Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIIII/24 - 30 Mei 1999
   
Olahraga

Jawara Bola dari Pabrik Susu

AC Parma menuai sukses besar pada musim kompetisi 1998-1999 kali ini. Prestasi gemilang untuk satu klub yang terlahir dari sekadar main-main.

PADA 1913 di Kota Parma, Italia. Sekumpulan laki-laki yang tak ada kegiatan di waktu luang bersepakat mendirikan klub sepak bola. Nama yang dipilih adalah Verdi, karena kebetulan hari itu adalah perayaan seratus tahun kelahiran komposer legendaris Italia, Giuseppe Verdi. Siapa yang menyangka keisengan puluhan tahun lalu kini berbuah manis?

Associazone Calcio Parma, klub yang cikal-bakalnya dimulai dari Verdi itu, pada musim kompetisi 1998-1999 ini berhasil membuat rentetan prestasi gemilang. Mereka menjadi juara Piala Italia dengan menyisihkan Fiorentina, lalu juara Piala UEFA dengan menekuk Marseille asal Prancis, dan sekali lagi lolos ke putaran Piala Champions, ajang paling bergengsi untuk klub sepak bola di Eropa. Namun, untuk sampai pada posisi itu, waktu yang diperlukan AC Parma hampir seumur klub ini sendiri.

Tiga bulan setelah didirikan, Verdi, yang berjulukan ''Gialloblu" (kuning-biru, warna kostum yang masih dipakai Parma hingga sekarang), langsung keok oleh klub tetangganya, Reggiana. Merasa nama Verdi tak bertuah, mereka menggantinya dengan nama Klub Sepak Bola Parma. Sayang, Perang Dunia I menghentikan aktivitas mereka. Pada 1922, mereka kembali terjun ke Liga Italia Seri C (divisi tiga). Puluhan tahun berlalu, juga diselingi perang dunia berikutnya, nasib Parma tak kunjung membaik. Mereka hanya mondar-mandir di seri C dan D.

Hasil buruk pada 1968 membuat klub ini hampir dilikuidasi. Untunglah, sekelompok pengusaha lokal yang telah memiliki klub AC Parmense berinisiatif untuk menggabungkan kedua klub satu kota ini. Jadilah nama AC Parma pada awal 1970. Namun, langkah klub hasil merger ini tetap tertatih-tatih. Baru pada 1985, AC Parma berhasil mendapat promosi ke seri B setelah dipegang pelatih Arrigo Sacchi. Tak pelak, sukses itu membuat Sacchi diincar klub-klub besar. AC Milan akhirnya yang beruntung mendapatkan pelatih yang kemudian hari menjadi pelatih tim nasional Italia ini. Namun, akibatnya Parma kelimpungan.

Kilau klub yang hampir setengah sahamnya dimiliki oleh Parmalat, perusahaan besar di bidang susu formula ini, baru terlihat pada musim 1990-1991 ketika mereka untuk pertama kalinya berlaga di seri A. Pelatih yang berjasa mengangkat klub ini dari kubangan divisi bawah adalah Nevio Scala. Berkat permainan gelandang Thomas Brolin asal Swedia, kiper Claudio Taffarel asal Brasil, dan pemain belakang tangguh George Grun dari Belgia, Parma langsung menyita perhatian. Setahun berikutnya, Piala Italia mereka raih. Ini adalah trofi bergengsi pertama bagi Parma.

Parma ini kemudian merekrut striker eksentrik asal Kolombia, Faustino Asprilla, pada 1992. Asprilla langsung memberi bukti. Ia ikut berjasa mengantar Parma menggondol Piala Winners setahun berikutnya. Belum cukup, playmaker jempolan, Gianfranco Zola, disabet dari Napoli dan terbukti dialah mesin gol Parma. Sampai saat ini, Zola tercatat sebagai pemain Parma yang paling banyak membuat gol di satu musim, 19 gol pada 1994-1995. Sayang, pada tahun berikutnya Piala Winners justru melayang setelah Parma dibekuk Arsenal.

Namun, bukti kekuatan Parma sudah tak bisa disangkal lagi karena pada musim 1994-1995, Piala UEFA mereka rengkuh. Mereka pun tak goyah ketika akhirnya Zola cabut ke Inggris karena tak cocok dengan pelatih Carlo Ancelotti, karena sudah ada duet penyerang maut Enrico Chiesa dengan Hernan Crespo asal Argentina. Buktinya, pada musim kompetisi 1996-1997, posisi kedua klasemen menjadi milik Parma. Namun, kekuatan Parma bukan hanya mereka. Di belakang ada kiper Gianluigi ''the Wolf" Buffon, back Lilian Thuram asal Prancis, Nestor Sensini asal Argentina, serta Antonio Bennarivo dan Fabio Cannavaro. Di tengah ada Dino Baggio, juga Mario Stanic asal Kroasia. Pendeknya, hampir semua pemain Parma adalah pemain inti di tim nasional negara masing-masing.

Padunya duet Chiesa-Crespo tak urung menyingkirkan penyerang sebelumnya, Filippo Inzaghi, yang akhirnya hengkang ke Juventus. Penjualan Inzaghi ke Juventus senilai 22,5 miliar lira tercatat sebagai angka penjualan terbesar. Adapun pembelian terbesar adalah ketika Juan Sebastian Veron ditarik dari Sampdoria tahun lalu, dengan nilai 35,5 miliar lira.

Veron terbukti tak mengecewakan. Bahkan, tanpa mengabaikan peran pemain lain, boleh dikatakan, saat ini Veronlah yang menjadi roh tim asuhan Alberto Malesani itu. Namun, boleh jadi si gundul keren ini tak akan lama jadi warga Parma. Lazio telah menaksirnya dengan harga tinggi. Sementara itu, Chiesa pun sudah dipinang Fiorentina. Apa boleh buat, tampaknya ini sisi lain satu prestasi. Bila prestasi tetap menjadi target, sudah sewajarnya Parma memikirkan pilar-pilar baru.

Yusi A. Pareanom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data