Amien Rais, Setelah Pemilu PAN yang reformis kalah suara ketimbang Golkar. Agenda reformasi mungkin akan kekurangan tenaga pendorong. Di mana peran Amien Rais setelah ini? |
Amien Rais mulai jarang muncul di media massa. Bisa dimengerti. Tampaknya, PAN jadi yang paling kecil dalam deretan lima besar pemenang. Banyak hal belum ditelaah kenapa partai yang dipimpin oleh dua tokoh garis depan gelombang reformasi ini, Amien Rais sendiri dan Faisal Basri, kalah jauh perolehan suaranya dibandingkan dengan Golkar, yang mewakili kekuatan lama.
Benarkah semangat "reformasi" tak sampai di hati rakyat banyak? Belum tentu. Kemenangan gegap-gempita PDI Perjuangan atas Golkar cukup mengindikasikan bahwa ada penolakan yang meluas atas kekuasaan Orde Baru, dan ada kehendak akan perubahan. Tapi mungkin juga para pemilih tak mempersoalkan benar, perubahan yang bagaimana yang dikehendaki. Garis politik PAN yang mencantumkan pelbagai pikiran alternatif (misalnya membuka kemungkinan amandemen UUD, membuka debat bentuk negeri federal, dan persetujuannya atas ide referendum di Timor Timur) tak cukup menarik bagi para pemilih.
Dalam banyak hal, PAN memang ingin membawa semangat dan gagasan baru?sebuah sifat yang sebenarnya ada dalam tiga partai yang lain, yakni Partai Keadilan, PUDI, dan PRD. Bahwa ia lebih kuat ketimbang ketiga partai tersebut, itu tentu karena kerja keras Amien Rais dalam memperkenalkan PAN. Ia tahu jaringan organisasi PAN masih amat lemah di lapisan massa. Ia sadar ia pendatang baru, bahkan ia bukan orang Jakarta. Ia juga tahu ia bukan keturunan pemimpin terkenal dalam sejarah seperti Bung Karno. Dengan kata lain, ia tak didukung oleh sebuah ingatan kolektif. Maka, ia bekerja ekstrakeras untuk tampil di media massa.
Demikianlah PAN kecil tapi tak tenggelam. Kalangan pendukung reformasi sebenarnya masih punya sebuah modal. Persoalannya tentu: sebesar apakah modal itu? Amien Rais sebagai wakil kekuatan politik sudah berkurang ukurannya. Baik di lembaga legislatif maupun di lembaga eksekutif, agenda reformasi mungkin akan kekurangan tenaga pendorong.
Tapi Amien Rais bukan cuma itu. Ia juga mampu jadi sebuah tauladan moral dalam politik, dan ini penting bagi Indonesia yang kehidupan politiknya telah jadi korup dan penuh dengan oportunis. Ia membuktikan diri tak gentar ambil risiko buat membuka jalan yang lebih baik bagi Indonesia. Itulah sebabnya ia, pada masa Soeharto, menyerukan agar ada pergantian kepemimpinan nasional, meskipun ketika ia berada di dekat koridor kekuasaan yang bisa dimanfaatkannya bila ia mau. Ia membentuk PAN yang plural pendukungnya, meskipun ia dengan gampang akan dapat dukungan seandainya dulu ia bergabung dan memimpin partai Islam seperti PPP, karena ia seorang tokoh organisasi Islam. Ia, seperti Bung Hatta, ingin membuka pintu dari sempitnya "politik aliran". Untuk kebaikan Indonesia. Dengan segala risikonya.
Sejak sebelum ia terjun ke dalam kehidupan politik, ia memang sudah bicara tentang perlunya perilaku politik yang punya moral, yang disebutnya sebagai "politik (taraf) tinggi". Ia konsisten. Ketika ternyata PAN hanya partai terkecil di deretan "lima besar", ia mengakui "kalah" dan dengan sportif mengatakan pemilu sah. Dengan posisi PAN sekarang, ia menyatakan tak pantas jadi presiden, meski pun ia lebih didukung luas ketimbang partainya, dan ada usaha untuk mencalonkannya kembali, kalau perlu dengan dukungan Golkar. Dalam kampanye, ia beberapa kali mengatakan bahwa Golkar perlu "dilipat", dan pada saat pasca-pemilu ia tetap enggan berkoalisi dengan partai Orde Baru, meski ia bisa memanfaatkan suara besar Golkar jika ia berambisi naik ke dalam kekuasaan. Politik, baginya, bukan hanya memperoleh kekuasaan. Kerja politik adalah pengabdian untuk kehidupan bersama.
Amien Rais mungkin tak akan jadi presiden beberapa bulan mendatang, tapi ia tak dengan sendirinya menjadi kecil.
|