Jantung Tak Lagi Bugar Ada alat baru untuk memantau kebugaran jantung, yang bisa memberikan data, menganalisisnya, dan memberikan solusinya. Berguna untuk kasus yang membutuhkan penanganan cepat. |
Anda ingin mengonsumsi Viagra? Meski saat ini Anda tidak sedang menderita penyakit jantung, yang tidak bisa sembarangan mengonsumsi Viagra, tak ada salahnya untuk berhati-hati. Soalnya, meski Anda terlihat sehat, belum tentu kondisi jantung Anda cukup bugar untuk mengonsumsi obat antiimpotensi itu. Mengetahui kebugaran jantung bisa dilihat dari hemodinamiknya, yaitu dengan mengukur kemampuan jantung dan pembuluh darah dalam memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Kemampuan hemodinamik seseorang antara lain bisa dilihat dari Cardiac Output Maximal (COMax), yang menggambarkan kekuatan pompa jantung dan Oxygen Transport Capacity (DO2 Capacity) yang memperlihatkan kandungan oksigen dalam darah. Jika jumlah darah yang dipompa jantung ternyata kurang banyak, tinggalkan niat Anda untuk mengonsumsi Viagra. Dalam kondisi seperti itu, Viagra akan membuat darah habis dipompakan ke penis sehingga bagian penting tubuh lainnya, seperti otak, tidak kebagian darah dan mengkibatkan kematian.
Pemeriksaan hemodinamik memang mudah dilakukan.Yang jadi masalah, bagaimana menentukan fungsi hemodinamik itu secara akurat. Selama ini pemantauan fungsi hemodinamik dilakukan melalui pemantauan (monitoring) noninvasif konvensional, antara lain dengan mengukur tekanan darah, denyut nadi, atau jumlah urine per jam. Pengukuran semacam itu sebenarnya tidak begitu akurat tapi tetap dijadikan pegangan karena memang bisa diandalkan untuk kasus-kasus penyakit yang ''biasa saja". Namun, untuk kasus gawat, metode konvensional itu tak bisa terlalu diandalkan untuk memantau kondisi pasien yang harus diikuti setiap menit, misalnya pasien yang mengalami syok, yang sebenarnya telah mengalami dekompensasi sirkulasi. Dekompensasi adalah kegagalan organ tubuh untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi.
Kini, di Indonesia tersedia sarana baru yang bisa diandalkan tak hanya untuk kasus ringan atau menolong penderita impotensi, tapi juga untuk kasus gawat. Sarana pemantauan noninvasif itu namanya HOTMan (Hemodynamic and Oxygen Transport Management) System. Peralatan itu bisa memonitor kondisi organ dalam tubuh tanpa memasukkan alat ke dalam tubuh. Dengan menempelkan empat kabel masing-masing di bagian leher kiri dan kanan serta di bagian perut kiri dan kanan, kondisi kebugaran seseorang bisa tergambar dalam sebuah layar monitor.
Alat yang baru mendapat persetujuan badan pengawas obat dan makanan AS, FDA, pertengahan tahun lalu itu mampu mengukur 14 parameter. HOTMan System tak hanya bisa melaporkan kondisi secara lebih akurat, tapi juga menganalisis dan memberikan opsi penanganannya. Opsi itu bisa berupa jenis obat dan dosisnya bagi pasien. Dokter pun, sebelum memberikannya kepada pasien, bisa melakukan simulasi dulu yang hasilnya?cocok atau tidak?bisa diberitahu oleh alat itu. ''Kepintaran" alat itu, menurut dr. Basrul Hanafi, dari tim Critical Care Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, sangat membantu terutama dalam keadaan kritis. ''Tingkat pasien yang bisa diselamatkan otomatis akan lebih tinggi karena alat ini membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih cepat dan tepat," katanya.
RS Hasan Sadikin, sejak Februari lalu, memang telah menggunakan HOTMan System. Sebelumnya, alat yang dipergunakan adalah alat yang bernama TEBCO, yang hanya mampu mengukur delapan parameter dan penggunaannya pun dengan memasukkan kateter ke dalam tubuh. Tampaknya HOTMan baru dipakai di RS Hasan Sadikin saja. Beberapa rumah sakit besar yang dihubungi TEMPO umumnya masih memakai peralatan ''lama". RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, misalnya, menggunakan alat monitoring invasif yang hanya mendeteksi enam parameter saja.
Bagi Havil D. Abdulgani, salah seorang dokter ahli bedah jantung di RS Hasan Sadikin, yang mengagumkan dari HOTMan adalah kemampuannya mengukur kekuatan otot jantung hingga dalam satuan gram. ''Ini tidak dipunyai alat lain yang pernah saya gunakan," katanya.
Yang mungkin menarik bagi pasien, alat ini meski canggih bisa menghemat biaya sampai tujuh persen dari biasanya. Apalagi, HOTMan juga memungkinkan pasien di suatu klinik dipantau dari rumah sakit lain, bahkan dari negara lain. Karena itu, saat ini Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, tengah meneliti efektivitasnya, bila kemungkinan alat itu diterapkan pada beberapa kondisi klinik. Diharapkan fasilitas semacam ini akan membuat pelayanan pasien gawat atau berisiko tinggi makin baik. Dan yang penting buat pasien pada masa krisis begini: lebih murah.
G. Sugrahetty I, Ma'ruf Samudra, Agus Hidayat, dan Rinny Srihartini (Bandung)
|