Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXX/14 - 20 Januari 2002
   
Nasional

Akan Tetap Ada PKB Kembar?

Kedua kubu PKB tetap menggelar muktamar luar biasa. Besar kemungkinan Mega tak akan menghadiri PKB Batutulis. Namun, PKB kembar tak terelakkan.

Inilah detik-detik yang menegangkan kubu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Alwi Shihab, yang dikenal dengan sebutan PKB Kuningan. Mereka memantau perkembangan terakhir sampai Sabtu pukul 12.00 WIB pekan lalu, apakah Presiden Megawati akan datang ke Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB pimpinan Matori Abdul Djalil atau yang kini dikenal sebagai PKB Batutulis. "Ada sinyal-sinyal tertentu, PKB Matori Abdul Djalil tidak akan diakui pemerintah. Presiden Megawati juga tak akan hadir dalam MLB yang digelar Matori." Itulah hasil pantauan yang masuk ke telinga PKB Kuningan sampai batas waktu yang ditetapkan.

Sehari sebelumnya, Mahfud Md., Ketua DPP PKB, kepada TEMPO mengatakan, "Jika sampai batas waktu itu tidak ada kabar tentang kepastian yang diberikan pemerintah, Deklarasi Langitan akan dibacakan. Tunggu sajalah."

Namun, suasana Kantor PKB di Kuningan, Jakarta Selatan, relatif sepi menjelang tenggat tiba. Bahkan, menurut salah satu resepsionis di sana, jajaran teras PKB yang ngantor saat itu hanya Yahya Cholil Staquf, Wakil Sekjen PKB. Ia tak punya acara khusus kecuali memimpin rapat persiapan Muktamar Luar Biasa PKB di Yogyakarta. Sementara itu, Mahfud Md. berangkat ke Yogyakarta. Tampaknya sudah ada bocoran yang diterima PKB Kuningan. "Hingga tadi (Sabtu) pagi, isyarat bahwa Mega tak akan datang memang semakin kuat. Kemungkinannya sudah di atas 90 persen. Sebab itu, Deklarasi Langitan tak jadi dibacakan," ujar A.S. Hikam, Ketua DPP PKB.

Menurut Hikam, batalnya pembacaan Deklarasi Langitan di hadapan wartawan diambil agar tak ada yang kehilangan muka. Sebab, kalau sampai dibacakan dan kemudian Megawati tak datang pada MLB PKB Batutulis, akan muncul kesan bahwa ketidakdatangan Mega karena Deklarasi Langitan. Jika hal itu yang terjadi, akan mempengaruhi hubungan antara PKB dan PDI Perjuangan. Meski begitu, kubu Alwi tetap akan memantau perkembangan hingga Senin ini. Dalam politik, "Berbagai kemungkinan kan tetap selalu ada," kata Hikam.

Sebenarnya, apa isi Deklarasi Langitan? Sesungguhnya tidak ada yang baru dan bahkan sudah tersebar di media massa. Isinya, tak lain, Forum Kiai Langitan hanya mengakui PKB Kuningan pimpinan Alwi Shihab sebagai PKB yang sah. Tambahannya adalah, jika sikap pemerintah mendukung PKB Batutulis pimpinan Matori, Forum Langitan akan menyerukan kepada semua warga NU agar membawa PKB Alwi memenangi pemilu mendatang. Bahkan para kiai akan turun berkampanye. Ini hal biasa. Pada pemilu yang lalu, para kiai pun sudah berkampanye, toh PKB belum menang juga.

Namun, Hikam menyebutkan, ada isi Deklarasi Langitan yang keras, yakni PKB Matori dinilai sebagai PKB liar. Kalau Kiai Langitan sudah bicara begitu, kata Hikam, bobot politiknya lebih besar daripada PBNU. Bagi Hikam, pernyataan keras seperti itu sangat masuk akal karena para kiai sangat marah kepada Matori.

Pemicu kemarahan itu, antara lain, karena sudah dua kali Matori tak mau menghadiri undangan para kiai untuk berislah. Dengan begitu, upaya menyatukan PKB Batutulis dan PKB Kuningan tak kesampaian. PBNU pun gagal mempertemukan kedua PKB yang berseteru itu. Karena itu, dalam bahasa K.H. Masduki Mahfudz, salah satu anggota Forum Kiai Langitan, baru kali ini terjadi pembangkangan santri terhadap kiai. Sampai-sampai latar belakang Matori yang tak pernah mondok pun diungkit-ungkit.

Memang, kedua PKB tak ada yang mengalah. Baik kubu Matori maupun Alwi tetap mengklaim sebagai pihak yang benar dan sesuai dengan AD/ART PKB. Agenda kedua kubu yang berlangsung pekan ini juga sudah dipatok. Spanduk-spanduk MLB PKB Matori sudah menghias jalan-jalan protokol Jakarta. Bedanya, dapat dipastikan dalam MLB PKB Batutulis ini Matori Abdul Djalil akan menduduki jabatan ketua umum sampai 2005. Sebaliknya, dalam MLB PKB Kuningan, Alwi Shihab masih bersaing untuk memperebutkan kursi yang ditinggal Matori karena calonnya banyak. Sejumlah nama calon ketua umum sudah beredar (lihat: Siapa Ketua Umum PKB Kuningan?).

Persiapan MLB PKB Matori di kantornya di Jalan Batutulis, Jakarta Pusat, sudah matang. "Kita tetap jalan terus, bahkan khawatir peserta akan membeludak, saking besarnya animo masyarakat untuk hadir," ujar Abdul Khaliq Ahmad, pejabat sementara Sekjen PKB Batutulis. Animo itu menunjukkan besarnya dukungan warga terhadap eksistensi partainya. Sementara itu, soal jadi atau tidaknya Megawati hadir dan membuka MLB hingga Sabtu siang masih dalam konfirmasi. Tapi, kalaupun Mega tak datang, kata Abdul Khaliq, itu juga tak masalah. Jadi, tak benar bahwa tanpa kehadiran Mega pengikut Matori menjadi lesu darah. Terhadap berbagai pihak yang meragukan terlaksananya MLB, Abdul Khaliq menyatakan, "Tidak usah sinis. Lihat saja pada saatnya."

Sementara itu, mengenai sikap Forum Langitan, sembari menyitir pernyataan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, Abdul Khaliq menyebut bahwa Forum Langitan bukanlah representasi NU. Bahwa mereka adalah orang NU, itu benar. Tapi mereka tidak bisa mengatasnamakan institusi NU. Lebih lanjut, Abdul Khaliq justru sangat menyayangkan pem-belaan para kiai tersebut. Ia memandang kubu Alwi sangat memanipulasi posisi-posisi kiai, dari tidak berpolitik lalu diajar larut dalam politik praktis. "Itu justru mendegradasi martabat kiai sendiri," ujarnya serius.

Abdul Khaliq juga tidak sepakat kalau Matori disalahkan begitu saja ketika tidak menghadiri undangan mereka. Bagaimanapun, semua itu tak lepas dari referensi para kiai terhadap kasus ini, yang tak lain adalah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Menurut Abdul Khaliq, jika Matori berbeda pendapat dengan Gus Dur, ya, Matori yang langsung dianggap salah. Dengan cara begitu, apa pun sikap yang ditunjukkan Matori tetap saja dianggap salah. Padahal, kenyataannya belum tentu begitu. Sesuai dengan AD/ART, yang berhak memberhentikan Ketua Umum PKB adalah muktamar. "Ya, muktamar, bukannya Gus Dur," kata Abdul Khaliq lebih tegas. Sebab itulah, PKB Matori tetap menggelar MLB sebagai forum pertanggungjawaban sikap yang selama ini dilakukan Matori.

Apa boleh buat, ada atau tidak ada campur tangan Presiden Megawati, PKB akan tetap kembar. Kenapa tidak diformalkan saja dengan embel-embel lokasi kantor? Jadi, ada PKB Batutulis dan ada PKB Kuningan, atau memakai nama yang lebih trendy: ada PKB Perjuangan, ada PKB Reformasi. Biar rakyat pada pemilu nanti yang memutuskan mana yang dipilihnya. Bagaimana Kiai, setuju?

Dwi Wiyana (Jakarta), Adi Mawardi (Surabaya), Ecep S. Yasa (Semarang), Dwidjo U. Maksum (Kediri)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Surat Suara Pilwali Kediri Nyaris Mencapai 1 Meter - 07 Sep 2008 | 18:49 WIB
Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data