Iklan Kenaikan BBM Menyesatkan |
ADA yang menyesatkan dalam iklan layanan masyarakat produksi Pertamina yang ditayangkan televisi tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diperankan oleh Nunung dan Bolot—keduanya pelawak.
Yang pertama adalah saat Bolot menyatakan harga air kemasan lebih mahal ketimbang BBM. Air kemasan dan BBM adalah dua hal yang berbeda. Air kemasan memang berasal dari sebuah industri yang bebas menentukan harga. Aqua, misalnya, bisa menghargai satu kemasan gelasnya Rp 1.500, sementara harga satu botol Evian sekitar Rp 10.000. Kalau BBM? BBM adalah sebuah hasil produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak (UUD 1945 Pasal 33). Masyarakat Indonesia bisa saja tidak membeli air kemasan, tapi harus tetap membeli BBM.
Yang kedua adalah saat perempuan—yang merepresentasikan TKI—mengatakan, ”Di Singapura, tempat saya bekerja, harga solar lebih mahal. Rp 3.000, lo.” Ya, tentu saja. Itu adalah hal yang wajar karena Singapura bukan negara penghasil minyak. Sedangkan Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia. Sudah seharusnya dan sangat wajar bila harga solar di Indonesia jauh lebih murah.
Saya tahu, Pertamina harus menjaga citranya sebagai perusahaan negara yang memikirkan dengan sungguh-sungguh alasan kenaikan harga. Tapi tolong jangan membuat iklan ”apologi” yang memberikan logika kacau kepada masyarakat.
SHITA LAKSMI
Jalan Dwijaya Raya 4, RT 01/015, Gandaria
Kebayoran, Jakarta Selatan
|