Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIIII/31 Mei - 06 Juni 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Belanja Bank di Tengah Krisis

Dalam sebulan ini, harga saham perbankan di bursa Jakarta naik dua sampai tiga kali lipat.

BUNGA deposito terus merosot, Anda bingung menaruh uang? Cobalah sekali-sekali melirik bursa saham Jakarta. Jangan kaget, di pasar yang katanya penuh risiko itu, ternyata ada peluang keuntungan luar biasa besar.

Lihat saja. Dua bulan terakhir ini, harga saham bank menanjak demikian kencang. Mari kita hitung. Harga saham Bank Bali, misalnya. Hingga pertengahan April, bank papan tengah ini harga sahamnya terpatok pada Rp 325. Tapi tiba-tiba, wut, terus menanjak hingga mencapai Rp 1.500. Total jenderal, harga saham Bank Bali melambung hampir lima kali lipat hanya dalam tempo satu setengah bulan.

Bank Panin juga begitu. Sudah berbulan-bulan ini, harga saham Bank Panin tak pernah beranjak pada kisaran Rp 425 tiap saham. Tapi, mendadak sontak, seperti kesetrum listrik ribuan volt, harga saham bank papan tengah ini mendaki tak ketulungan hingga sampai Rp 1.425.

Bank lain sama saja. Sebut saja Bank Lippo, Bank Danamon, Bank BII, bahkan Bank BNI, yang kinerjanya disebut-sebut kurang sedap, mengalami nasib sama. Kalau mau dipukul rata, harga saham perbankan di bursa Jakarta menanjak sedikitnya dua kali lipat dalam satu setengah bulan terakhir.

Jelas saja, saham bank di bursa Jakarta kemudian menjadi ladang pembiakan uang yang amat menggiurkan. Jika Anda membeli saham Bank Bali tepat satu bulan lalu, misalnya, hari ini Anda sudah mengantongi untung bersih 150 persen. Wah! Bandingkan dengan kemampuan reproduksi deposito, yang cuma mencetak bunga 2,5 atau paling banter 3 persen sebulan.

Tapi, itu kalau Anda tepat masuk sebulan lalu. Bagaimana jika sampai hari ini Anda belum juga mengantongi selembar pun saham bank? Apakah Anda masih punya peluang? Mari kita simak pendapat para analis keuangan.

Pertama, kita perlu cari tahu, mengapa tiba-tiba saham perbankan di bursa Jakarta menyala-nyala. Menurut Direktur Riset SocGen Global Equities, Lin Che Wei, tanjakan harga saham bank itu merupakan berkah dari cipratan dana investor asing yang menyerbu Asia. Para pemain uang ini menghitung, keuntungan dari bursa di Eropa dan Amerika Serikat mulai menipis. Adapun tingkat risiko di Asia, seiring dengan redanya gejolak perekonomian, mulai berkurang. Bursa saham Asia mulai terlihat menjanjikan keuntungan.

Lalu mengapa mereka ke Jakarta? Sebenarnya mereka menyebar ke seluruh Asia. Jakarta ikut mendapat bagian lantaran peluang untuk mengail untung dari investasi dalam mata uang rupiah amat menggiurkan. Arief Kuswanto, analis saham di HSBC Securities, menjelaskannya dengan beberapa indikator yang sederhana berikut ini.

Pertama, tingkat reproduksi rupiah tergolong paling subur. Bayangkan saja. Suku bunga sertifikat Bank Indonesia masih 26 persen, sedangkan proyeksi inflasi cuma 10 persen. Artinya, suku bunga riil rupiah mencapai 16 persen. Atau, dengan kata lain, daya biak rupiah 2,5 kali lebih cepat ketimbang kenaikan harga barang. Rupiah yang Anda simpan hari ini bisa ditukar dengan barang dua setengah kali lipat lebih banyak pada tahun depan.

Bandingkan dengan jika Anda memegang dolar. Tingkat suku bunga surat utang pemerintah Amerika Serikat, yang sering menjadi patokan alias benchmark bagi suku bunga di sana, paling banter cuma 5 persen, sementara proyeksi inflasi AS mencapai 2,3 persen. Artinya, suku bunga riil dolar cuma 2,7 persen.

Negara-negara Asia yang lain? Juga tak jauh-jauh dari AS. Thailand, misalnya, kata Arief, suku bunga baht cuma 5 persen, sedangkan proyeksi inflasinya sampai 3 persen. Jadi, cuma 2 persen daya kembang riilnya.

Perbandingan suku bunga riil bisa dipakai sebagai pegangan investasi jika nilai tukar rupiah relatif stabil. Gelagat itu, menurut Arief, nyata terlihat. Ia menilai tingkat spekulasi sudah menurun drastis karena stok rupiah di luar negeri telah berkurang. Selain itu, sistem pemantauan devisa sudah makin ketat, sehingga stok dolar kita tak gampang terbang ke luar negeri. Intinya, "Nafsu spekulasi menurun, sehingga rupiah jauh lebih stabil."

Nah, paduan dari fakta-fakta itulah, nilai yang tak terguncang dengan bunga riil yang paling menggiurkan, menjadikan rupiah primadona investasi. Maksudnya, instrumen investasi yang memakai denominasi rupiah (termasuk saham di bursa Jakarta) juga ikut terlihat cantik.

Apalagi ada sejumlah bukti bahwa daya beli masyarakat mulai menggeliat. Ini tampak, misalnya, dari penjualan mi Indofood, yang mencapai 2,2 miliar bungkus sepanjang tahun lalu (tak pernah terjadi selama ini). Juga perekonomian tampak mulai tumbuh (produk domestik bruto naik 1,34 persen dalam kuartal pertama). Maka, lengkaplah sudah alasan investor asing untuk menyerbu Jakarta.

Lalu mengapa mereka menyerbu bank? Ada sejumlah alasan. Yang pertama tentu pencabutan pembatasan kepemilikan asing di bank umum. Sebelum ini, modal asing dilarang menguasai mayoritas saham bank. Tapi, sejak dua pekan lalu, aturan itu dicabut dan modal asing diizinkan memiliki sampai 99 persen lebih. Ini tentu mendorong masuknya investor asing ke bank-bank yang porsi modal asingnya sudah hampir melampaui batas.

Yang kedua, pertengahan Mei lalu Bank Indonesia menaikkan batas minimal modal untuk mendirikan bank baru, menjadi Rp 3 triliun. Kebijakan ini jelas memompa harga izin bank sekaligus mendongkrak nilai bank-bank lama. Calon investor bank harus berpikir ulang: mana yang lebih murah, membeli bank lama atau mendirikan yang baru? Jika harga bank lama plus biaya untuk menyehatkannya lebih rendah dari Rp 3 triliun, pilihannya tentu lebih murah membeli ketimbang membangun bank baru.

Nah, seorang analis asing menghitung, pada pertengahan Mei lalu, sedikitnya ada delapan bank di bursa Jakarta yang harga dan ongkos rehabilitasinya jauh lebih kecil dari Rp 3 triliun. Bank Global Internasional, misalnya, total harga maupun ongkos penyehatannya tak sampai Rp 510 miliar. Padahal, menurut hasil uji tuntas (due diligence) auditor internasional, bank kecil ini masuk dalam kategori A (rasio kecukupan modalnya memenuhi syarat untuk hidup).

Kemudian Bank Pikko. Pada pertengahan Mei lalu, semua (100 persen) saham bank yang masuk kategori A ini harganya cuma Rp 61 miliar. Biaya rehabilitasi? Juga murah. Jika saja seluruh aset Bank Pikko kita anggap barang busuk yang harus dibuang, biaya penggantiannya cuma Rp 1,022 triliun. Total jenderal, seluruh biaya untuk membeli dan mereparasi Pikko, ketika itu, cuma Rp 1,083 triliun, tak sampai separuh modal yang diperlukan untuk mendirikan bank baru.

Hitung-hitungan sederhana ini menunjukkan bahwa harga saham beberapa bank yang terdaftar di bursa Jakarta jauh lebih murah ketimbang izin pendiriannya. Wajar jika kemudian saham bank-bank itu diserbu investor.

Selain karena dua aturan baru itu, kegairahan terhadap saham perbankan juga didorong faktor fundamental, misalnya dimulainya program injeksi modal yang dikenal sebagai rekapitalisasi. Pada dasarnya, tambahan modal ini mengubah aset-aset bank yang "puso" (kredit macet yang tak memberi penghasilan apa pun) menjadi aset lancar yang memberi penghasilan bunga kepada bank.

Selain itu, bunga bank yang mulai turun harus pula dicatat sebagai salah satu pendorong penyehatan bank. Turunnya suku bunga akan menurunkan biaya bank (untuk membayar bunga deposito) sekaligus mengurangi beban spread negatif, yang sejak masa krisis terus-menerus menggerogoti modal bank.

Namun, pelbagai catatan yang menenteramkan itu bukan tak menyimpan bahaya. Penurunan suku bunga, misalnya, bisa jadi bumerang yang memukul balik bisnis bank. Suku bunga yang tinggi selama ini dinilai sebagai daya tarik hingga para investor masih tetap setia memegang rupiah. Jika suku bunga terlalu cepat dikerek turun, para peternak rupiah bisa menggantinya dengan ternak lain yang lebih produktif. Kalau ini terjadi, nilai tukar rupiah akan kembali tersungkur, dan bisnis bank kembali hancur.

Selain itu, ancaman terjadinya kredit macet belum juga bisa diabaikan. Sepanjang sektor produksi (riil) masih kembang kempis, risiko kredit tetap saja tinggi. Selain terancam pendapatannya oleh kredit macet, bank juga akan kesulitan menyalurkan kredit baru. Karena tak ada penghasilan, bunga tabungan terpaksa didanai dengan menarik pinjaman dari Bank Indonesia atau menarik tabungan baru yang lebih besar. Ini akan menjadi lingkaran setan yang akan mencekik leher bank.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Para analis melihat sebagian besar saham bank saat ini harganya sudah kemahalan. Ruang untuk bergerak naik sudah terbatas. Mereka khawatir, jika Anda baru main borong saat ini, akan kebagian buntutnya. Beberapa analis malah mengatakan, kini saatnya menjual saham bank untuk mengambil untung.

Tapi, jangan khawatir. Beberapa bank masih menjanjikan keuntungan, walau tingkat risikonya juga besar. Bank Bali, misalnya. Harga saham bank yang dikenal konservatif ini dipercaya masih bisa terdongkrak naik, dengan syarat, pinangan Standard Chartered benar-benar terwujud menjadi perkawinan.

Bank Danamon juga menjadi salah satu alternatif yang lumayan. Bank papan atas ini jaringannya luas, mencapi 27 provinsi di Indonesia. Memang, rapor Danamon selama ini kurang berkilau karena terlalu banyak kredit yang macet. Tapi Che Wei yakin, jika aset-aset busuk itu dibersihkan kelak, Danamon akan menjadi incaran investor asing.

Nah, Anda mau ikutan memborong? Hati-hati, risiko tanggung sendiri.

Dwi Setyo, Mardiyah Chamim, Leanika Tanjung


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data