|
SILANG sengketa pengganti Paku Alam VIII terjawab sudah. Setelah melalui konflik keluarga yang panjang, Rabu, 26 Mei 1999 pekan lalu, Kanjeng Pangeran Haryo (K.P.H.) Ambarkusumo, 61 tahun, dinobatkan menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (K.G.P.A.A.) Paku Alam IX oleh sesepuh Pakualaman, Prof Dr. Ir. K.P.H. P.K. Haryasudirja Sasra.
K.G.P.A.A. Paku Alam IX mengenakan pakaian adat Jawa, beskap lengkap warna hitam, dihiasi manik-manik kuning emas. Ia menggantikan ayahnya yang meninggal September 1998.
Upacara jumenengan raja Jawa akhir abad ke-20 ini terasa tak punya kesan agung. Lima saudara laki-laki, dari sembilan bersaudara lain ibu, dari K.G.P.A.A. Paku Alam IX tidak hadir. Adapun satu-satunya raja di Jawa yang hadir hanya Hamengku Buwono X.
Usai penobatan, ia membuat tiga keputusan baru, pertama mengangkat istrinya menjadi permaisuri yang bergelar Kanjeng Bendoro Raden Ayu (K.B.R.Ay.) Ambarkusumo. Kedua, mengukuhkan permaisuri PA VIII, yang semula bergelar Kanjeng Raden Ayu (K.R.Ay.), menjadi K.B.R.Ay. Ketiga, mengangkat putra pertamanya, R.M. Wijoseno Hariyo Bimo, S.E., menjadi Bendoro Pangeran Hariyo (B.P.H.) Suryodilogo, dan dua adiknya memperoleh gelar Bendoro Raden Mas Hariyo (B.R.M.H.).
K.G.P.A.A. Paku Alam, usai penobatan, dikirab mengelilingi wilayah Pakualaman dengan kereta Kyai Manik Kumolo, yang sudah berusia 2 abad. Kereta hadiah dari Thomas Stamford Rafles kepada Paku Alam I ini digunakan hanya untuk jumenengan.
MOXA Henry Nadeak, 57 tahun, yang dikenal sebagai wartawan senior, meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Senin, 24 Mei 1999. Mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan itu terkena serangan jantung. Ratusan kerabat hadir di rumah duka, termasuk Sabam Siagian, mantan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, dan Sabam Sirait dari PDI Perjuangan. "Ia adalah wartawan senior yang sangat dihormati oleh para yuniornya," kata Petron Curie, Pemimpin Umum Harian Suara Bangsa, yang juga adik almarhum.
|