|
MISFAR memandangi Danau Poso, yang berair bening. Dasarnya yang berbatu gamping tampak jelas dari atas jembatan kayu beratap. Di sinilah, di Tentena, pemandangan seperti ini sudah ia saksikan sejak 1958. Saat itulah Misfar muda mulai menginjakkan kakinya di kota Kecamatan Pamona Utara di Sulawesi Tengah itu.
Lelaki berumur 72 tahun itu memang seorang pendatang. Ia berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Tak seperti kebanyakan warga Tentena, yang Kristen, Misfar adalah seorang muslim yang taat. Seusai salat subuh, ia menuju pasar membeli lembu. Dengan tata cara Islam, Misfar menyembelihkan lembu-lembu donggala milik pedagang Kristen. Daging, kaki, dan kepalanya digantung dan dijajakan persis di muka rumah.
Ketika Tentena meledak, ketika rumah orang Islam banyak yang meradang, Misfar dan sekitar 30 orang Islam Tentena lainnya tidak mengungsi. Mereka terheran-heran melihat amarah yang tiba-tiba menerpa Tentena—kawasan yang dikenal damai dan sejuk. Keheranan ini bertambah ketika berkali-kali rumahnya dijaga dan diselamatkan justru oleh warga Tentena yang beragama Kristen.
Warga berusaha meyakinkan Misfar. Ia dan keluarganya dijamin aman di Tentena. Ternyata benar. Rumah Misfar masih utuh. Seluruh keluarganya sehat walafiat. Para kerabatnya sesama muslim yang memilih tidak mengungsi juga selamat. "Saya tidak berbuat salah, jadi buat apa saya takut berada di wilayah yang sudah menjadi tanah air bagi kami?" kata Misfar.
Adalah Angkatan Muda Sintuwu Maroso (Amsimar) yang lahir di wilayah konflik Poso pada 25 November 2000. Ini organisasi anak muda yang kerap menjaga rumah Misfar serta pasar dan masjid di Tentena dari amuk massa. Organisasi yang didominasi para sarjana ini melihat bahwa konflik hanya akan membawa kerugian berkepanjangan di Poso. Dengan moto mengedepankan dialog dan menjauhi kekerasan, tindakan persuasif yang dilakukan mereka lambat-laun membuahkan hasil.
Ini bukanlah perkara mudah. Pernah suatu kali, ketika mereka sedang mengamankan masjid dalam konflik Poso yang lalu, sekonyong-konyong muncul isu bahwa pasar akan dibakar. Serempak mereka bergerak, membarikade pasar. Tapi, seusai mereka meninggalkan masjid, para penyerang—mengendarai perahu—masuk berputar dan membakar masjid dari belakang. "Saat itu kami kecolongan," ujar Husai Kaluti, Ketua Satgas DPP Amsimar, kepada TEMPO. Tak ada rasa jera. "Kalau kami mundur, Tentena sudah lama menjadi arang," kata Kaluti.
Rasa solidaritas ini diwujudkan pada Idul Fitri lalu. Bergegas mereka membentuk kepanitiaan yang bertugas menjamin pelaksanakan salat Ied. Hasilnya, warga muslim yang masih tersisa di Tentena, sebanyak 32 orang, termasuk Misfar, dapat menjalankan salat Lebaran dengan tenang. LSM ini pula yang kemudian ikut berperan menyebarkan sepuluh butir gagasan damai Deklarasi Malino. Mereka membujuk warga agar menyerahkan senjata kepada pihak keamanan.
Rupanya berhasil, sampai tumpukan senjata itu dibakar dan dimusnahkan. Mereka menyerukan, sekaligus menjaga, agar umat Islam yang tersisa di Tentena tidak diganggu saudaranya dari umat Kristiani. Mereka bergaul seperti biasa. Dan Misfar tetap menjual daging lembu donggala yang ia sembelih dengan cara Islam. Sedangkan tari dero sudah mulai mengisi malam-malam panjang yang dingin di Tentena selepas Natal lalu.
Agus Hidayat (Tentena)
|