Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXX/21 - 27 Januari 2002
   
Monitor

Megap-Megap di Dalam Riak

Publik sulit menolerir kenaikan harga bahan bakar minyak. Tapi yang lebih mereka khawatirkan adalah efek dominonya.

Aksi massa merebak ketika harga bahan bakar minyak (BBM) akhirnya dinaik-kan pemerintah Rabu pekan lalu. Di Makassar, puluhan ban bekas dibakar mahasiswa di depan kampus Institut Agama Islam Negeri Alauddin. Tak hanya mengkritik kebijakan pemerintah itu, sebagian massa juga meminta Presiden Megawati mundur. Di Surabaya, selain memenuhi jalan-jalan, para demonstran menyandera sebuah pom bensin karena menaikkan harga di luar ketentuan. Memang, tak sampai seriuh demonstrasi menurunkan Soeharto. Tapi, dalam parau suara mahasiswa yang berteriak, tersimpan kekecewaan yang dalam.

Sejatinya, kenaikan harga BBM sudah tak bisa dihindari lagi. Dalam kondisi keuangan negara yang kian tipis, subsidi bahan bakar sulit dipertahankan. Dana Moneter Internasional (IMF), lembaga pemberi donor kepada Indonesia, dalam berbagai versi rekomendasinya telah meminta pengurangan dan penghapusan subsidi bahan bakar ini.

Tapi setiap kebijakan punya konsekuensi. Demonstrasi menentang pemerintah pekan lalu hanya sebagian di antaranya. Bagi publik—seperti tecermin dalam jajak pendapat ini—kenaikan harga minyak hingga 22 persen memang bermasalah. Mereka bisa menolerir kenaikan maksimal 10 persen. Lebih dari itu, mereka menjerit.

Soal lain adalah efek domino dari kenaikan tersebut. Selain membubungnya harga barang, kelangkaan bahan bakar sebelum dan setelah kenaikan dirasakan telah menyempitkan hidup publik yang sudah mepet. Ketika minyak tanah menghilang dari pasar beberapa pekan lalu, di beberapa tempat penduduk mesti antre hingga delapan jam untuk memperoleh minyak. Sebelumnya, Jakarta pernah "kacau" karena mendadak solar menghilang dari depot-depot penjualan.

Konsekuensi kenaikan harga minyak inilah yang tampaknya kurang diantisipasi pemerintah. Penimbunan bahan bakar menjelang kenaikan harga tidak secara serius ditindak. Ada memang beberapa operasi polisi menangkap para penimbun, tapi tak pernah ada langkah sistematis untuk membuat penimbunan bahan bakar lenyap sama sekali. Di Makassar, sejumlah mahasiswa yang berdemonstrasi malah mencurigai polisi terlibat dalam penimbunan karena melepas seorang tersangka.

Dengan fakta ini, kenaikan bahan bakar minyak membuat publik dua kali terimpit. Satu, oleh kenaikan harga itu sendiri, kedua oleh membubungnya harga barang kebutuhan lain. Buat pemerintah ini adalah kebijakan yang moderat. Jika harga BBM dinaikkan lebih mahal, pemerintahan Megawati bakal kehilangan popularitasnya. Situasi jadi serba salah.

Dalam usia krisis Indonesia yang hampir empat tahun, gejolak akibat kenaikan harga bahan bakar mungkin hanya riak kecil di tengah gelombang persoalan lain yang lebih besar, mulai dari utang luar negeri hingga kelangkaan pangan. Tapi dalam riak itulah publik kini hidup megap-megap.

Arif Zulkifli




Dalam kehidupan sehari-hari, apakah Anda membutuhkan jenis BBM berikut ini?
Jenis BBMYaTidak
Minyak tanah77,73%22,27%
Gas54,88%45,12%
Bensin47,66%52,34%
Solar12,11%87,89%
 
Selama ini, apakah Anda dan/atau keluarga pernah mengalami kelangkaan bahan bakar tersebut? (Sulit mendapatkan BBM)
Jenis BBMYaTidak
Minyak tanah55,78%44,22%
Gas20,28%79,72%
Bensin41,80%58,20%
Solar66,13%33,87%
 
Bagi yang pernah mengalami kelangkaan BBM, apakah hal itu mengganggu Anda?
Jenis BBMSangat
mengganggu
Agak
mengganggu
Tidak
sama sekali
Minyak tanah84,68%13,96%1,35%
Gas73,68%73,68%24,56%
Bensin83,33%16,67%0%
Solar87,80%12,20%0%
 

Ketika BBM langka, apa yang Anda lakukan? (Bagi yang belum pernah mengalami kelangkaan BBM, jika Anda mengalaminya, apa yang Anda akan lakukan)*
Memaksakan diri membeli meski harus antre berjam-jam.44,92%
Mengganti dengan BBM lain yang ada/lebih murah (misalnya gas untuk masak diganti minyak tanah, mobil berbahan bakar solar diganti bensin.)41,21%
Menyetop kegiatan yang membutuhkan bahan bakar tersebut  (berhenti memasak, mengganti mobil pribadi dengan mobil umum, dan lain-lain.)27,15%
Pinjam dari kawan/tetangga.12,30%
Hemat pemakaian1,37%
Menyetok BBM tersebut terlebih dahulu1,37%
 
Sebelum terjadi kenaikan harga, apakah harga BBM masih wajar dan terjangkau?
Ya61,91%
Tidak38,09%
 
Jika harus naik, berapa persen harga yang Anda anggap wajar?
5-10%95,31%
11-20%4,10%
21-30%0,59%
Di atas 30%0%
 

Metodologi jajak pendapat :



  • Jajak pendapat ini dilakukan oleh Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Data dikumpulkan dari 512 responden di lima wilayah DKI pada tanggal 12-16 Januari 2002. Dengan menggunakan ukuran sampel tersebut, estimasi terhadap nilai parameter mempunyai margin error 5 persen. Survei dilakukan dengan metode multisampel acak bertingkat, dengan unit analisis kelurahan dan rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan dengan cara tatap muka dan melalui telepon.

    Independent Market
    Research


    Tel: 5711740-41, 5703844-45 Fax: 5704974


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data