|
LAPORAN Utama TEMPO edisi 17-23 Mei 1999, berjudul Eh, Dia Lagi, sedikitnya memunculkan tiga hal. Pertama, TEMPO konsisten anti-Habibie. Kedua, melaporkan bahwa memilih Habibie berarti Golkar memilih calon tunggal seperti pada masa Orde Baru. Dan ketiga, memilih Habibie berarti Golkar memilih pejabat yang tengah memegang kekuasaan, juga seperti masa Orde Baru.
Walaupun saya bukan (lagi) orang Golkar, rasanya pandangan TEMPO ini harus dikomentari. Untuk alasan pertama, saya tak punya argumen. Itu policy TEMPO, yang ingin "obyektif" dengan gaya TEMPO. Tapi, untuk dua alasan terakhir, saya melihat TEMPO berpikir sempit. Berkaca pada negara superdemokrat, Amerika Serikat, bukankah Partai Republik atau Partai Demokrat di sana selalu mengajukan calon tunggal dalam pemilihan presiden mereka?
Memilih bukan ketua partai dan memilih presiden yang menjabat adalah tradisi berikutnya di negara kiblat demokrasi para pakar kita itu. Ini terjadi ketika Truman menjabat presiden pada 1948, atau Eisenhower pada 1956. Hal serupa berlaku pada Johson, Nixon, Jimmy Carter, Reagan, Bush, dan Clinton. Bukankah mereka diusulkan kembali ketika mereka menjadi presiden, walau tak selalu berhasil? Tolonglah agar TEMPO obyektif.
USEP FATHUDIN
Pancoran Barat IVA No. 16
Jakarta 12780
|