Tabloid Komik Menguak Pasar Ada yang baru di pasar media cetak, yaitu tabloid komik. Penyandang dananya adalah pengusaha percetakan. Kualitas cetaknya didukung oleh teknologi komputer.
|
MELAJU dengan skuternya, seorang pemuda berusaha menembus kemacetan lalu-lintas. Tubuhnya meliuk-liuk, mencari celah yang bisa dilalui. Sementara itu, seorang polisi tengah makan bubur di warung pinggir jalan. Sesampai di depan warung itu, sang pemuda lantas menodongkan pistol ke arah polisi. Terkejut, pemilik warung langsung pingsan, tapi polisi tampak tenang. Kejadian itu cuma ter-jadi dalam cerita komik yang dimuat di tabloid Komikka, satu dari dua tabloid khusus komik yang terbit di Jakarta. Tabloid yang satu lagi bernama Komik SAP Project.
Kedua tabloid ini tampil atraktif penuh warna. Harganya pun terjangkau. Komik SAP Project (singkatan dari Sinar Agape Press Project, nama percetakan Grup Suara Pembaruan) dijual Rp 5.000 per eksemplar, sementara Komikka hanya Rp 4.000. Entah apa pertimbangannya, belakangan Komikka dijual lebih murah, yakni Rp 3.500.
Kebetulan, penerbit kedua tabloid khusus ini adalah perusahaan percetakan. Investor tabloid Komikka adalah PT Pola Triputra Sejahtera, yang dipimpin August Pribadi. Sedangkan Komik SAP Project dicukongi oleh PT Sinar Agape Press dengan bos Toenggoel Siagian.
Sebenarnya, Komikka edisi perdana—terbit awal November 2001—pernah dipegang oleh Haryono, seorang komikus yang juga mantan redaktur artistik di koran Suara Pembaruan. Haryono sempat menjadi pemimpin redaksi dan bersama timnya mengerjakan Komikka edisi pertama. Namun, mereka mendirikan kelompok baru bernama Komik SAP Project. Apa pasal? Jawabnya, perbedaan selera. Investor Komikka menginginkan komik yang lebih mutakhir, lebih up-to-date, sementara Haryono cenderung menampilkan karya-karya komikus senior.
Setelah Haryono mundur, Wakil Pemimpin Redaksi Komikka, Sumantri, segera mengontak komikus muda dari Masyarakat Komik Indonesia (MKI). Ia sekaligus meminta agar mereka menggarap tabloidnya. Dengan 300 komikus anggotanya, tak sulit bagi MKI menyediakan materi tabloid. Bahkan, sejak edisi nomor 2, komikus dari MKI inilah yang berperan menangani Komikka. Dan hingga awal Januari 2002, mereka telah menerbitkan enam edisi mingguan.
Sebagai wadah bagi aktivitas komikus muda, MKI didirikan tahun 1997 dengan anggota tersebar di Jakarta, Bandung, Yogya, hingga Bali. Bagi mereka, Komikka hanyalah salah satu outlet penyaluran kreativitas. "Kadang kami harus kompromi juga dengan kehendak investor," tutur Widyartha Hastjarja, Wakil Pemimpin Redaksi Komikka. Di luar itu, waktu mereka tersita untuk banyak kegiatan, dari menerbitkan karya individual sampai menyelenggarakan bengkel kerja gratis buat anak-anak SMP atau SMU.
Dalam hal itu, Haryono dan kawan-kawannya mendirikan Komik SAP, yang terbit perdana pada 25 November 2001. Dalam tabloid ini, yang dominan muncul adalah karya komikus senior seperti Yan Mintaraga, Teguh Santosa, Man, dan Wid N.S. Yang menarik, karya komikus senior itu juga tertata dalam aneka warna—berkat teknik komputer—padahal aslinya cuma hitam-putih.
Komikka dan Komik SAP dicetak masing-masing 10 ribu eksemplar, tapi tingkat pen-jualan Komik SAP ternyata lebih tinggi. Haryono mengklaim 75 persen Komik SAP terjual, sedangkan Komikka laku sekitar 30 persen. Sumantri mengakui, Komikka lemah dalam marketing. Belakangan terbetik kabar bahwa kelompok usaha makan cepat saji MacDonald sedang mempertimbangkan agar Komikka bisa dijadikan majalah milik MacD. Kalau rencana itu mulus, semua outlet MacD akan menggelar tabloid Komikka. Berarti, akan terjamin pula kelangsungan hidup Komikka.
Untuk menerbitkan Komikka, dana dikucurkan sekitar Rp 150 juta. Pembiayaan bisa ditekan serendah itu tak lain karena biaya kertas dan ongkos cetak diurus sang investor, yang juga pemilik percetakan. Praktis ongkos operasional diperlukan untuk membiayai lima orang staf, honor komik, dan juga ongkos transpor. Investasi untuk penerbitan Komik SAP lebih besar—sekitar Rp 500 juta. Diperkirakan titik impas akan tercapai dalam 2-3 bulan, se-telah iklan-iklan mulai masuk. Mereka optimistis karena permintaan dari agen koran banyak sekali.
"Biasanya, kalau orang hanya mendapatkan nomor 3, mereka ingin cari nomor 1 dan 2-nya," ucap Haryono. Karena itu, tabloid ini sengaja tidak mencantumkan tanggal penerbitannya dengan lengkap. Yang ditulis Edisi No. 4 Tahun 1, 2002, misalnya. "Dari hasil retur, kita bisa bikin bundel, atau menjualnya lagi bagi para kolektor komik," kata komikus yang pernah membukukan karyanya berjudul Abad yang Hilang ini.
Pengamat komik yang juga Ketua Kajian Komik Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rahayu S. Hidayat, menyambut gembira kehadiran tabloid Komikka. "Tadinya saya cuma tahu dari rilis. Tapi, setelah lihat aslinya, luar biasa." Rahayu yakin tabloid komik potensial di masa mendatang dan bisa menjadi wadah yang sangat baik bagi komikus muda. "Selama ini sangat sedikit penerbit yang mau menerbitkan komik Indonesia. Tapi, dengan tabloid komik, komikus muda bisa semakin mengasah dirinya." Ditambahkannya, ketika Pekan Komik dan Animasi berlangsung pada tahun 1997, masih sulit mencari karya yang bagus. Tapi kini ia sebagai juri Pekan Komik harus mengakui, justru sangat sulit mencari pemenang. Penyebabnya, menurut Rahayu, "Karena banyak yang bagus."
Ign. Haryanto
|