Antara Histeria dan Teror Sebuah kurasi pameran seni rupa memberi makna politis kepada knalpot. Sejumlah ekspresi rupa pun muncul mengkritisi peran politik masyarakat pada era yang galau ini. |
| KNALPOT | | Karya | : | 17 perupa | | Tempat | : | Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta | | Waktu | : | 1 Mei-31 Juli 1999 |
DALAM beberapa kali peristiwa pemilu, knalpot menyandang satu peran tersendiri. Ia dimodifikasi tidak sebagai peredam, tetapi sebagai instrumen ''musik" yang bunyinya digabungkan dengan bunyi sejumlah besar knalpot lain. Maka, gabungan bunyi knalpot ini pun menjadi ''paduan suara", sebagai tanda untuk berkampanye. Boleh jadi keindahan paduan suara knalpot itu bagai konser bagi para pelaku dan simpatisannya, dan membangkitkan kelenjar adrenalin orang-orang yang terlibat. Histeria massa pun terbangun. Padahal, siapa pun tahu bahwa ingar-bingar bunyi mesin lewat knalpot mampu mengoyak gendang telinga siapa saja. Tapi, kepulan karbon monoksida dari moncong-moncong knalpot tak lagi dipandang sebagai racun. Sebaliknya, ia seolah menjadi dupa mantra penggalangan massa. Sedangkan bagi pihak-pihak lain yang tak terlibat, ''paduan suara" itu boleh jadi terbaca sebagai teror dan horor.
Kurator Nindityo Adipurnomo memilih kata ''knalpot" sebagai tema sekaligus judul pameran karya seni kontemporer untuk menandai peresmian ''Rumah Seni Cemeti", Yogyakarta, yang sebelumnya bernama Galeri Cemeti. Sebanyak 17 perupa memamerkan karyanya, yang substansinya adalah tafsiran, deskripsi, atau komentar para perupa atas situasi dan kondisi sosial yang dirasakan paling kritis dan mendesak. Mereka adalah Ary Dyanto, Agung Kurniawan, Anusapati, Aris Prabawa, Bunga Jeruk, Edo Pillu, Eko Agus Prawoto, Hanura Hosea, Hedi Haryanto, Heri Dono, I G.A.K. Murniasih, Nervita Primadewi, Nyoman Masriadi, Popok Tri Wahyudi, Samuel Indratmo, Shigeyo Kobayashi, dan S. Teddy D. Mereka datang dari berbagai disiplin dan latar belakang yang berbeda, dari jebolan perguruan tinggi seni, mahasiswa seni, pelukis otodidak, seniman akademik dan senior, arsitek, pembuat video, pemusik, hingga seniman dari Jepang. Maka, tak aneh jika beragam pula yang ditampilkan, di antaranya: karya video, karya grafis, seni lukis, karya instalasi, drawing, karya dengan mesin faksimile, patung, dan karakter bangunan itu sendiri. Semua ini adalah interpretasi dan ungkapan pribadi tentang perwajahan dan karakter zaman ini. Sementara itu, dasar kurasinya bukanlah obyektivitas estetis, melainkan keunikan, ''pekuliaritas", dan aspek serta daya atraksi karya tersebut.
Ary Dyanto, misalnya, tampil dengan karya gambar yang dibuat dari fleksiglas transparan. Tekniknya macam melukis pada medium kaca, tetapi ditambah dengan cat semprot. Elemen-elemen piktorial karya itu dicampur dengan teks alfabetis guna menghadirkan suasana kehidupan populer. Samuel Indratmo menghadirkan sejumlah drawing dengan serangkaian teks melalui berbagai ide yang dimotivasi dengan kritisisme dan gugatannya terhadap kemapanan nilai sosial-estetis. Ia melontarkan sinismenya terhadap seniman senior, kurator, kolektor seni, sejarah seni, dan lembaga pendidikan seni. Kemapanan dan ideologisasi estetis ditertawakan sehabis-habisnya, untuk dibongkar total agar tersembul dari balik ruang-ruang segar yang tadinya terhegemoni oleh kemapanan nilai.
Poppy (Nervita Primadewi) menggelar karya video Kembalilah Jadi Otak, yang juga dilengkapi dengan sebuah teks yang melontarkan isu tentang mendesaknya kehidupan demokrasi dan budaya demi penghargaan terhadap pluralitas etnis dan keyakinan. Karya S. Teddy D. bertajuk Menandai Batu-Batu, berupa susunan sejumlah karakter yang terbuat dari batu yang dimodifikasi, ditatah, dan dimasukkan ke dalam keranjang, dan di bagian bawah diberi roda. Ada yang dibentuk menyerupai buku atau seperti bunga. Nyoman Masriadi membahasakan interpretasi zamannya melalui medium konvensional, yakni seni lukis, dengan gaya karikatural, tapi dengan isu berupa intrik dan politisasi masa kini. Salah satu karyanya diberi judul Saudaraku, Pembual dan Suka Main Belakang. Bunga Jeruk hadir dengan karya tiga dimensional berupa arena tinju, tempat terdapat dua petinju yang sedang bertarung, wasit, dan seorang perempuan berbadan sintal mengusung nomor ronde yang akan berlangsung. Karya berjudul I am the Greatest ini adalah materialisasi dari sinisme Bunga Jeruk terhadap machoisme dan seksisme, yang tanpa disadari telah menjadi budaya dan bahasa sehari-hari. Aris Prabawa tampil dengan karya grafis cukilan kayu berjudul Ketemu Patung Emas Busuk. Sementara itu, Heri Dono tampil dengan beberapa figur kepala dari kaca serat, yang cetakannya dibuat dengan kepala dan wajahnya sendiri, dan di antara figur-figur itu dipancangkan sebuah tiang yang pada puncaknya terpasang dua bentuk pengeras suara.
Koreografer tari Sardono W. Kusumo, yang membuka pameran ini, menampilkan satu koreografi yang dibawakan oleh seorang penari dari Surakarta. Lalu, acara dilengkapi dengan satu pertunjukan musik dan gerak kelompok ''Tawon Endas", tempat pola musikal Barat dipadukan dengan bunyi-suara gamelan dan gendang, dan suasana teatrikalnya dibangun dengan pantomim keliling oleh beberapa aktor. Semua pemusik berpakaian serba hitam dan tampil dengan wajah tersembunyi di balik kain ala ninja, menambah kesan misterius suasana yang diciptakan dalam keremangan. Kemudian, lembaran selebaran itu disebarkan kepada penonton: ''Siapa yang bertanggung jawab?" Ini mengingatkan kita pada berbagai orkestrasi kekerasan dan sadisme yang telah terjadi di berbagai daerah Nusantara, yang dirancang secara terstruktur dan dieksekusi secara jitu dalam ''kegelapan".
Apa yang menonjol dalam pameran itu? Ada individualisme yang kuat dalam menafsirkan dan menghadirkan realitas sosial yang menggejala melalui karya seni. Masing-masing bereksplorasi dalam jalur yang ditekuni guna memperoleh perbendaharaan kata yang paling dekat dengan gaya kecenderungan pribadi sang seniman, untuk mengartikulasi watak kekinian zaman. Atau, paling tidak, beberapa di antaranya telah memungut ungkapan dan peristiwa kunci dari zaman ini, kunci untuk ditampilkan kembali sesuai dengan bahasa seni para perupa. Representasi yang muncul pun bukanlah sesuatu yang dinyatakan secara berapi-api dengan jargon-jargon klise, dengan perwajahan yang serba seram, ngeri, kritis, tajam, dan telanjang, tapi dengan penggambaran atau komentar yang seakan dilontarkan begitu saja, secara sambil lalu?silakan, mau menerima atau tidak?seperti ketika orang bermain-main dengan raungan knalpot hanya dengan menarik-lepas akselerator (gas) kendaraan bermotor secara seenaknya.
Yang tergelar di Rumah Seni Cemeti kini adalah ''knalpot" para seniman-kreatornya, yang secara kreatif mentransformasi unek-unek, komentar, dan opini para perupa tentang realitas sosial yang menggejala. Suguhan ini menarik dan inspiratif, agar orang melihat kembali pemakaian knalpot yang kini mewarnai zaman. Tanpa peranti ini, masyarakat tak bisa kentut, lalu gerak mesinnya terhenti, atau meletus.
M. Dwi Marianto
|