Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIIII/24 - 30 Mei 1999
   
Opini

Utang Baru, Apa Masih Perlu?

Tawaran jaminan surat utang dari Jepang memang menggiurkan, tapi tingkat utang Indonesia sudah "lampu merah".

ADAKAH Indonesia termasuk negara yang tidak bakal lepas dari jebakan utang? Bisa jadi. Sebelum krisis saja utang luar negeri Indonesia sudah mencapai US$ 100 miliar dan mendudukkan Indonesia sebagai pengutang terbesar dunia bersama Brasil dan Meksiko. Setahun dilanda krisis, utang pemerintah sudah menembus angka US$ 130 miliar. Ditambah utang swasta, angka itu menjadi sekitar US$ 200 miliar. Utang pemerintah yang US$ 130 miliar itu saja jika dirupiahkan tak kepalang besar: Rp 1.118 triliun. Bagaimana membayarnya? Apabila dibayar dengan mengerahkan produk domestik bruto Indonesia yang Rp 400 triliun setahun, itu artinya perlu tiga tahun, tanpa memakai produk domestik bruto itu sedikit pun untuk pembangunan negeri. Dibandingkan dengan anggaran belanja pemerintah Indonesia (APBN), utang pemerintah itu besarnya lima kali lipat. Luar biasa.

Di tengah timbunan utang raksasa itu, datang tawaran pemerintah Jepang untuk bantuan senilai US$ 30 miliar bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Bentuknya memang bukan duit tunai, tapi berupa kesediaan untuk menjamin surat utang (bond alias obligasi) yang diterbitkan negara-negara Asia. Dengan jaminan ini, diharapkan obligasi negara-negara Asia itu bisa laku dijual di luar negeri, dengan biaya yang relatif lebih murah. Maksudnya, surat utang itu bisa dijual dengan tingkat bunga dan diskon yang rendah, sehingga beban cicilannya kelak tidak memberatkan negara-negara Asia yang terkena krisis itu.

Pemerintah Indonesia juga segera berencana menerbitkan bond ke luar negeri. Dan itu bukan pertama kali. Sebelum ini, pemerintah sudah menjual US$ 300 juta floating rate notes (surat utang jangka menengah yang berbunga mengambang) di pasar Eropa. Selain itu, pemerintah juga punya US$ 400 juta yankee bond (sebutan umum untuk obligasi yang dijual di pasar AS), yang bakal jatuh tempo tahun 2006.

Malangnya, kedua surat utang itu kini dihargai dengan amat murah. Yankee bond US$ 400 juta tadi saat ini dijual pada harga 80 persen dari nilainya (diskon 20 persen) dengan bunga 10,45 persen. Nah, bond yang dijamin Jepang ini diharapkan bisa dijual dengan bunga tak sampai setinggi itu. Tapi, tentu saja, pemerintah Jepang tak memberikan bantuan ini dengan gratis. Mereka akan mengajukan syarat-syarat tertentu, setidaknya pemerintah harus mampu membuat rencana penggunaan dana hasil penjualan obligasi ini untuk hal-hal yang bermanfaat dan masuk akal.

Persoalannya, apakah kita masih perlu berutang. Pengalaman bantuan Rp 18 triliun dana Jaring Pengaman Sosial membawa kepada kesimpulan: utang untuk rakyat bawah itu mubazir, tak efektif karena tak jelas sasarannya, dan "bolong" dimakan korupsi.

Penundaan bantuan Bank Dunia untuk pemerintah Indonesia US$ 600 juta sampai setelah pemilu menunjukkan bahwa dunia luar mulai "mengendus" banyaknya bantuan yang "nyelonong" dari sasaran semula.

Alhasil, tingkat utang kita sudah sangat parah. Sebelum krisis saja sudah mencapai 40 persen dari produk domestik bruto, suatu tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Angka itu jelas menanjak drastis setahun belakangan ini. Lalu, berapa generasi yang harus menanggung semua utang ini? Jangan-jangan kita memang sudah tak bisa lolos dari jebakan utang ini.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data