|
UTANG darah mesti dibalas darah. Dan gara-gara itu, Kota Sidoarjo di Jawa Timur pun hampir saja membara. Senin pekan lalu, belasan warga etnis Madura dari Kelurahan Keputih yang bersenjatakan pelbagai senjata tajam dan pentungan menyerbu warga Desa Durungbedug, Kecamatan Candi. Tapi, polisi yang sudah bersiap-siap bisa mencegah pertumpahan darah itu.
Aksi ini merupakan buntut peristiwa dua hari sebelumnya. Sabtu dua pekan lalu, Nur Isman, 53 tahun, warga Durungbedug bersuku Jawa, dibantai oleh Nawachib dan Busri. Dua bersaudara dari etnis Madura ini merasa perlu membalas dendam atas kematian adik Nawachib, yang dibunuh oleh sekelompok pemuda sebulan sebelumnya. Rumor yang beredar, salah satu pembunuhnya adalah Soleh. Maka, pembalasan pun diarahkan ke ayah Soleh, Nur Isman.
Penduduk Durungbedug pun berang. Nawachib pun dicari. Karena tidak ditemukan, rumah tersangka dan keluarganya, yang juga di Durungbedug itu, dirusak. Para warga juga mengancam akan mengusir semua etnis Madura yang ada di Kecamatan Candi, tapi hal itu diredakan oleh polisi yang cepat datang ke lokasi tersebut. Delapan rumah serta barang berharga seperti mobil hancur. Enam tersangka perusakan bisa ditangkap polisi.
Menurut Kapolres Sidoarjo, Komisaris Besar Budi Susilo, Nawachib telah salah sasaran. "Soleh tidak terlibat pembunuhan," katanya. Mereka kini telah menangkap empat dari lima tersangka pembunuh adik Nawachib. Nawachib sendiri kini buron. Sedangkan Busri sudah menyerahkan diri ke polisi di Polsek Taman, Surabaya. "Saya tidak mengira akibatnya seperti ini," ujarnya pelan.
Hingga Jumat pekan lalu, polisi masih menyiagakan satuan Brimob untuk mencegah terjadinya pertikaian susulan.
Zed Abidien, Prasidono L., dan Tempo News Room
|