"Bullshit Jika Prabowo Masih Memimpin" |
Siapa tak kenal Komando Pasukan Khusus atau Kopassus? Satuan elite ini dulu sering dipuja-puji karena kemampuan tempurnya yang hebat demi negara. Tapi, belakangan, ia dicaci-maki dengan serentetan tudingan tak sedap.
Terakhir, satuan elite di TNI Angkatan Darat ini disebut-sebut menjadi biang provokator dalam kerusuhan berdarah di Krueng Geukueh, Aceh, awal Mei lalu. Ini berdasar ucapan seseorang yang mengaku sebagai prajurit Kopassus berpangkat prada. Ia tertangkap ketika tengah mengamat-amati Markas Gegana Polri di negeri Serambi Mekah itu.
Tentu saja, pihak Kopassus keras membantah. "Itu bohong besar dan tak masuk dinalar," kata Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayor Jenderal TNI Syahrir M.S. Banyak soal yang kemudian dituturkan jenderal berbintang dua kelahiran Baturaja, Palembang, Sumatra Selatan, ini. Ia balik menuding adanya pihak yang sengaja bikin gara-gara untuk menjelek-jelekkan pasukannya di mata masyarakat. Toh Danjen Syahrir, 52 tahun, ini mengaku bekerja keras untuk mendongkrak citra kesatuannya dalam setahun belakangan ini.
Kurikulum tambahan mulai diberikan kepada prajurit, termasuk pembekalan akhlak dan materi hak asasi manusia. Di balik kerja kerasnya, ia tak lupa menyempatkan untuk menyalurkan hobinya main tenis, jogging, bahkan sesekali main golf. "Itu pun harus di luar jam kantor," kata pria yang gemar membaca buku-buku Al-Ghazali ini. Lulusan Akademi Militer tahun 1971 ini masih tampak bugar. "Saya masih mampu lari sesuai standar prajurit Kopassus, nilainya 65 dalam 12 menit," katanya, bangga.
Padahal, Syahrir punya kendala serius: kakinya pernah ditembak gerilyawan prokemerdekaan saat bertugas di Timor Timur, sehingga nyaris membuat karirnya berakhir. Pria yang mahir berbahasa Inggris dan Cina ini lalu berkisah tentang banyak hal menyangkut peran kesatuannya, ketika ditemui Wahyu Muryadi, Ahmad Taufik, Dwi Wiyana, dan fotografer Rully Kesuma dari TEMPO di kantornya, Markas Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, Selasa pekan lalu.
Petikannya:
Benarkah ada anggota Kopassus menjadi provokator saat peristiwa Aceh Berdarah, Mei lalu?
Memang, ada orang yang ditangkap. Mengaku anggota Kopassus, datang ke Aceh bersama dengan 200-an orang yang lain. Di situ, tidak ada unsur pimpinan. Mereka hanya dipimpin oleh seorang sersan. Mereka tidak dibiayai, 200-an orang itu datang saja ke sana. Hanya diberi uang Rp 300 ribu dan dibiarkan hidup sendiri. Tugas pokoknya mengacaukan situasi di sana. Nah, secara logika saja, itu tidak masuk di akal.
Kenapa begitu?
Orang itu mengaku berpangkat prada, NRP 84.... Setelah kami cek, ternyata tidak ada nama itu. Lalu, soal NRP 84.... Di dalam TNI, NRP itu nomor buat prajurit, yang menunjukkan tahun saat dia masuk jadi tentara. Berarti, dia jadi tentara sejak 1984. Sedangkan saat ditanya kelahirannya, mengaku lahir pada 1972. Itu berarti ia berusia 12 tahun saat masuk tentara. Itu kan mustahil. Belum lagi, jumlah angka NRP-nya juga berbeda. NRP Kopassus 13 angka, tapi ia hanya sembilan angka. Dia juga enggak menyebutkan komandan regu, kompi, atau batalyonnya. Padahal, kalau ada kelompok orang, tentu ada pemimpinnya. Apalagi, mereka itu kan tentara.
Bukankah Kopassus banyak diterjunkan ke Aceh pada masa lalu?
Satuan Kopassus memang ada di sana untuk melaksanakan tugas bersama dengan pasukan yang terlibat dalam operasi Aceh. Jumlahnya lebih kurang ada 84 orang (satu detasemen). Kemudian, saat status daerah operasi militer (DOM) ditarik, kami sudah habis masa penugasannya, dan ditarik. Setelah itu, tidak ada penggantian lagi. Sejak Agustus 1998, sudah tidak ada lagi pasukan Kopassus. Jadi, kalau dia mengatakan beberapa bulan lalu ada di sana, itu tidak masuk akal. Jadi, kabar itu saya anggap fitnah dan bohong besar.
Lalu, bagaimana kelanjutan pengusutannya?
Kami serahkan petugas di sana (Aceh). Kami enggak bisa terus angkat begitu saja, pinjam ke sini, lalu undang wartawan. Tapi, dari pengakuan-pengakuan itu, kami menyadari bahwa banyak sekali kejadian yang dilakukan oknum tertentu, bukan hanya untuk menyudutkan TNI?khususnya Kopassus?tetapi juga untuk menarik keuntungan tertentu.
Mungkin karena selama ini Kopassus itu sangat berperan penting.?
(Syahrir langsung memotong) Kami juga tidak menampik itu. Tapi, yang seperti itu bukan hanya satuan ini, melainkan semuanya. Bahkan, TNI juga, kan? Tetapi, selaku pimpinan Kopassus, secara tegas saya mengatakan, sejak kelahirannya sampai sekarang, yang namanya Kopassus sebagai organisasi itu bukan milik orang atau golongan.
Bagaimana dengan kasus penculikan aktivis prodemokrasi dulu itu?
Kan sudah jelas itu orangnya. Jadi, tidak benar kalau itu institusi yang melakukan. Kalau institusi, semua tahu. Saya, komandan, kan punya staf, dan staf itu semuanya harus tahu. Tapi, ini tidak ada yang tahu. Kalau orang, itu kan sangat situasional.
Jadi, ada orang-orang yang menyempal dari institusi?
Dalam persidangan 11 anggota Kopassus lalu, dijelaskan bahwa ada satu tugas yang diemban oleh satuannya, yakni dalam rangka melakukan penyelidikan. Jadi, fungsinya melakukan penyelidikan, terus pengamanan. Nah, dalam mengamankan, seorang anggota yang bertugas salah menerjemahkan perintah. Itulah kesalahannya. Jadi, ia itu oknum.
Mereka yang pernah diculik mengaku dibawa dan disiksa di Cijantung.
Benarkah ada tempat penyiksaan di sini?
Ha-ha-ha! Waktu itu kan jelas sudah ada tim atau dewan kehormatan perwira. Mereka datang ke sini dan bertanya, "Di mana tempat aktivis prodemokrasi disiksa satu kali 24 jam dan radio disetel keras-keras." Tim juga menanyakan soal mereka yang sempat saling bertemu. Kalau satu kali 24 jam diperdengarkan suara radio yang hampir memekakkan telinga, kok mereka bisa langsung berkomunikasi dengan sebelah, itu bagaimana? Itu kan sudah enggak nalar! Di satu sisi, mereka bilang dengan enaknya bisa berkomunikasi, tapi di sisi lain, satu kali 24 jam tidak bisa berbuat apa-apa karena radio yang dikeraskan. Tapi, itu wajar saja, namanya juga pengakuan. Hanya saja, pembuktiannya kan enggak ada.
Apakah 13 orang lainnya yang masih hilang juga tak ada di sini?
Ya! Dan, anak-anak itu (para terhukum) begitu gentle-nya mengatakan, "Toh dia dikembalikan dengan baik, lalu bersahabat." Itu menunjukkan bahwa kami sangat manusiawi. Apa yang anak buah katakan itu saya yakini kebenarannya. Lo, kok mereka dituntut yang lain, yang tidak dilakukannya? Kan dia mengatakan tidak melakukan (penculikan aktivis) yang lain, tapi kok dituntut? Jadi, menurut saya, ini tidak fair.
Banyak yang tak puas dengan pengadilan itu?.
Saya sendiri juga enggak puas karena anak buah saya dihukum. Dalam hal ini, saya berharap anak buah saya tidak dihukum karena dia mengemban tugas waktu itu. Kalau salah, kan sudah ada tindakan secara hukum. Tapi, jangan tanya cara memuaskan semua pihak. Mereka itu tidak punya kepentingan pribadi. Misalnya, setelah melakukan itu, lalu mereka kaya atau naik pangkat. Kenyataannya kan tidak begitu. Malah, mereka sengsara!
Lalu, apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki citra Kopassus?
Selama setahun ini, saya lakukan pembinaan internal ke dalam, dari aspek personal, material, peranti lunak, sampai sistem dan metodenya. Yang paling mendasar sebelum pembinaan adalah pendidikan. Kami benahi kurikulumnya. Kami menambah materi-materi yang belum ada. Misalnya, mengenai masalah hak asasi manusia. Juga, soal keagamaan, porsinya sekarang ditambah. Sekarang, alhamdulillah, Kopassus kembali mantap dan solid. Jadi, kalau ada yang masih ragu dan percaya pada isu yang berkembang bahwa Kopassus masih dikendalikan Prabowo, bagi saya itu bullshit, omong kosong, bohong besar!" (Nadanya meninggi).
Pernah kontak Prabowo?
Hanya sekali, saat mengundang untuk hadir pada acara ulang tahun Kopassus.
Apakah ada kemungkinan dibentuk lagi semacam "Tim Mawar"?
Enggak ada! Dalam hal ini, kami sangat konsisten dengan kebijakan berdasar prosedur. Kalau satuan ini dibutuhkan, pasti kami tanya perintahnya dari siapa? Kalau KSAD memerintah, pasti akan saya konfirmasi dulu ke panglima. Sebab, yang boleh mengeluarkan pasukan secara operasional adalah Panglima TNI. Jadi, selama saya pegang?dan insya Allah, akan terus?bila kebijakan ini dijadikan sebagai landasan yang kokoh dan kuat, tidak akan ada prajurit Kopassus yang bisa digerakkan orang lain tanpa sepengetahuan Danjen dan Panglima TNI.
|