Boneka-Boneka Gundul Misterius Sebagai dalang dan aktor, Frank Soehnle ikut bermain dalam teater bonekanya. Tontonan menarik (juga horor?) untuk segala umur. |
| Flamingo Bar | Teater Figur Tubingen Di Teater Utankayu, 14 dan 15 Mei, 1999 |
CERITANYA berawal dari boneka yang memakai kostum burung merak, yang namanya menjadi lakon teater boneka ini, Flamingo Bar. Ia mula-mula menggelantung. Lalu turun ke lantai, tengkurap. Ia diam membisu seribu bahasa, bak pertapa. Ia tak makan, tak minum, tidak mendesah, lebih tampak tidur. Sekali-kali ia bangun dan berjalan. Sebentar. Lalu berhenti lagi untuk membisu. Kemudian, muncullah beberapa boneka menggodanya. Tapi ia tidak tergoda sedikit pun, sampai pertunjukan usai setelah tergelar sekitar 55 menit.
Para penggoda itu ada boneka kembar penari kipas, boneka pemain akrobat, boneka nasar (burung pemakan bangkai), boneka "Drag Queen" tua (pemain kabaret?), juga boneka malaikat pelindung yang kecil, sebesar telapak tangan, dan jangan lupa boneka angsa persis mainan kanak-kanak, yang biasa kita jumpai di supermarket .
Sebagai dalang, sewaktu memainkan boneka-bonekanya, Frank Soehnle tidak menyembunyikan badannya dari penonton. Bahkan, Soehnle ikut terjun sebagai aktor. Sudah tentu, terjadi interaksi antara Soehnle dan boneka-bonekanya. Dan di sinilah pertunjukan ini memikat. Ketika menggoda sang Flamingo Bar, Soehnle memangku boneka "Drag Queen" tua sambil meminjamkan kakinya, yang berbulu dan memakai sepatu perempuan. Adegan ini paling memikat karena lucu, fantastis, dan aneh.
Si Drag Queen tua melenggang-lenggok, berusaha betul gerakan erotisnya bisa mendongkel ketabahan hati Flamingo Bar. Si Queen juga menyingkap bajunya untuk memperlihatkan betisnya. Ya ampun, betis si Soehnle! Penonton pun "gerr". Tapi, tunggu dulu. Ada pertanyaan khusus dari anak-anak untuk Om Soehnle: "Kenapa penonton tertawa karena boneka menyingkap betisnya?" Pertanyaan ini wajar, meski sehari-harinya sang anak biasa melihat ibunya memakai rok supermini.
Bung Soehnle tidak bercerita lurus. Terpotong-potong. Begitulah, satu per satu adegan bermunculan, yang sebagian berdiri sendiri-sendiri. Muncullah nasar yang tinggi meliuk-liuk. Alhamdulillah, boneka ini bisa mudah bermetamorfosis: kadang tampak sebagai penari, kadang sebagai burung pemakan bangkai yang ganas, yang menyeret si bisu, seperti mau di-"kremus"-nya. Kali lain, Soehnle dengan anjingnya nonton opera Barbier von Sevilla dan Tosca. Ternyata, anjing bermoncong runcing ini bisa mengikuti jalan ceritanya. Anjing itu manggut-manggut, geleng-geleng, termangu, kaget, atau sedih. Pada adegan yang menyenangkan, ekor anjing itu ber-kipit-kipit. Bahkan, pada adegan yang mengharukan, anjing itu terempas jatuh pingsan, yang membuat Soehnle cemas.
Perlu dicatat, sejumlah adegan mengharuskan Pak Dalang berlatih keras. Pada adegan dua penari kembar kipas, gemulai para penari entah lari ke mana. Juga, saat pemain akrobat nongol, gerak akrobatiknya tidak mengesankan. Namun, secara keseluruhan, Soehnle sudah berhasil mengembuskan nyawa ke dalam boneka-bonekanya.
Soehnle memainkan seluruh bonekanya sendirian di atas lantai seukuran kira-kira dua kali dua meter. Kali ini, Soehnle dan Karin Ersching, teknisinya, berproduksi bersama Teater Rudimentar untuk Teater Boneka Stuttgart. Mereka sudah unjuk kebolehan di Hanoi, Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta. Harus dicatat, tata lampu ciamik. Lebih-lebih tata musiknya, yahud banget. Terkesan kebanyakan menggunakan perkusi, grup Rat'n'X, dengan personel Johannes Frisch dan S.K.W. Mertin, perlu diacungi jempol. (Hayo, siapa kemarin nyuri ngrekam?)
Kesempurnaan boneka-bonekanya memang terjaga. Soehnle memimpin sendiri pembuatannya. Ruas-ruas jari-jemari tangan boneka, misalnya, dibuat persis jemari manusia sehingga bisa digerakkan dengan pasti waktu mencengkeram, menadah, maupun memberi tabik.
Tapi, Bung Soehnle jangan girang dulu. Kali ini terlontar pertanyaan dari penonton tua. Kenapa, sih, seluruh bonekanya gundul? Kalau gundulnya Sinead O'Connor, atau de la Pena, sih, oke banget. Apa yang menarik dari boneka-boneka gundul, tua, dan cemberut, kecuali menampakkan wajah yang aneh, misterius, dan kadang seram? Dan boneka-boneka itu harus diekspresikan sebagai perempuan sensual, atau pemuda ganteng, atau penari yang memikat. Inilah kesenjangan budaya pertama bagi penonton Timur yang bisa dicatat dari pementasan itu.
Para penontonorang tua dan kanak-kanakmemang bisa tertawa menyaksikan adegan-adegan yang lucu. Tapi terasa, tawa mereka terhenti ketika menyadari yang dihadapi adalah boneka-boneka yang cukup seram untuk suatu bentuk teater boneka yang selama ini dikenal. Sehingga, Flamingo Bar, bisa-bisa ditanggapi penonton tua sebagai cerita horor.
Danarto
|