Gelombang Panas-Atis Melanda Banyumas Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan penduduk Banyumas terserang malaria, yang telah menelan korban jiwa. Kenapa sampai berbulan-bulan malaria tak bisa diberantas?
|
AHAD pagi dua pekan lalu, Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, punya hajatan khusus. Ratusan penduduk berkumpul di halaman balai desa untuk melakukan istigasah dan salat bersama. Tua-muda, lelaki-perempuan—kebanyakan mengenakan jaket karena demam—serentak mengamini doa memohon keselamatan. "Mudah-mudahan doa ini bisa mengusir malaria yang melanda desa kami," kata Camat Sumpiuh, M. Najib.
Aksi malaria di Banyumas memang cukup meresahkan. Dalam tempo setengah tahun terakhir, malaria menyerang sedikitnya 8.487 warga lima kecamatan di Banyumas, antara lain Sumpiuh, Kemranjen, dan Somagade. Hingga akhir pekan lalu, masih tersisa sekitar 2.000 penduduk yang berada dalam perawatan puskesmas ataupun rumah sakit.
Keresahan penduduk masih pula dibumbui kesimpang-siuran kabar. Ada yang menyebutkan malaria menewaskan 20 warga, sedangkan kabar lain menyatakan angka kematian tak kurang dari 50 orang. Malah, menurut catatan Komisi E DPRD Banyumas, ada 107 kematian yang diduga terkait dengan malaria.
Namun, pemerintah merekam data yang berbeda. "Setelah kami cek ke lapangan, hanya ada satu kematian yang betul-betul bersumber dari malaria," kata Profesor Umar Fahmi Achmadi, Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan. Kasus kematian lainnya, Umar yakin, dipicu beragam penyakit yang secara tergesa disimpulkan sebagai malaria.
Yang jelas, perjalanan malaria terus berlanjut. Pekan lalu, Syaiful Amin dari TEMPO masih menemukan beberapa keluarga yang semua anggotanya dirongrong malaria. Keluarga Mujahid, dengan seorang istri dan empat anak, misalnya, harus bergulat dengan penyakit panas-atis (panas-dingin, sebutan lokal untuk malaria) sejak November lalu. "Sampai sekarang, saya dan anak bungsu masih panas-atis," kata warga Dusun Sikanco, Desa Ketanda, ini.
Rekan senasib Mujahid tak sedikit. Ternyata 80 persen dari 430 penduduk Sikanco ter-serang malaria dalam waktu hampir berbarengan. Sebagian warga mengaku cemas karena merasa obat dari dokter rumah sakit ataupun puskesmas tak banyak membantu. Gelombang panas-atis terus timbul-tenggelam.
Kenapa gelombang panas-atis itu tak juga pergi? Menurut Imam Sahidi, seorang pamong Dusun Sikanco, masyarakat sudah digerakkan untuk membersihkan kandang ternak, genangan air, empang, dan bak mandi. Tujuannya adalah agar tempat itu tak menjadi hunian nyamuk Anopheles sp., yang membawa parasit malaria Plasmodium sp. Imam juga telah mengajukan permohonan penyemprotan sarang nyamuk (abatisasi) kepada dinas kesehatan setempat. Namun, permintaan berulang-ulang itu belum mendapat sambutan. "Kami sampai bosan," katanya. Padahal penyemprotan telah dilakukan di Desa Karanggintung. Walhasil, Imam yakin, sebagian nyamuk dari desa tetangga itu hijrah dan menyebarkan parasit malaria di Ketanda.
Kepala Puskesmas Sumpiuh, Drajat Supriyadi, sepakat dengan Imam. Abatisasi memang mesti dilakukan massal sebagai bagian dari penanganan yang terpadu. Tindak penanganan yang separuh-separuh seperti yang terjadi di Banyumas hanya akan meneruskan siklus nyamuk Anopheles sp. Jadi, "Malaria merembet kian luas," katanya.
Sebenarnya, malaria telah relatif lenyap dari bumi Jawa Tengah sejak 1970-an. Drajat menduga, penyakit ini kembali muncul seiring dengan kembalinya warga perantauan dari wilayah rawan malaria seperti Kalimantan dan Sumatra menjelang Lebaran lalu. Meskipun sepintas tampak sehat, sebagian warga perantauan itu mungkin mengusung (carrier) parasit malaria dalam darahnya, sehingga parasit pun tersebar luas melalui jasa gigitan nyamuk.
Menurut Drajat, Plasmodium sp. yang menjajah Banyumas bukanlah jenis baru. Tapi parasit malaria ini memang kian canggih berkelit dari gempuran obat antimalaria. Pemicunya, antara lain, sikap abai pasien yang gampang absen minum obat begitu tubuh terasa sedikit nyaman—padahal parasit belum total terbasmi dan siap beraksi lagi dengan lebih ganas.
Kini, meskipun terlambat, Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, Choirul Mufied, berjanji segera mengubah strategi. Malaria bakal digempur dengan jurus terpadu yang lebih serius. Puluhan pos pelayanan kesehatan gratis didirikan, program penyuluhan dilakukan lebih gencar, dan semua sarang nyamuk disiangi dengan abatisasi. Yang tak kalah penting, "Kami akan menurunkan petugas yang mengawasi kedisiplinan penduduk minum obat," kata Choirul.
Mardiyah Chamim, Agus Riyanto
|