Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIIII/24 - 30 Mei 1999
   
Peristiwa

Bantuan Asing untuk Pemilu

PEMILU yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil ternyata bukan cuma dambaan orang Indonesia semata. Beberapa negara asing?melalui sejumlah lembaga perwakilannya?menginginkan hal yang sama. Komisi Eropa, misalnya, pekan lalu menyediakan bantuan sebesar US$ 7,7 juta atau sekitar Rp 60 miliar untuk mendukung penyelenggaraan pemilihan umum 7 Juni nanti. Jumlah ini di luar kontribusi bilateral dari negara-negara anggota Uni Eropa.

Dengan demikian, kontribusi keseluruhan dari Uni Eropa untuk proses pemilu mencapai lebih dari US$ 15 juta atau sekitar Rp 120 miliar. Bantuan tersebut disalurkan melalui Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) kepada kelompok pemantau pemilu independen Unfrel (Komite Pemantau Pemilu Jaringan Universitas), Komite Independen Pemantau Pemilu, dan Komite Pemantau Pemilu dari Serikat Buruh Seluruh Indonesia.

Pemerintah Kanada, pekan lalu, juga menandatangani perjanjian pemberian bantuan sebesar 1,8 juta dolar Kanada atau sekitar US$ 1,2 juta?dari rencana US$ 3 juta?untuk program bantuan teknis yang dikoordinasikan oleh UNDP. Sasarannya untuk Kampanye Pendidikan dan Penerangan Pemilihan KPU. Dana disediakan oleh Badan Pembangunan Internasional Kanada (Canadian International Development Agency--CIDA), yang peduli dalam menunjang perkembangan demokrasi di Indonesia.

Belanda tak mau kalah. Mereka setuju mengucurkan bantuan senilai 1 juta gulden (sekitar US$ 486 ribu atau hampir Rp 4 miliar) untuk Indonesia melalui UNDP. Dua perlima di antaranya akan dipakai untuk menyumbang aktivitas pascapemilu dan usaha pemantauan pemilu nasional. Sedangkan sisanya untuk hal-hal lain yang diperlukan bagi Program Bantuan Teknis UNDP bagi Pemilu 1999.


Sepi dan Amuk untuk Golkar


PARTAI Golkar sudah lewat magrib. Begitu mungkin kiasan yang pas untuk mengilustrasikan kondisi partai berlambang beringin ini sekarang. Tampil perkasa dalam pemilu yang sudah-sudah, partai bernomor 33 itu kini seperti pohon kurang air. Lautan massa yang gegap-gempita pun tinggal kenangan. Suasana kampanye hari pertama di Surabaya bisa menjadi contoh.

Kampanye yang menampilkan bekas Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, calon anggota legislatif Partai Golkar Surabaya, itu berlangsung di suatu tempat terpencil dan susah dicari, yakni Dusun Sawo, Kelurahan Beringin, Kecamatan Lakarsantri. Saking terpencilnya tempat itu, rombongan Panitia Pemilihan Daerah Tingkat I dan Panitia Pengawas Pemilu yang menyertai rombongan Gubernur Jawa Timur Imam Oetomo dan para wartawan sampai tersesat berjam-jam untuk menemukannya.

Kampanye pun terpaksa dilakukan di rumah salah seorang penduduk yang kebetulan pendukung Partai Beringin karena, menurut H. Turkam Badri, yang menjadi pelaksana kampanye DPD II Golkar Kota Madya Surabaya, mereka kesulitan mendapatkan tempat yang memadai di Dusun Sawo yang terpencil itu. Simpatisan yang hadir hanya sekitar 100 orang. Mereka duduk berimpitan di kursi plastik dan mendapat suguhan sederhana semacam kacang, pisang, dan talas rebus.

Kepada Jalil Hakim dari TEMPO, Oetojo berkomentar diplomatis, "Jangan dilihat dari jumlah massa yang hadir. Tapi semangat kehadirannya yang menandakan bahwa Golkar merupakan partai yang masih ada pendukungnya."

Sementara itu, selama hari-hari pertama kampanye di Jakarta, masyarakat mulai menunjukkan rasa "permusuhannya" kepada Golkar. Di kawasan Monas, Jakarta, misalnya, di awal masa kampanye Rabu pekan lalu, mereka membakari atribut seperti bendera dan kendaraan hias yang semestinya dipakai untuk pawai. Para pendukung acara sempat lari kocar-kacir, termasuk artis dan pelawak. Inikah pertanda senja memang telah tiba bagi Golkar?


Demo Setahun Soeharto Lengser


TANGGAL 21 Mei barangkali bisa menjadi angka keramat bagi sejarah Indonesia. Pada tanggal itu, setahun lalu, Soeharto, yang telah berkuasa lebih dari 32 tahun, jatuh. Ironisnya?tidak seperti diktator lain di dunia yang terusir dari negaranya atau dibawa ke meja hijau?ia bisa tetap asyik berleha-leha di kediamannya, di kawasan Cendana, Jakarta, tak tersentuh hukum, bahkan cenderung dilindungi.

Isu pengadilan Soeharto itulah yang mewarnai peringatan setahun lengsernya jenderal besar ini di Jakarta dan beberapa kota besar lain di Indonesia. Di Ibu Kota, ribuan mahasiswa dari berbagai organisasi seperti Forum Kota (Forkot), Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), dan Partai Rakyat Demokratik (PRD) berdemonstrasi menuju Gedung MPR/DPR di kawasan Senayan. Tapi, di bawah jembatan layang Senayan, mereka dihadang aparat.

Ketegangan muncul. Bentrok fisik tak terhindarkan. Mahasiswa merangsek dengan senjata potongan kayu dan lemparan batu. Aparat melepaskan tembakan peluru hampa dan gas air mata. Massa kocar-kacir dan sebagian terjerembap terkena sepakan aparat. Mereka kemudian urung mendekati Gedung DPR. Tak ada korban jiwa dalam keributan ini.

Selepas magrib, demo beralih ke Tugu Proklamasi di kawasan Menteng. Di situ suasana mirip pasar malam. Lebih dari seribu orang dari berbagai lapisan tumpah-ruah. Acara diisi orasi, pemutaran film kekerasan Orde Baru, dan pembakaran bendera Golkar. Di Surabaya, ratusan mahasiswa berdemonstrasi di depan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Mereka menuntut pengadilan Soeharto dan pencabutan dwifungsi ABRI serta menyatakan mosi tidak percaya kepada pemerintahan Habibie.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data