Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXX/07 - 13 Januari 2002
   
Nasional

MLB = Mari Lanjutkan Bertikai?

Matori yakin Muktamar Luar Biasa PKB yang digelarnya akan dibuka Presiden Megawati. Kubu Alwi membalasnya dengan sinis bahwa acara itu bakal tak diminati.

TIGA kertas putih berukuran besar ditempel di whiteboard ruangan Ketua Umum PKB Matori Abdul Djalil di Jalan Batutulis, Jakarta Pusat. Isinya, coretan hasil rapat panitia Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB, yang akan diadakan 14-16 Januari 2002 di Jakarta. Di situ antara lain tertulis, spanduk dan umbul-umbul harus terpasang mulai 10 Januari, undangan buat 500 orang bagi para duta besar, pejabat tinggi negara, ormas, dan lain-lain harus selesai 5 Januari. Yang penting dari coretan itu adalah draf susunan acara pembukaan, ketika Presiden Megawati dijadwalkan "memberi amanat dan membuka muktamar luar biasa" pada mata acara keenam, setelah pidato politik Ketua Umum PKB.

"Sejauh ini, memang belum ada perubahan tentang rencana Presiden membuka muktamar," ujar Abdul Khaliq Ahmad, pejabat sementara Sekjen PKB kubu Matori. Beberapa hari sebelumnya, Matori juga mengungkap hal serupa. Bahkan ia percaya Mega adalah presiden beneran dan bukan tipe pemimpin yang suka membolak-balikkan ucapannya sendiri. Jadi, "Beliau pasti akan melaksanakan apa yang harus dilakukan seorang presiden," katanya.

Seandainya betul Megawati akan membuka MLB PKB ini, jelas merupakan kemenangan politik bagi Matori. Sebab, akan muncul kesan bahwa pemerintah memberikan dukungan atas keberadaan mereka. Apalagi belakangan tersiar kabar bahwa PKB kubu Alwi Shihab tak akan mengundang Megawati.

Abdul Khaliq meminta agar semua pihak merunut ke belakang. PKB yang diketuai Matori-lah yang sudah tercatat di Departemen Kehakiman dan Komisi Pemilihan Umum. Karena itu, yang berhak melakukan MLB adalah Matori—yang notabene ketua umum hasil Muktamar PKB di Surabaya tahun 2000. Jadi, misalnya Mega hadir, itu karena pemerintah memang harus berpatokan pada asas legalitas tersebut. Kalau tidak? "Ya, pemerintah sudah tidak konstitusional lagi," ujarnya.

MLB yang bakal berlangsung di Hotel Borobudur itu, masih menurut Abdul Khaliq, bakal diikuti 29 dewan pengurus wilayah dan 300 dewan pengurus cabang. Total jenderal, termasuk peninjau, panitia, dan sebagainya, ada 1.500 orang yang bakal hadir. Cuma, dari kalangan ulama belum jelas benar berapa dan siapa yang bakal hadir.

Selain Hotel Borobudur, panitia menyiapkan ratusan kamar lagi di Hotel Aston, Senen, yang juga berbintang lima. Karena itu, diperkirakan MLB ini menghabiskan dana Rp 3 miliar. Disebutkan Khaliq, dana itu murni dari usaha partai, tak ada yang bersumber dari pemerintah.

Bagaimana dengan surat Matori yang meminta bantuan kepada bupati dan wali kota se-Indonesia? Abdul Khaliq mengatakan, surat bernomor 090/B/DPP/XII/2001 itu tak harus diartikan sebagai permintaan dana. Menjaga kelancaran dan keamanan peserta sampai ke Jakarta, misalnya, itu juga bantuan. Sebab, belakangan mulai masuk laporan tentang adanya ancaman dan teror terhadap peserta yang mau ke Jakarta, yakni di Kalimantan Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tapi, "Saya yakin, semua bakal berjalan lancar," ujarnya.

Optimisme di kubu Matori dijawab dengan sinisme di kubu Alwi Shihab. Kubu Alwi, yang akan mengadakan MLB di Yogyakarta pada 17-19 Januari 2002, mengutip prediksi Abdurrahman Wahid yang mengatakan bahwa tidak akan ada yang datang pada MLB yang digelar Matori. Kalaupun ada, "Paling orang-orang seketemunya, lalu disorbanin," begitu konon Gus Dur memprediksi.

Cholil Bisri segendang-sepenarian dengan Gus Dur. Alasannya, Matori saat ini sudah tak diterima warga NU, terutama di kalangan akar rumput. Diyakini, mereka lebih memilih Gus Dur dan Alwi, yang dibuktikan dengan semaraknya sambutan mereka jika para tokoh kubu ini terjun ke daerah. Berbeda dengan jika yang datang adalah Matori, yang sepi sambutan. Bahkan kini tak sedikit warga NU yang geregetan dengan ulah Matori karena dianggap telah merusak partai yang dulu dibangunnya sendiri.

Sementara itu, mengenai kehadiran Megawati juga belum seratus persen bisa dipastikan. Seorang petinggi PDIP menyebutkan, Mega sebetulnya tidak pernah menyatakan akan datang ke MLB-nya Matori, apalagi membuka secara resmi. Saat itu, katanya, Mega hanya bilang, "Nanti dilihatlah!"

Apakah Matori salah perkiraan seperti halnya Alwi Shihab salah menangkap pernyataan Wakil Presiden Hamzah Haz yang disebut-sebut mengakui PKB yang dipimpinnya? Wallahualam, namanya juga politik. Dan, bukan tak mungkin, dalam sepekan ini bakal ada berita-berita lanjutan yang mengejutkan. Entah nanti, klaim dan pendapat siapa yang benar. Kalaupun dua-duanya jalan, MLB bisa jadi mendapat arti yang lain, bukan "muktamar luar biasa" melainkan "mari lanjutkan bertikai".

Dwi Wiyana, IG.G. Maha Adi (Jakarta), Ecep S. Yasa (Rembang), TNR


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Victoria Beckham Bantah Bisnisnya Gagal - 08 Sep 2008 | 10:17 WIB
Resep Jitu Inggris Mengalahkan Kroasia - 08 Sep 2008 | 10:13 WIB
Telkom Kalimantan Targetkan Sejuta Pelanggan - 08 Sep 2008 | 10:11 WIB
Formalin dan Rhodamin Ditemukan di Balikpapan - 08 Sep 2008 | 10:09 WIB
Oprah Winfrey Tolak Wawancara Palin - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Motor Tabrak Mobil, Satu Cedera - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Komisi Pemilihan Palembang Pleno - 08 Sep 2008 | 09:48 WIB
Motivasi Inggris Melawan Kroasia Bukan Balas Dendam - 08 Sep 2008 | 09:45 WIB
Eva Mendes Ogah Jadi Ibu - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
Indeks Asia Naik Setelah Pengambilalihan Freddie dan Fannie - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data