Kegembiraan Menjelang Pemilu Minat publik untuk ikut pemilihan umum sangat tinggi. Mereka berharap, lewat pemilu, akan terbentuk pemerintahan yang bersih. |
SEMASA Orde Baru, sastrawan Danarto pernah menulis lakon drama berjudul Mengembalikan Kegembiraan Berpolitik. Tak terlalu mengejutkan bila naskah itu muncul. Sebab, saat itu berpolitik, yang seharusnya bisa mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat, malah mengundang risiko yang tak sedap. Alhasil, terbentuklah publik yang mayoritas apatis terhadap persoalan politik.
Pemilihan umum, yang seharusnya menjadi peristiwa penting untuk penentuan nasib bangsa, pun menjelma menjadi upacara rutin lima tahun sekali yang pemenangnya sudah diketahui, bahkan sebelum acara pencoblosan dimulai. Walau pemerintah selalu mengklaim bahwa pemilu itu diikuti oleh lebih dari 90 persen penduduk yang berhak memilih, tak ada yang tahu berapa banyak pendaftar
yang sebenarnya.
Lain kondisi saat ini. Berpolitik menjadi kegiatan yang menggembirakan. Ratusan partai didirikan. Keriangan ini tak hanya menjalari para pemain aktif politik praktis, tapi juga publik yang akan menjadi pemilih dalam pemilu mendatang. Hasil jajak pendapat TEMPO menunjukkan hal itu. Hampir semua responden TEMPO ternyata telah terdaftar sebagai pemilih. Hebatnya lagi, mayoritas calon pemilih yang sudah terdaftar itu aktif mencatatkan namanya berdasarkan keinginan sendiri. Hanya sebagian kecil yang mendaftar karena anjuran orang lain ataupun karena didatangi panitia pendaftaran.
Mengapa bisa demikian? Masyarakat?diwakili responden TEMPO?tampaknya telah menanggung rindu untuk mendapatkan kehidupan bernegara yang tepat berjalan di relnya. Kondisi ini, tak bisa lain, hanya bisa didapatkan lewat pemilu yang akan menghasilkan pemerintahan dan presiden baru yang bersih. Itulah yang menjadi alasan mayoritas responden mengenai kesediaannya ikut pemilu. Alasan ini jauh mengungguli alasan yang menyebut keinginan responden untuk melihat partainya menang. Tentu saja ini fenomena yang menarik karena responden tampaknya tak keberatan partai jagoannya tak menang asalkan bisa terbentuk pemerintahan baru yang bersih.
Namun, karena pemilu sudah telanjur disebut sebagai pesta demokrasi, lazim bila dalam acara ini ada "peserta pesta" yang sekadar ikut-ikutan. Jumlah responden yang bersikap seperti ini memang tak banyak, tapi angkanya masih di atas responden yang tertarik ikut pemilu karena pengaruh iklan di televisi.
Sekalipun jumlah responden yang menyatakan ingin ikut memilih karena pengaruh iklan sangat minim, tampaknya kerja keras Kelompok Visi Anak Bangsa yang membuat iklan-iklan tersebut tak sia-sia. Hampir separuh responden (48 persen) menilai rangkaian iklan tersebut bagus karena bisa mendorong minat calon pemilih. Kalaupun tidak begitu, hampir seperlima jumlah responden menganggap iklan tersebut bagus karena menghibur. Ini juga prestasi. Sebab, di tengah deraan krisis seperti sekarang, hiburan yang gratis dan bagus layak disyukuri.
Bagaimana dengan sejumlah kecil responden yang belum mendaftar? Ternyata tak satu pun dari mereka termasuk dalam golongan putih (golput) alias kelompok anti-mencoblos. Pilihan golput yang disediakan TEMPO, sebagai salah satu jawaban atas alasan belum terdaftarnya responden, tak dilirik oleh seorang responden pun. Penyebab utama adalah kesibukan kerja atau rumah tangga. Jadi, sebetulnya, mereka berkeinginan ikut pemilu.
Sekalipun dalam jumlah kecil, pemilu multipartai kali ini terbukti membuat publik gamang juga. Alasannya, mereka bingung atau partai yang ada tak berhasil meyakinkan mereka. Maklum, terkadang identitas satu partai susah dibedakan dengan partai yang lain.
Yang pasti, pemilu mendatang telah mendatangkan rasa optimistis bagi responden. Mayoritas menganggap pemerintahan mendatang betul-betul datang dari rakyat, bukan jadi-jadian lagi seperti dulu. Namun, jumlah yang ragu-ragu alias tidak tahu akan seperti apa bentuk pemerintahan baru juga tak bisa dianggap kecil. Tak bisa disalahkan, pengalaman buruk selama 32 tahun terlalu lama membungkus benak. Jadi, bagi semua yang terlibat pemilu, mumpung gairah berpolitik publik sedang tinggi, sebaiknya jangan sia-siakan hasrat itu.
Yusi A. Pareanom
INFO GRAFIS| Apakah Anda sudah mendaftar sebagai pemilih? | | Ya | 95%| Belum | 5%| | | Bagaimana proses pendaftaran Anda? | | Mendaftar berdasarkan kesadaran sendiri | 76%| Mendaftar karena dianjurkan keluarga/kerabat/atasan | 18%| Mendaftar dengan didatangi panitia pemilihan | 6%| | | Apa alasan Anda ikut pemilu? | | Ingin mendapatkan pemerintahan dan presiden baru yang bersih | 69%| Ingin partai pilihan saya menang pemilu | 18%| Sekadar ingin ikut | 10%| Tertarik sesudah melihat tayangan iklan untuk ikut pemilu di televisi | 2%| Tidak tahu | 1%| | | Apakah Anda percaya bahwa suara Anda dalam pemilu nanti akan mempengaruhi terbentuknya pemerintah yang dipilih rakyat? | | Ya | 63%| Tidak | 2%| Tidak tahu | 35%| | | Bagi yang belum mendaftar, apa alasan Anda? | | Belum sempat karena sibuk | 56%| Bingung karena terlalu banyak partai | 26%| Partai yang ikut pemilu tidak meyakinkan saya | 11%| Tidak tahu cara mendaftar | 4%| Tidak tahu | 4%| | |
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
|---|
|
Metodologi jajak pendapat ini:
Penelitian ini dilakukan oleh Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 506 responden di lima wilayah DKI pada 12-16 Mei 1999. Dengan jumlah responden tersebut, tingkat kesalahan penarikan sampel (sampling error) diperkirakan 5 persen.
Penarikan sampel dilakukan dengan metode random bertingkat (multistages sampling) dengan unit kelurahan, RT, dan kepala keluarga. Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi antara wawancara tatap muka dan melalui telepon.
|