Peluang Berdagang di Internet Jual beli barang melalui e-commerce di Indonesia rupanya sudah punya pasar tersendiri. Pemiliknya untung, barang yang ditawarkan pun makin beragam. |
Ada dua persamaan yang paling mendasar antara pasar Blok M di Jakarta Selatan dan bursa elektronik di Harco Manggadua, Jakarta Utara. Keduanya merupakan tempat yang paling lengkap untuk berbelanja berbagai macam barang kebutuhan. Kemiripan lainnya, situasi lalu lintas di kedua tempat itu sangat menjengkelkan karena kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari. Kondisi itu yang menyebabkan seseorang sering menunda waktu untuk pergi ke pasar tersebut. Kalau begitu, kenapa tak berbelanja lewat internet saja? Di dunia abstrak ini kini dengan mudah ditemui e-commerce dalam negeri yang menawarkan berbagai barang. Tak perlu bermacet-macet.
Sejak diperkenalkan di sini sekitar dua tahun silam, hingga saat ini tercatat tak kurang dari 40 warung lokal yang "buka" 24 jam nonstop. Pesatnya pertumbuhan itu tak lain karena tuntutan berbelanja dengan cara yang lebih cepat dan efektif. Misalnya saja Anda ingin membeli televisi dan harus membanding-bandingkan berbagai merek. Apa tidak habis waktu untuk menyusuri pertokoan elektronik untuk melihat spesifikasinya? Dengan e-commerce, konsumen bisa membandingkannya dalam waktu sekejap, persis mengunjungi sebuah pameran akbar.
Barang yang dijajakan di banyak warung internet dari dalam negeri juga sudah beragam. Konsumen dapat melihat berbagai barang, mulai dari baju, bunga, makanan, hingga barang-barang elektronik tanpa harus mencuri waktu kerja atau mengumpat di tengah kusut masainya situasi lalu lintas. Juga tersedia keperluan rumah tangga seperti beras dan gula. Semua barang itu bisa dipesan melalui internet.
Dua pekan lalu, bertambah satu lagi warung yang menjajakan barang baru yang belum pernah ada di warung internet. Warung bernama Risti itu menjajakan dokumen standar telekomunikasi dan berbagai jasa berhubungan dengan telekomunikasi. Misalnya Anda ingin memasang mesin faks merek tertentu yang tidak beredar di sini. Kalau ingin tahu apakah mesin itu bisa dipasang atau tidak, Anda bisa berkonsultasi melalui Risti (www.ristishop.com). Begitu pula bila ingin menguji peralatan telekomunikasi, Anda bisa mengklik warung milik PT Telkom bekerja sama dengan Microsoft Indonesia dan Hewlett Packard Berca Servicindo itu.
Saat ini Risti memang baru menawarkan sebatas konsultasi, tapi kelak Risti juga akan menawarkan produk-produk yang berhubungan dengan telekomunikasi, misalnya software yang program hingga pemasangannya bisa dilakukan Risti. Dengan pengkhususan semacam ini, mestinya Risti bisa lebih mudah dikenal. "Sehingga, jika orang butuh sesuatu yang berhubungan dengan telekomunikasi, dia langsung ingat Risti," kata Setyanto Hantoro, Manajer Proyek Risti.
Warung-warung maya semacam ini rupanya memang punya pasar tersendiri. Hardi Tanuwijaya, pemilik kios toserba Indomall Medan (di www.indomall.com), misalnya, mengaku bahwa bisnis yang dirintis persis setahun lalu itu kini telah mampu menggaruk omzet Rp 50 juta per bulan. Padahal, semula ia hanya mengeluarkan Rp 10 juta untuk memulai bisnisnya di e-commerce. Kini, jumlah barang yang didagangkan pun terus bertambah. Selain kue bikan ambon atau kerajinan tangan seperti dompet dan lukisan khas Medan, Hardi juga sedang merintis untuk membuka kios bunga (flowers online) yang barangnya bisa dikirim hingga ke Batam, Jakarta, dan Surabayaselain di Medan sendiri.
Cerahnya masa depan e-commerce di Indonesia juga diakui Jendi Gozali, pemilik kios buku Sanur, yang bertempat di www.sanur.co.id itu. Dengan internet, ia bisa berjualan semalam suntuk. Berbagai barang bisa dijual tanpa mengkhawatirkan tempat dan lokasinya, strategis atau tidak. Bahkan konsumen yang dapat dijangkau menjadi lebih luas daripada membuka toko sungguhan. "Kalau kita punya toko di Jakarta, orang Bandung kan tidak bisa beli?" katanya.
Dengan internet, perbedaan jarak memang menjadi tidak ada. Masyarakat di Bandung, bahkan Indonesia Timur seperti Irianjaya, misalnya, punya kesempatan yang sama dengan orang Jakarta untuk memperoleh informasi dan mendapatkan buku-buku keluaran terbaru. Karena itu, Jendi optimistis, modal yang ditanamnya untuk bisnis ini akan kembali dalam waktu tak sampai tiga tahun.
Ma'ruf Samudra, Purawani Dyah Prabandari, dan Rinny Srihartini (Bandung)
|