Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIIII/31 Mei - 06 Juni 1999
   
Pendidikan

Dongeng Pengusir Monster Matematika

Matematika tetap menjadi momok yang menakutkan. Diperparah dengan sistem pengajaran yang amburadul.

JOKO kini masih duduk di kelas 6 SD, tertinggal dua tingkat dari kawan-kawannya. Dua tahun ia harus tinggal kelas gara-gara setiap pekerjaan rumah (PR) matematika tidak pernah dikerjakannya. Begitu bencinya Joko dengan pelajaran hitung-hitungan itu, sehingga ia kerap membolos saat pelajaran tersebut tiba. "Kepala saya cepat sakit begitu Bu Is mengajar matematika. Boro-boro saya bisa menghitung, rumus-rumusnya saja saya malas menghafalnya," katanya. Ketakutan serupa dialami Ica, murid kelas 1 SD di Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Gadis kecil itu sering menangis dan minta pulang ketika pelajaran matematika dimulai. "Saya kasihan pada anak itu. Saking takutnya pada matematika, sampai terkencing-kencing," cerita ibu Ica.

Itu hanyalah sebuah potret kecil betapa menakutkannya pelajaran matematika. Dengan kondisi seperti itu, tak aneh bila rata-rata NEM (nilai evaluasi belajar tahap akhir nasional murni) matematika secara nasional di tingkat SD hingga SMA hanya 5. Artinya, kata Prof. Dr. Djaali, guru besar Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta, setiap murid rata-rata hanya mampu menyerap 50 persen dari seluruh pelajaran matematika yang diajarkan. Ini jelas akan menyulitkan siswa tersebut di SLTP karena, untuk bisa memahami pelajaran matematika di peringkat kelas yang lebih tinggi, siswa itu harus memahami dasarnya 100 persen. "Kalau tidak paham seluruhnya, untuk selanjutnya juga tidak akan paham, karena matematika adalah ilmu yang bertingkat," kata Djaali, yang baru dikukuhkan menjadi guru besar matematika awal Mei 1999 lalu.

Ketidakefisienan pengajaran matematika ini disadari oleh pejabat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, seperti yang diakui oleh Wahyudi Ruwiyanto, staf ahli Menteri P dan K. Masalahnya, matematika adalah ilmu yang abstrak, penuh dengan simbol. Sekarang tinggal bagaimana membuat konkret simbol-simbol tersebut hingga dipahami seorang anak. Untuk menghilangkan momok matematika itu, pihak Departemen P dan K melakukan semacam audit buku pelajaran matematika SD, guna membahas materi apa yang masih terlalu abstrak dan apa yang cocok.

Menurut Djaali, salah satu narasumber dalam seri pertemuan audit itu, ada beberapa patokan dalam pengajaran matematika di SD, dengan menggunakan ukuran kemampuan berpikir (kognitif) yang berjenjang. Anak SD, usia 7-11 tahun, pada umumnya masih berada pada tahap operasional konkret. Artinya, anak-anak di usia tersebut tidak terlalu mampu menangkap hal-hal yang abstrak. "Sebaiknya, penyajian matematika yang abstrak sebisa mungkin menggunakan peraga benda yang konkret," kata Djaali. Misalnya, cara menghitung isi ruang sebaiknya diajarkan dengan menggunakan alat peraga.

Selain soal kognisi, memang masih ada hal lain yang mempengaruhi kegagalan dalam pelajaran matematika seorang murid SD, misalnya kurangnya kemampuan guru dan kesalahan sistem pengajaran itu sendiri. Lalu, jalan keluarnya? Janganlah anak dibuat takut oleh pelajaran matematika. Pelajaran itu bisa diberikan dengan cara informal atau dengan teknik permainan. "Jangan pernah memaksakan murid belajar dengan metode yang sulit dan kaku," ujar Djaali. Itu hal yang sulit dilaksanakan karena guru-guru tak berani menyimpang dari ajaran?karena khawatir tindakannya melanggar Cara Belajar Siswa Aktif.

Sedangkan pakar matematika Andi Hakim Nasution menyarankan masalah ini dipecahkan dengan meningkatkan kualitas guru. Pengajar harus bisa memotivasi anak dan tidak menakut-nakuti murid dengan hukuman jika tidak dapat mengerjakan matematika. Satu lagi saran Rektor Sekolah Tinggi Teknologi Telkom itu untuk meningkatkan kemampuan matematika anak adalah kerap mendongeng kepada anak. "Dengan demikian, anak itu punya kreativitas untuk menangkap sesuatu yang abstrak. Ketika mendongeng, si anak harus memiliki kemampuan abstraksi," kata Andi. Intinya adalah membiarkan anak bercerita, berlatih membuat kalimat, dan menerapkan logika. Seorang anak jenius, ujarnya, bisa mempermainkan kata dengan bagus.

Jadi, tidak adanya paksaan dalam berpikir merupakan hal penting untuk penguasaan matematika?mungkin juga ilmu lain. Hal ini terlihat dalam diri Ondolan Saut Pangidoan, 18 tahun, yang pernah ikut olimpiade matematika. Sejak kecil, siswa ini tidak pernah dipaksa dan ditakut-takuti untuk belajar matematika. Begitu juga Nicholas, yang pernah ikut olimpiade serupa: "Tidak penting menghafal rumus, tapi paham dari mana cara mendapat rumus-rumus itu." Tampaknya, pemahaman seperti itulah yang mesti ditanamkan pada Joko-Joko dan Ica-Ica lain agar monster matematika tak lagi menghantui.

Bina Bektiati, Dewi Rina Cahyani, dan Hani Pudjiarti


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data