|
Masalah Jaksa Agung Andi Ghalib, yang diduga menerima sejumlah uang suap dari konglomerat, yang diungkap oleh Indonesian Corruption Watch (ICW), sungguh sangat menyakitkan hati rakyat. Sangat ironis, seorang pejabat yang diharapkan dapat membongkar KKN mantan presiden Soeharto serta para koruptor lainnya malah diduga melakukan korupsi atau menerima suap dari pihak yang diperiksa.
Apa pun alasan dan bantahan yang dikemukakan Andi Ghalib, seharusnya dugaan korupsi atau suap itu ditanggapi secara cermat dan dengan sikap seorang pejabat yang bijaksana dan sanggup menahan diri, bukan dengan sikap arogan, emosional, apalagi sampai membawa-bawa adat kedaerahan (siri) dan sentimen etnis segala.
Kalau memang Jaksa Agung akan menyelesaikan masalah ini secara hukum melalui pengadilan, kenapa mesti mengatakan ada konspirasi di belakang kejadian tersebut untuk menjatuhkan serta mencemarkan nama baiknya? Bukankah pengadilan belum menjatuhkan vonis apakah Jaksa Agung bersalah atau tidak?
Apakah Jaksa Agung ingin meniru Ketua DPA A.A. Baramuli, yang pernyataannya banyak menimbulkan polemik, dengan membentuk isu etnis dan kedaerahan untuk politik?
EDI KOESNADI
Jalan Narogong Asri Raya BB-3/5, RT 6/2,
Pengasingan, Bekasi Timur 17115
|