Jurus Rahasia Pendekar 001 Indosat ngotot melamar Excelcomindo Pratama dengan harga mahal. Ada korupsi? |
BERITANYA sih biasa-biasa saja: soal rencana pembelian saham. Tapi, apa yang terjadi sesungguhnya di balik rencana itu, tak banyak yang tahu. Yang muncul hanyalah serangkaian jawaban yang kurang jelas dan sejumlah misteri.?
Ceritanya berawal tiga bulan lalu ketika PT Indosat berencana membeli saham PT Excelcomindo Pratama. Menurut sumber TEMPO, Indosat menawarkan US$ 300 juta untuk membeli 60 persen saham Excel yang dimiliki PT Telekomindo Primabhakti. Tapi Telekomindo keberatan. Perusahaan yang dikuasai pengusaha Peter Sondakh itu bertahan pada harga US$ 360 juta. Tawar-menawar terjadi, sebuah praktek bisnis yang biasa.
Bagi Indosat, rencana akuisisi ini agaknya tidak salah alamat. Selain mengelola jasa telepon seluler, Excelcomindo juga punya proyek jaringan telekomunikasi serat optik yang menghubungkan kota-kota di sepanjang Jakarta-Surabaya. Ini bisa dimanfaatkan Indosat untuk memperkuat jaringan telekomunikasi gateway 001 miliknya. Malah, jika globalisasi telekomunikasi dibuka tahun 2005 kelak, Indosat bisa memanfaatkan jaringan serat optik ini untuk mem-by-pass fungsi Telkom sebagai penyambung lokal pembicaraan internasional.
Selain itu, jaringan ini juga bisa dipakai untuk membangun industri multimedia, sektor usaha yang sudah lama diincar Indosat. Dengan jaringan serat optik yang terbentang di sepanjang Pulau Jawa, Indosat dengan gampang bisa membangun industri TV kabel. Jika mau, jaringan ini bisa juga dijadikan tulang punggung (backbone) internet.
Sampai di sini ceritanya masih datar-datar saja, tapi belakangan terasa ganjil setelah ada yang ikut menghitung: bukankah penawaran Indosat itu terlalu mahal? Menurut sumber tersebut, nilai bersih seluruh saham Excel tak lebih dari US$ 300 juta. Angka ini diperoleh dengan menjumlahkan seluruh biaya investasi Excel dikurangi kewajiban utangnya.
Menurut sumber ini, nilai investasi Excel cuma US$ 475 juta. Sekitar US$ 300 juta untuk proyek telepon angin, sisanya untuk serat optik. Karena US$ 175 juta dari investasi ini diperoleh dari utang, ditemukanlah angka US$ 300 juta tadi. Jadi, jika cuma mau mengambil 60 persen saham, Indosat mestinya hanya membayar US$ 180 juta. Kalaupun mau memberi premium, "Harga US$ 200 juta pun sudah ketinggian.?"
Lalu, mengapa Indosat mesti menaikkan tawaran harganya sampai satu setengah kali nilai wajar Excel? Jika, misalnya, Telekomindo ogah melepas saham pada harga yang ditawarkan, Indosat mestinya bisa membangun sendiri fasilitas yang sama?dengan harga yang lebih murah. Lalu, mengapa Indosat harus ngotot?
Sayang, tak ada jawaban yang bisa memuaskan. Direktur Pengembangan Indosat, Safwan Natanagara, malah membantah penawaran kepada Excel. Ia mengaku bahwa Indosat memang akan membeli perusahaan pengelola telepon seluler. Tapi Indosat baru sampai tahap menimbang-nimbang. Di antara ketiga operator yang ada, Excel, Satelindo, dan Telkomsel, belum jelas mana yang akan dipilih.
Jawaban Safwan justru membuat cerita jadi makin ajaib. Publik mestinya belum lupa, beberapa waktu lalu, Indosat bukannya mau membeli, sebaliknya malah menawarkan saham Satelindo yang sudah dimilikinya. "Masa kami punya saham di perusahaan saingan," kata Direktur Utama Indosat, Tjahjono, mengemukakan alasan rencana penjualan penyertaan sahamnya di Satelindo. Nah, kini, mana yang benar: Indosat mau melepas atau membeli Satelindo?
Gampang diduga, teka-teki ini kemudian melahirkan spekulasi. Ada yang bilang akuisisi ini dilakukan untuk menyelamatkan muka Peter Sondakh. Selain punya tunggakan utang US$ 178 juta di bank-bank pemerintah, pengusaha ini terancam tudingan kolusi.
Berdasarkan undang-undang, semua perusahaan jasa telekomunikasi dasar harus menyertakan BUMN sebagai pemegang saham. Nah, dalam Excelcomindo, yang sahamnya dikuasai Peter, tak ada selembar pun saham perusahaan pemerintah. Kabarnya, keistimewaan ini bisa didapat berkat peran Joop Ave, bekas Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, yang selama ini dikenal dekat dengan Peter.
Benarkah spekulasi itu? Tak ada jawaban yang memuaskan. Hanya, sebagai perusahaan publik yang juga tercatat di bursa New York, sepak terjang Indosat tak bisa gegabah. Kalau transaksi-transaksi "miring" seperti itu terjadi, Indosat pasti tak akan lolos dari jerat hukum pengawas bursa saham Amerika Serikat.
Jadi, apa yang membuat Indosat ngotot melamar Excel? Entahlah. Mungkin benar kata orang, ini langkah awal Indosat banting setir ke bisnis multimedia. Maklum saja, tak lama lagi, hak monopoli bisnis telepon tak bisa dikangkanginya lagi.
Dwi Setyo, Mardiyah Chamim, M. Taufiqurohman
|