Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXX/21 - 27 Januari 2002
   
Nasional

Matori Mengincar Luar Jawa

LENGKAP sudah perlawanan Matori Abdul Djalil terhadap Abdurrahman Wahid, sang mentor yang dulu memintanya menjadi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sepekan sebelum PKB yang direstui Abdurrahman menyelenggarakan muktamar di Yogyakarta, Matori menyelesaikan muktamar PKB versinya sendiri dengan mulus di Jakarta. Mulus sesuai dengan yang dikehendakinya. Muktamar Jakarta mengukuhkannya sebagai ketua umum hingga 2005 dan menegaskan simbol perlawanan totalnya terhadap PKB versi Abdurrahman, yang telah memecatnya.

Matori tidak menyerah meski muktamar itu diselenggarakan tanpa restu ulama-ulama berpengaruh Kiai Langitan dan tanpa kehadiran pejabat pemerintahan Megawati Sukarnoputri.

Menghabiskan dana sekitar Rp 3 miliar, muktamar Jakarta dihadiri 1.500 utusan daerah PKB yang terbelah?mereka datang atas nama 29 dewan pengurus wilayah (tingkat provinsi) dan 313 dewan pengurus cabang (tingkat kabupaten) seluruh Indonesia. Tak semua kiai Nahdlatul Ulama menjauhinya. Hadir dalam muktamar itu antara lain Kiai Haji Imam Yahya Machrus dan Falahuddin Machrus An'im dari Pondok Pesantren Lirboyo (Kediri), Dimyati Rois (Kaliwungu, Semarang), serta Machfud Ridwan (Semarang). Achmad Sujudi, Menteri Kesehatan dalam kabinet Megawati, hadir pula di situ, tapi kepada TEMPO mengatakan datang atas nama pribadi.

Muktamar versi Matori menegaskan kembali pengakuannya terhadap keabsahan Sidang Istimewa MPR tahun lalu, sekaligus mengakui pemerintahan Megawati. Ini tak mengherankan. Matori, Menteri Pertahanan dalam kabinet Megawati kini, dipecat oleh para pendukung Abdurrahman karena "pengkhianatan"-nya itu. Muktamar Jakarta itu juga sekaligus menyatakan bahwa PKB tandingan, yang bersidang di Yogyakarta, tidak sah.

Muktamar Jakarta menawarkan beberapa posisi dalam kepengurusan partai kepada "orang-orang Kuningan"?sebutan bagi PKB yang direstui Abdurrahman?tapi dengan syarat hanya jika mereka mengakui kepemimpinan Matori. Hanya dengan itu upaya rekonsiliasi bisa dilakukan. Jika tidak? "Biar konflik diselesaikan lewat pengadilan," kata Matori.

"Selepas muktamar ini, kita akan melakukan konsolidasi," kata Abdul Khaliq Ahmad, Sekretaris Jenderal PKB versi Jakarta. Langkahnya? Kepengurusan partai di daerah yang solid (kompak setia kepada Matori), seperti di Bengkulu, Sumatra Selatan, akan segera dikukuhkan. Sedangkan di daerah konflik, kepengurusan sementara akan dijalankan oleh sebuah forum permusyawaratan.

Muktamar Jakarta juga menyatakan siap bertanding dalam Pemilihan Umum 2004 mendatang. Abdul Khaliq tidak risau dengan perolehan suara partainya meski dia tahu PKB yang direstui Abdurrahman hampir bisa dipastikan akan menguasai suara di Jawa. PKB Matori akan memfokuskan diri pada suara luar Jawa.

Meski luar Jawa hanya menyumbangkan 30 persen suara bagi PKB dalam pemilu lalu, Abdul Khaliq yakin, luar Jawa akan mendatangkan lebih banyak kursi walau dengan lebih sedikit suara (berdasarkan sistem representasi, 280 ribu suara pemilih di Jawa hanya akan dihargai dengan satu kursi, tapi di luar Jawa dihargai 3-5 kursi). "Jika target itu tercapai, perimbangan politik Jawa dan luar Jawa bakal bisa dicapai," kata Abdul Khaliq.

Daud Nadjuri, Ketua Wilayah PKB versi Matori di Sumatra Selatan, lebih optimistis. "Pada pemilu mendatang, di daerah ini, kami yakin bisa meraih suara dua kali lebih banyak dibanding yang lalu," katanya. Nadjuri menangkap kesan ketidaksukaan publik setempat terhadap sepak terjang Abdurrahman Wahid, yang dinilai sering tidak konsisten antara kata dan perbuatan. "Kondisi itu menguntungkan kita," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Abdul Ghaffar, Ketua Cabang PKB versi Matori di Ulusungai Selatan, Kalimantan Selatan. Dia bertekad akan menampung 70 persen bekas pengurus yang ditendang oleh PKB versi Abdurrahman Wahid.

Bahkan, di Jawa pun, Sekjen Abdul Khaliq tetap yakin bisa menyabet suara. Tiadanya dukungan Kiai Langitan tak membuatnya gentar. "Kuncinya terletak pada kemampuan partai untuk memelihara dukungan akar rumput," katanya, "Kami akan mengelola partai lebih profesional serta melakukan pembinaan ke daerah dengan menerjunkan kader-kader yang paham betul dengan daerahnya."

Begitulah. Perang dua PKB bakal kian seru dalam pemilu mendatang.

Dwi Wiyana


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data