Kontroversi Pembunuh dari Balik Kabut Versi terbaru Hollywood tentang pembunuh legendaris Jack the Ripper. Kengerian tersaji pekat, tapi misterinya terasa cair.
|
From Hell
Sutradara : Albert Hughes dan Allen Hughes
Penulis Skenario : Terry Hayes dan Rafael Yglesias
Pemain : Johnny Depp, Heather Graham, Ian Holm, Jason Flemyng
Produksi : Twentieth Century Fox, 2001
ASAP menari-nari di satu bilik rumah candu Kota London pada 1888. Seorang pria berbaring santai menikmati racikan getah "bunga surga" ini. Sialan, "mimpi" yang datang justru jauh dari pemandangan nirwana: pisau berkelebat tak henti dalam rangkaian adegan pembunuhan seorang wanita di lorong kawasan kumuh London yang berkabut. Pria itu bernama Abberline (Johnny Depp), seorang inspektur polisi. Adegan yang mengawali From Hell ini segera mengingatkan penonton pada Once Upon a Time in America karya sutradara Sergio Leone. Di film itu, Robert De Niro mengisap opium sambil melihat wayang kulit.
Bagi Abberline, rangkaian gambar kekejian saat ia "melayang" bukan hal asing. Bahkan, berkat petunjuk mimpinya, namanya menjadi kondang karena berkali-kali memecahkan kasus pembunuhan pelik. Namun, gambaran terakhirnya melampaui mimpi buruk terdahsyat Abberline ataupun masyarakat London saat itu. Yang dilihat perwira polisi ini adalah aksi pertama dari teror Jack the Ripper, pembunuh serial pertama yang dikenal dunia yang menjadikan pelacur-pelacur London sebagai mangsanya.
From Hell adalah versi terbaru dari Hollywood tentang Jack, yang jati dirinya masih mengundang kontroversi hingga saat ini. Diangkat dari novel bergambar karya Alan Moore dan Eddie Campbell, film ini menyajikan adegan-adegan brutal yang membutuhkan ketabahan tersendiri dari penonton. Pembunuhan kedua lebih sadistis dari yang pertama. Begitu pula yang selanjutnya. Pilihan duet sutradara Allen dan Albert Hughes—mereka saudara kembar yang sebelumnya menggarap Dead Presidents dan Menace II Society—untuk menampilkan adegan dalam durasi yang cukup panjang sebelum seorang pelacur terbunuh menambah bobot kekejaman yang dilakukan Jack. Penonton tahu bahwa calon korban pasti akan terbunuh dan mereka "dipaksa" menjadi saksi yang tak berdaya.
"Dari neraka" adalah tulisan yang dikirim Jack kepada kesatuan polisi London. Menilik tubuh-tubuh korban, Abberline yakin Jack adalah seseorang yang sangat mengerti anatomi tubuh manusia. Yang mengerti hal ini adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Pendapatnya menguat setelah disetujui Sir William Gull (Ian Holm), ahli bedah dan orang kepercayaan keluarga istana. Atasan Abberline menginstruksikan agar penyidikan diarahkan kepada tukang jagal rumah hewan atau tukang jahit keturunan Yahudi. Alasannya, tak mungkin seorang Eropa Nasrani yang berpendidikan sanggup melakukan kekejian seperti itu. Namun, Abberline berkeras dengan keyakinannya.
Dalam kehidupan nyata, banyak versi tentang siapa sesungguhnya Jack the Ripper. Ada yang menyebut Jack adalah kelompok germo yang ingin memberikan pelajaran bagi para pelacurnya, para pemuja setan, dan sebagainya. Versi paling seru adalah keterlibatan Istana Buckingham yang saat itu dipimpin Ratu Victoria. Alasannya, hubungan Pangeran Edward dengan seorang pelacur hingga membuahkan keturunan mendatangkan kegusaran tingkat tinggi. From Hell mencoba menjejaki semua versi. Berbeda dengan sekian film tentang Jack the Ripper yang lain, From Hell berani menyodorkan jawaban pasti berdasarkan salah satu versi.
Untuk mendukung versi tersebut, Hughes bersaudara menampilkan tokoh-tokoh nyata dan peristiwa yang berlangsung pada akhir abad ke-19 di London. Misalnya sosok Manusia Gajah (kisah hidupnya pernah difilmkan oleh David Lynch), Pangeran Edward yang terkena sifilis, ataupun pertentangan istana dengan parlemen. Agar London tempo dulu terasa nuansa suramnya, syuting dilakukan di Praha, ibu kota Chek. Suasana Gothic yang hadir sedikit banyak mengingatkan pada Seven karya David Fincher.
Sayangnya, pengungkapan teka-teki identitas Jack kurang dramatis, bahkan encer. Hal ini berbanding terbalik dengan adegan kengerian yang begitu pekat tersaji. Selingan percintaan antara Abberline dan pelacur bernama Mary (Heather Graham) terasa tempelan belaka. Akting para pemain pun tergolong standar. Johnny Depp sebetulnya aktor yang bagus, tapi peran-peran yang dimainkannya sering tak beranjak jauh. Alhasil, menonton Depp dalam film ini tak ubahnya seperti menonton dirinya dalam Sleepy Hollow, Chocolate, ataupun The Man Who Cried. Graham tak bermain buruk, tapi beberapa kali ia terpeleset saat melantunkan aksen British.
Jualan utama From Hell memang sosok Jack the Ripper itu sendiri, yang pernah melontarkan pernyataan, "Satu hari orang-orang akan menengok ke belakang dan berkata, akulah yang melahirkan abad ke-20." Jack mungkin benar. Sebab, abad ke-20 mencatat kekejian demi kekejian yang tak masuk akal, yang celakanya tetap berlanjut hingga abad ke-21 ini.
Yusi Avianto Pareanom
|