Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIIII/31 Mei - 06 Juni 1999
   
Nasional

"Megawati Paling Pantas Jadi Presiden"


(Foto: ROBIN ONG)
BANYAK yang lega ketika Abdurrahman Wahid-Amien Rais-Megawati Soekarnoputri akhirnya bersatu. Dua pekan lalu, ditekenlah Komunike Paso. Ini pernyataan bersama tiga pemimpin partai besar itu untuk membentuk front bersama menghadapi pihak yang masih menginginkan status quo. Belakangan, orang mulai cemas lagi dengan sikap Gus Dur-begitu calon presiden Partai Kebangkitan Bangsa ini biasa dipanggil. Ia mengaku agak ogah-ogahan terhadap komunike itu dan setengah terpaksa melakukannya. "Saya dan Mas Amien enggak begitu in," alasan Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.


Tapi Gus Dur biasa berbicara kontroversial. Pekan lalu, dalam acara Partai-Partai di Televisi Pendidikan Indonesia, deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini kembali mengeluarkan pernyataan yang membuat telinga sebagian orang merah. Ia bilang bahwa keluarga besar Nahdlatul Ulama ibarat ayam betina yang telur dan tahinya keluar dari tempat yang sama. Telur ayam itu PKB dan tahinya adalah partai warga NU yang lain. Wah....


Toh, banyak yang maklum. Dan ia tetap disambut meriah di mana-mana. Jumat pekan silam, alumni Universitas Bagdad kelahiran Jombang 59 tahun lalu ini tampil di Stadion Dwiwindu, Bantul, Yogyakarta, yang dihadiri ribuan pendukungnya. Gus Dur bahkan sempat mengadakan pertemuan tertutup dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X selama sejam. Selama sehari di Kota Gudeg, Gus Dur selalu dituntun salah satu putrinya, Yeni, dan juga petugas humas kampanye PKB, Ratih Harjono, wartawan Kompas. Di sela-sela kegiatannya yang padat itu, Gus Dur bersedia menerima Dwi Arjanto dari TEMPO. Petikan wawancaranya:



Anda kecewa dengan Komunike Paso?

Maksud komunike itu supaya kami bersatu. Padahal, sebenarnya, Mas Amien dan saya enggak begitu in. Tapi enggak apa-apalah. Begitu saja. Apa sih ruginya? Kita enggak rugi apa-apa. Teken ya teken, wis dadi (sudah jadi). Wis kadung telat (sudah terlambat). Untuk diubah-ubah, kan, sudah terlambat.


Kalau begitu, apakah koalisi, khususnya dengan Amien Rais, bisa bertahan terus?

Saya kira ada kesalahan memahami komunike. Mas Amien menyatakan kepada pers bahwa itu koalisi. Padahal, menurut saya, itu merupakan kegiatan bersama, common front, front bersama menghadapi status quo. Jadi, belum ada masalah koalisi. Tapi saya ini orang Jawa. Mau membantah di depan kamera langsung, enggak enak.


Apa platform Partai Kebangkitan Bangsa soal koalisi?

Kita boleh berkoalisi, tapi lihat dulu dengan siapa. Karena itu, kita periksa dulu. Kalau dengan Megawati, sudah jelas. Sudah lama kita periksa dia.


Siapa saja yang akan disertakan dalam koalisi selain Megawati?

Ya, itu nanti berdasarkan hasil pemeriksaan.


Basisnya apa?

Kejujuran. Kejujuran sikap, policy, dan hubungan, juga dalam soal jabatan, uang, dan kehidupan.


Bagaimana pembagian kekuasaannya nanti?

Kita tidak menentukan siapa jadi apa. Kita tidak berdasarkan partai, melainkan berdasarkan syarat-syarat yang umum sajalah. Satu, harus jujur dan sederhana. Kedua, harus tahu apa yang harus diperbuat. Ketiga, diterima masyarakat luas. Jadi, enggak peduli Golkar atau PKB atau apa, terserah.

Setelah Komunike Paso, Amien juga menggandeng Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Keadilan. Apakah Gus Dur merasa dikhianati?

Enggak.


Mana yang lebih penting, beraliansi dengan partai yang berbasis Islam atau yang berbasis anti-status quo?

Jelas dengan yang anti-status quo, dong. Kita enggak ambil pusing soal aliansi partai Islam. Islam itu sangat kecil, enggak jadi faktor (utama). Soalnya, ada partai Islam yang enggak jujur.


Siapa partai status quo itu?

Saya enggak mau sebut, enggak enak. Golkar jelas. Saya enggak mau koalisi dengan Golkar.


Partai Kebangkitan Bangsa tak mungkin bergandengan dengan Golkar?

Enggak mungkin. Tapi harus dibedakan antara "Golkar" dan "orang Golkar".


Maksudnya?

Orang Golkar yang bagus, ya, bisa kita ambil. Toh, dia bukan mewakili Golkar, melainkan pribadinya.


Menurut Gus Dur, siapa yang paling layak menjadi presiden?

Bagi saya, yang paling pantas itu Mbak Mega, kemudian Sri Sultan HB X, lalu Wiranto. Pertimbangannya adalah kemampuan. Ya, memang Mega itu bodo, tapi dia jujur kepada rakyat.


Kenapa Sri Sultan?

Kemampuannya. Kita sudah melihat. PKB Yogya malah sudah mengusulkan namanya sebagai calon presiden ke DPP.


Mengapa menyodorkan juga Wiranto?

Soalnya enggak ada masalah. Asal (figur) ABRI itu betul-betul bekerja untuk bangsa, ya, enggak ada masalah.


Apakah Gus Dur akan mempertimbangkan ABRI dalam kerangka koalisi?

Ya, lihat bagaimana yang lain-lainnya juga. Namanya juga koalisi. Apakah yang lain mau? Kalau yang lain enggak mau, bagaimana reaksi ABRI sendiri? Itu saja. Kita lihat saja semuanya. Kita jujur-jujur saja. Kok, repot.


Kalau kemungkinan koalisi dengan militer itu ada, apa barter PKB dengan ABRI?

Ini enggak pakai barter. Ini pokoknya berniat membangun Indonesia kembali. Enggak ada trade off. Trade off satu-satunya cuma visi yang jelas.


Menurut Anda, siapa yang paling layak menjadi presiden dari kalangan tentara?

Enggak tahu saya. Saya enggak mau ambil pusing siapa yang paling capable. Secara institusional, calonnya ABRI siapa, sih? Mari kita lihat. Kalau bicara ABRI, ya, kita tanya kepada lembaganya.


Bagaimana sikap PKB terhadap dwifungsi ABRI?

PKB belum menentukan. Tapi NU sudah jelas. Kita akan menghentikan dwifungsi setelah enam tahun, enggak sekarang. Kenapa? Karena dwifungsi itu berkaitan dengan penghasilan rata-rata anggota ABRI. Kalau orang ABRI itu penghasilannya enggak cukup untuk hidup, ya, dia akan tetap mencoba berdwifungsi. La, itu enggak boleh. Kita jujur-jujur saja. Kita bilang oke (dwifungsi). Kita kasih waktu enam tahun, mulai Desember 1998 kemarin.


PDI Perjuangan-PAN-PKB membentuk sebuah koalisi kebangsaan. Bagaimana untuk menggulirkan terus koalisi semacam itu?

Ya, terusin saja. Dari dulu kita enggak pernah menggulir-gulirkan (maksudnya membesar-besarkan), akhirnya jadi juga. Kita dengan PDI Perjuangan enggak ada masalah. Anda lihat sendiri sekarang, di kalangan massa, mereka bekerja sama. Enggak usah digulir-gulirkan sudah jadi sendiri. Makanya, sebetulnya kemarin sewaktu diajak komunike, saya agak malas. Kenapa? Enggak pakai apa-apa juga jalan, kok. Selama ini saya dengan Megawati selalu ada komunike bareng-bareng.


Apakah koalisi bercorak kebangsaan semacam itu akan berlanjut sebelum dan sesudah pemilu?

Iya.


Koalisi Anda ini yang paling ideal?

Kalau menurut saya, PKB itu diikuti baik oleh intelektual kota maupun oleh kelas yang berkuasa. Itu tergantung kinerja kita di dalam masyarakat. Kita lihat saja dalam pemilu besok. Jangan mendahului. Pengamat boleh-boleh saja membuat analisis. Saya enggak tunduk dengan pengamat.

Anda yakin PKB meraih banyak suara dalam pemilu?

Anda harus tahu bahwa middle class pada umumnya masih berpegang pada PAN, sedangkan the lower class pada PDI Perjuangan. Lower class dibandingkan dengan middle class itu yang lebih gede adalah lower class. Tapi di dalam rural area itu umumnya warga NU. La, majority dari bangsa Indonesia itu di rural area. Kalau enggak salah, perbandingannya 65 : 35, sebagaimana data Biro Pusat Statistik, atau katakanlah 60 : 40. Jadi, masih menang PKB.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data