Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXX/21 - 27 Januari 2002
   
Kriminalitas

Setelah Sandiwara Kehilangan Suami

Seorang pengusaha Malaysia, Boo Nga Sing, diduga tewas dihabisi oleh pembunuh bayaran. Apa motif istrinya yang mendalangi pembunuhan sadistis itu?

TAK gampang mengarungi bahtera rumah tangga selama 20 tahun. Dan buat Sri Sutarti, 47 tahun, rupanya masa tahunan yang panjang itu merupakan siksaan berat. Dia mengaku terus-menerus dikasari, bahkan disiksa, oleh suaminya, Boo Nga Sing, 51 tahun. Wanita itu akhirnya gelap mata. Menurut Kepolisian Resor Bogor, Jawa Barat, Senin pekan lalu, Sri diduga mendalangi pembunuhan sang suami.

Tentu Sri tak sendirian melakoninya. Dia mengutarakan rencana jahat itu kepada kenalannya, Masmun. Orang inilah yang kemudian menghubungi pelaku lain, Bajang. Dari Bajang lantas dihimpun enam calon eksekutor. Tiga di antara calon pembunuh ini bukan orang sembarangan. Mereka adalah anggota Kepolisian Resor Jakarta Timur, seorang anggota Kopassus, serta seorang bekas tentara. Untuk kedelapan pelaku, Sri menjanjikan imbalan Rp 215 juta.

Segera mereka menyusun skenario pembunuhan di rumah Sri, di lingkungan pabrik garmen PT Malatex International Indonesia, di daerah Cileungsi, Bogor. Rencana pun dimatangkan. Boo, pengusaha Malaysia yang juga menjadi Direktur Teknik PT Malatex, akan dieksekusi pada 2 Desember 2001. Saat itu, sesuai dengan informasi dari sang istri, Boo sedang dalam perjalanan pulang dari Bandung.

Pada hari kejadian, mobil Panther yang ditumpangi Boo Nga Sing sedang melewati kawasan Puncak. Tiba-tiba mobil itu diserempet mobil komplotan pembunuh bayaran tadi. Boo lantas diciduk dan dibawa ke Situ Tunggilis di Cileungsi.

Di perjalanan, leher Boo dijerat kawat. Tak lama kemudian, korban tewas. Para pelaku segera membawa kabur mobil Panther milik Boo, untuk kemudian dijual. Sebelumnya, mereka mencampakkan mayat korban ke Situ Tunggilis.

Esoknya, pukul 7 pagi, warga setempat menemukan jasad Boo. Sewaktu ditemukan, tubuh korban tertelungkup dan mengambang di situ. Warga secepatnya melaporkan penemuan itu ke Kepolisian Sektor Cileungsi. Mayat itu diidentifikasi di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia di Bogor. Ada beberapa luka bekas tusukan di tubuh korban, sementara lehernya membiru bekas jeratan kawat. Polisi menduga korban dirampok.

Rupanya, dugaan polisi cuma berlaku sebentar. Soalnya, tak lama kemudian Sri melapor kepada polisi tentang suaminya yang tak kunjung pulang. Setelah diketahui bahwa mayat yang ditemukan adalah sang suami, Sri tak lupa memasang iklan dukacita di harian Kompas.

Ternyata, menurut kepolisian, semua itu hanya sandiwara. Berbagai ulah Sri yang mencurigakan mulai tersingkap. Misalnya, Sri melapor kehilangan suaminya hanya dua jam setelah mayat Boo ditemukan. "Biasanya, untuk menemukan mayat anggota keluarga yang tanpa identitas, dibutuhkan rentang waktu cukup lama," kata Inspektur Satu Dwight Jordan, Kepala Satuan Reserse Kepolisian Resor Cileungsi.

Selain itu, kata Dwight, laporan Sri langsung disampaikan ke kepolisian Cileungsi, tapi Sri tak bisa menjelaskan bagaimana dia bisa mengetahui suaminya sudah ditemukan di wilayah kepolisian Cileungsi. Lagi pula, ini yang amat mengherankan, Sri tak kelihatan terpukul dengan kematian suaminya. "Bahkan dia tidak menangis sedikit pun," ucap Dwight.

Jadilah polisi memberkas Sri selaku tersangka. Toh, di hadapan penyidik, Sri mengaku tak mengetahui ihwal pembunuhan itu. Namun, polisi tak kenal menyerah, sampai akhirnya satu per satu pelaku pembunuhan diringkus polisi. Alhasil, Sri tak bisa lagi mengelak dari tuduhan sebagai dalang pembunuhan suaminya.

Kini Sri mendekam di sel tahanan berukuran sekitar dua meter persegi di kepolisian Cileungsi. Toh, untuk kasus pembunuhan sadistis begitu, bahkan sampai menggunakan delapan pembunuh bayaran, Sri mengaku menghabisi sang suami cuma lantaran merasa sudah tak tahan terus-menerus diperlakukan secara kasar. "Saya sudah tak kuat hidup selalu ditekan, diperlakukan seperti budak, selama 15 tahun," katanya.

Benarkah sesepele itu motifnya? Entahlah. Dengan wajah tak menunjukkan kesedihan, Sri juga mengaku tak mengerti mengapa akhirnya memutuskan untuk menghabisi suaminya.

Polisi juga sudah menahan tujuh pelaku lainnya. Satu pelaku dikabarkan masih buron. Adapun tersangka yang anggota polisi dan anggota Kopassus telah diserahkan ke Detasemen Polisi Militer III Bogor. Kepada Koran Tempo, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigjen Ismet Hardy, menyatakan akan meneruskan proses hukum terhadap kedua tersangka.

Hendriko L. Wiremmer, Darmawan Sepriyossa


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data