Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXX/14 - 20 Januari 2002
   
Nasional

Siapa Belut, Siapa Kancil

Diperiksanya Abdurrahman Wahid dalam kasus penipuan Rp 20 miliar dinilai berlebihan. Selain kurang bukti, tersangkanya masih kabur.

BERLEBIHAN. Itulah penilaian Luhut Pangaribuan terhadap pemanggilan kliennya, mantan presiden Abdurrahman Wahid dan keluarganya, oleh Polda Metro Jaya. Mereka diperiksa sebagai saksi atas kasus penipuan uang Rp 20 miliar yang diadukan Tommy Soeharto. Padahal, dua tersangka kasus ini, Raden Dodi Sumadi dan Kiai Sidiq, sampai saat ini belum pernah dimintai keterangan oleh polisi.

Walau begitu, Jumat pekan lalu, Abdurrahman Wahid datang juga ke polisi. Kepada pemeriksa, ia menyatakan tidak mengenal Dodi Sumadi. "Kalau Kiai Sidiq, saya kenal tapi bukan untuk urusan beginian," katanya. Menurut dia, yang membawa Dodi kepadanya adalah K.H. Noer Iskandar Sq., pengelola Pondok Pesantren As Shidiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat.

Tapi Abdurrahman mengakui pertemuannya dengan Tommy di Hotel Borobudur dan Regent, 5 dan 6 Oktober dua tahun silam. Ketika itu Tommy berstatus tersangka dalam kasus tukar guling tanah Bulog dan PT Goro Batara Sakti. Kata Abdurrahman yang saat itu presiden, dalam pertemuan tersebut Tommy meminta dirinya untuk campur tangan soal peninjauan kembali (PK) atas kasusnya yang tengah diajukan ke Mahkamah Agung.

Setelah pertemuan tersebut, Tommy mengaku memberikan duit Rp 20 miliar kepada Dodi Sumadi. Dalam pengaduan kepada polisi, putra mantan presiden Soeharto ini merasa ditipu oleh Dodi dan juga K.H. Sidiq. Sebab, ternyata Abdurrahman Wahid tidak melakukan apa-apa dalam urusan PK itu. Selain itu, dalam pengaduan Tommy, disebutkan pula sebanyak Rp 5 miliar dari duit itu masuk ke Yayasan Ibu Sinta Nuriyah, istri Abdurrahman Wahid.

Itulah yang membuat keluarga Gus Dur berang. Apalagi yayasan yang disebut dalam laporan itu ternyata tidak ada. Ny. Sinta Nuriyah dalam pemeriksaan Selasa pekan lalu mengatakan, yang ada adalah Yayasan Puan Aman Hayati. Ibu empat anak itu juga mengatakan tidak pernah mendapat bantuan dana dari Tommy. "Saya merasa nama baik saya di-cemarkan dan yayasan dirugikan, saya minta polisi mengusut kasus ini," katanya.

Diakui oleh seorang pemeriksa di Polda Metro Jaya, dasar untuk memeriksa Nyonya Shinta maupun Gus Dur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid, kurang kuat karena minimnya bukti. Yang ada cuma pengakuan Tommy. Dan bagi Luhut Pangaribuan, ini cukup menggelikan. Apalagi, "Yang ditanyakan pun hal-hal yang sudah dijawab Gus Dur di mana-mana," katanya

Kunci kasus ini sebenarnya berada di tangan Dodi. Tapi sampai sekarang dia tak jelas rimbanya. Menurut pengacara Tommy, Elza Syarief, ia adalah orangnya Gus Dur. Tapi kepada TEMPO Kiai Noer mengungkapkan bahwa Dodi sebenarnya anak buah Tommy Soeharto. "Saat itu, ia menitip pesan kepada saya supaya menyampaikan kepada Gus Dur, Tommy mau bersilaturahmi. Karena amanat, ya, saya sampaikan," katanya. Dari sini terjadilah pertemuan Hotel Borobudur dan Regent itu.

Tapi Elza Syarief pun tetap berkeyakinan bahwa Dodi bukan teman Tommy. "Kalau teman, masa ia harus mengajukan surat permohonan audiensi," katanya. Ia juga mengaku memiliki bukti berupa kuitansi dan tulisan Dodi, yang menyebut aliran dana tersebut.

Siapa sebenarnya Dodi yang licin bagai belut ini? Ia lebih dikenal sebagai mafia perkara. Ia sudah masuk daftar pencarian orang di Mabes Polri sejak Oktober 2001, dalam kasus serupa. Korbannya adalah mantan Kepala Bulog Beddu Amang. Pria perlente kelahiran Surabaya itu pernah menjanjikan kepada Beddu untuk menyelesaikan kasus tukar guling tanah Bulog dengan PT Goro Batara Sakti yang melilitnya. Dodi mengaku bisa mengurus keluarnya surat perintah penghentian penyidikan (SP3) oleh Jaksa Agung, yang waktu itu dijabat Marzuki Darusman.

Ujungnya, Beddu harus menyetor Rp 12,5 miliar. Namun janji Dodi ternyata gombal. Beddu tetap menjadi pesakitan, bahkan kasusnya sampai ke pengadilan. Lantaran mangkel alias jengkel, ia mengadukan komplotan Dodi itu ke polisi.

Menurut kawan dekat Dodi yang tidak mau disebut namanya, lelaki yang suka bergaya tentara, berbaju safari, dan ke mana-mana diapit pengawal itu kini sedang sakit di Amerika. Namun Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Makbul Padmanegara menyangkal dugaan itu. "Sampai saat ini kami masih berkeyakinan dia masih ada di Indonesia," katanya kepada TEMPO.

Tersangka lain, Kiai Sidiq, dipastikan polisi akan datang dalam pemeriksaan Senin pekan ini. Menurut Kadispen Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Anton Bachrul Alam, Kamis pekan lalu seorang perwira Polda Metro Jaya yang membawa surat panggilan sudah berhasil menemuinya di Jawa Timur. "Ia tidak bisa kabur, ia dalam pengawasan kami," kata Anton.

Mudah-mudahan polisi berhasil mengorek keterangan dari Kiai Sidiq dan segera menyeret Dodi, sehingga menjadi jelas: siapa belut, siapa kancil.

Edy Budiyarso


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data