|
|
| |
Edisi. 13/XXIIIIIIII/31 Mei - 06 Juni 1999
|
Esensi dari Esensi Naguib Mahfouz Sebuah otobiografi tidak selalu merupakan sejarah pribadi yang bersifat naratif. Buku pemenang Nobel ini contohnya. |
| Echoes of an Autobiography | | Penulis | : | Naguib Mahfouz | | Pengantar | : | Nadine Gordimer | | Penerbit | : | Doubleday, New York, 1997, xvii + 122 halaman |
Naguib Mahfouz (lahir pada 1911) seorang sastrawan Mesir yang pernah menjadi sasaran pembunuhan oleh sebuah konspirasi politik di negerinya. Itu terjadi enam tahun setelah dia menerima penghargaan Nobel di bidang sastra dari Akademi Swedia pada 1988. Pemerintah Mesir menuduh Gama'a el-Islamiya, organisasi Islam garis keras setempat, sebagai pelakunya. Tudingan itu belum tentu benar. Tapi pertanyaan yang penting diajukan: siapa Mahfouz sebenarnya? Di manakah posisi dia di antara gebalau politik antara pemerintahan sekuler Hosni Mubarak dan kelompok Islam garis keras? Apakah karya Mahfouz dianggap mengusik ortodoksi yang digenggam erat kelompok Islam militan?
Seorang penulis di majalah kebudayaan New Yorker pernah menyebut Mahfouz yang muslim itu sebagai seorang sekuler. Itu sebetulnya sebutan yang mengandung pengertian kabur, dan karena itu bisa mengundang perdebatan. Sebutan sekuler untuk seseorang mengindikasikan yang bersangkutan cenderung ingin memisahkan urusan negara dari soal-soal agama, khususnya Islam. Sedangkan kelompok Islam garis keras—secara serampangan disebut sebagai kaum fundamentalis—adalah mereka yang menginginkan pemberlakuan sistem syariat (hukum Islam) secara menyeluruh dalam kehidupan, termasuk urusan kenegaraan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang sekuler sering diasosiasikan secara stereotip sebagai pribadi yang permisif terhadap hedonisme, sedangkan yang fundamentalis cenderung puritan menyangkut seks dan kenikmatan duniawi.
Pengotak-ngotakan semacam itu—bahwa Mahfouz seorang sekuler—adalah bias politik karena sejatinya dalam beragama manusia tidak bisa diletakkan dalam sebuah kanvas yang hitam putih. Dalam beragama, sejatinya ada gradasi-gradasi dan nuansa penghayatan yang sangat pribadi. Buku ini mengungkapkan renungan terhadap berbagai peristiwa yang dialami dan yang disaksikan oleh penulisnya: Naguib Mahfouz. Salah satu bagian terbanyak berupa catatan pertemuannya dengan Abd-Rabbih al-Ta'ih, sufi Mesir yang bergaya hidup liberal. Buku ini secara tidak langsung mematahkan pengotakan sekuler atau nonsekuler seorang Mahfouz—karena buku ini tebaran hikmah sufi.
Walaupun bagian ini mirip renungan sufi, Mahfouz menyajikannya dalam gaya khas seorang penulis realis yang liberal. Ada keliaran renungan menyangkut gairah cinta dan spiritualitas. Perempuan di mata Mahfouz bukan sekadar simbol kecantikan dan keriaan dalam hidup, tapi juga simbol dari api spiritualitas. Mahfouz melihat bahwa sensualitas adalah bagian dari spiritualitas karena hidup sejatinya medan ketegangan kreatif antara gairah dan rambu-rambu moral. Dalam buku ini, renungan itu muncul lewat parabel semacam ini. "Aku bertanya kepada Syekh Abd-Rabbih al-Ta'ih tentang orang ideal yang dekat dengannya. Dia berkata: 'Orang yang baik adalah yang teguh mengabdi kepada masyarakat dan mengingat Tuhan. Dan yang pada ulang tahunnya ke-100, dia berpesta minum, menari, menyanyi, dan menikahi perawan berusia 20 tahun'."
Dalam bentuk catatan tanpa tanggal, setiap bagian ditulis amat pendek: terpanjang satu setengah halaman, bahkan ada yang hanya terdiri atas beberapa kalimat. Setiap catatan—semua berjumlah 200—dibubuhi judul. Tidak dimaksudkan sebagai otobiografi dalam pengertian yang lazim, buku ini lebih merupakan mosaik renungan yang sangat pribadi dalam bentuk vinyet, refleksi, alegori, kenangan masa kecil, impian, dan renungan spiritual. Nadine Gordimer, penulis asal Afrika Selatan, dalam kata pengantar buku Gaung Sebuah Otobiografi ini menyebut mosaik itu sebagai "esensi dari esensi" renungan kehidupan.
Kelik M. Nugroho
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|