|
SAYA penumpang bus Lorena ”super-eksekutif” dengan nomor polisi B-7046-XA jurusan Padang-Bogor, 1 Januari 2002. Ketika bertolak dari Padang pada pukul 11.00 WIB, bus dengan harga tiket Rp 343.500 itu berjalan mulus tanpa hambatan. Namun, peristiwa sangat menjengkelkan terjadi saat kami tiba di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, pada 21.35 WIB. Bus mengalami kerusakan yang tak jelas penyebabnya. Untuk mengatasi hambatan ini, kondektur menghubungi perwakilan Lorena Padang agar segera dikirimkan bus pengganti. Tapi, setelah ditunggu beberapa jam, tak ada tanda-tanda bus bakal muncul. Langkah berikutnya, kondektur mengontak Lorena Pekanbaru. Hasilnya, kami semua penumpang mendapatkan kabar bahwa bus akan dikirimkan secepatnya. Ternyata moto Lorena ”Sabar, Sopan, Senyum” tak terbukti. Awak bus tidak bisa membuktikan moto itu. Mereka justru menelantarkan kami seperti gembel. Kami sangat jengkel karena harus menunggu bus pengganti selama 27 jam—busnya pun jauh dari layak—sehingga terpaksa tidur di tempat-tempat seadanya.
Yang sangat kami sesalkan, selama kerusakan, kru bus sepertinya lepas tangan dan tidak memberikan penjelasan atau meminta maaf kepada kami. Mungkin penderitaan kami bisa berkurang seandainya sopir memberikan penjelasan sejujurnya, syukur-syukur meminta maaf. Kami memilih Lorena kelas ”super-eksekutif” dengan ongkos mahal, tapi yang kami dapatkan bukannya kenyamanan, melainkan penderitaan.
REFRINAL, S.H.
Bogor
|