasi telah menguras energinya. Apalagi bekas juru kampanye andal partai berlambang Ka'bah ini kandidat terkuat meraih kursi ketua umum partai baru itu. Toh, bekas pengurus teras PPP itu masih bersedia menerima Dwi Wiyana dari TEMPO untuk sebuah wawancara di kediamannya, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Petikannya:
Mengapa deklarasi PPP Reformasi dipercepat?
Itu cuma karena adanya desakan dari daerah. Dan seperti layaknya hari-hari orang sebelum melahirkan, kan, sangat riskan. Perut mulas, tidur serba salah, dan sebagainya. Tak ada pertimbangan lain, kecuali teknis.
Bukankah pertemuan kader PPP di Grobogan mengisyaratkan bahwa rapat pimpinan nasional masih bisa diadakan 1-2 bulan lagi supaya terjadi rekonsiliasi?
He-he-he?. Saya bersyukur dengan upaya teman-teman seperti itu. Tapi, secara formal, saya kan sudah keluar dari jajaran DPP PPP. Sekarang saya akan berkonsentrasi pada kelahiran si bayi PPP Reformasi. Dan sosialisasinya nanti, kami akan lebih menekankan pada reformasinya, bukan pada PPP.
Jadi, setelah PPP Reformasi lahir, rekonsiliasi atau islah tak perlu ada?
Sangat perlu! Cuma, formatnya bagaimana. Selama ini kan teman-teman teriak islah, tapi substansi permasalahan, bentuk, dan solusinya seperti apa belum jelas benar. Jadi, dalam hal ini, tidak sekadar ketemu dan salaman, lalu selesai urusan. Itu kan sangat formalistik. Yang kita lihat sekarang, ada upaya melarikan persoalan dari substansinya. Lalu lahir pemikiran-pemikiran yang disampaikan dengan bahasa kekuasaan, misalnya perintah menurunkan gambar-gambar saya di Jawa Tengah. Itu sangat tidak cantik. Ironis, mereka selama ini berteriak tentang akhlaqul kharimah, tapi berbuat begitu.
Andai kata Hamzah Haz menawarkan rekonsiliasi dengan memajukan lagi muktamar PPP ke tahun 2003, bagaimana?
Akan kami jajaki pada teman-teman. Bukan mustahil kami akan melaksanakan muktamar bersama. Buat saya, keutuhan umat lebih penting daripada sekadar saya jadi apa. Jadi, jalur islah sama sekali belum tertutup.
Mengapa Anda masih menggunakan nama PPP dan bukan sesuatu yang baru, misalnya Partai Sejuta Umat?
Sudah saya sampaikan kepada teman-teman untuk memikirkan kembali penggunaan nama PPP. Pertama, bagaimanapun, opini sudah terbangun. Kedua, aset PPP itu cuma 12 persen suara dalam pemilu. Nah, kita tak akan bergumul di situ. Ketiga, saya khawatir apa yang kami bicarakan secara rasional di sini akan dibicarakan secara emosional di daerah. Dan itu akan menjadi peluang timbulnya konflik-konflik yang mengarah kepada fisik. Sedapat mungkin jangan ada darah menetes karena visi dan misi kita (dengan PPP) sama.
Ada yang menuduh Anda calon presiden tanpa keringat, pahlawan kesiangan, dan cuma berambisi menjadi ketua umum. Komentar Anda?
Saya melihat hal itu sebagai bagian pemikiran konservatif yang memang kental di DPP PPP. Dan itu merupakan bagian dari pembusukan yang mereka lakukan (terhadap saya). Sebenarnya, substansi persoalannya adalah saya sangat concern dengan demokratisasi dan keadilan. Dalam urusan ini, yang mencuat ke permukaan adalah ditundanya muktamar PPP (menjadi tahun 2004). Substansinya di situ, bukan pada keinginan untuk menjadi ketua umum, ambisi, emosi, dan sebagainya. Saya juga sudah berkeringat untuk partai ketika menjadi juru kampanye pada 1977 dan 1982. Dan itu saya lakukan tanpa keterikatan struktural: saya bukan calon ataupun pengurus.
|