ACEH tak pernah kering dari ceceran darah. Saya menyaksikan ratusan orang, bahkan bisa jadi ribuan, wanita dan anak-anak lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari berondongan senjata tentara, melalui televisi, pada 2 Mei 1999. Dalam laporan itu dinyatakan 23 orang tewas, sementara versi aparat keamanan menyebutkan ada 18 korban jiwa.
Begitukah TNI memperlakukan rakyatnya sendiri: menggebuki, bahkan menembaki, warga sipil yang selama ini menyubsidi gaji dan senjata-senjata yang mereka beli? Menghadapi warga sipil dengan berondongan peluru bukanlah solusi terbaik. Bahkan, kasus-kasus semacam ini akan mempertebal dendam dan antipati mereka terhadap TNI dan pemerintah pusat.
Melalui surat ini pula, saya meminta Menhankan/Panglima TNI memberhentikan Kolonel Jhonni Wahab sebagai Danrem 011 Lilawangsa karena kasus-kasus kekerasan aparat di Aceh belakangan ini membuktikan, Jhonni Wahab tak mampu memberikan rasa aman kepada rakyat Aceh. Kalau tidak, Pak Wiranto sendirilah yang harus mengundurkan diri.
ARIS EFENDI
Mahasiswa PMIPA-Kimia
Universitas Palangkaraya