Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIIII/24 - 30 Mei 1999
   
Laporan Utama

Dari 'Dalai Lama' hingga 'Bunda Theresa'

Time adalah nama besar. Pengusutan harta Soeharto adalah sebuah pekerjaan besar. Ketika keduanya bergabung, hasilnya adalah sebuah kesimpulan yang menggelegar. Meski bukan yang pertama, investigasi majalah terkemuka ini menjadi bukti kesekian?dari segunung yang sudah ada?bagaimana mantan presiden itu telah memperkaya keluarganya dengan amat luar biasa.

Penelitian selama empat bulan di 11 negara dengan anggaran sekitar US$ 100 ribu itu menaksir (secara konservatif) kekayaan trah Cendana tak kurang dari US$ 15 miliar. Dan ia mengungkap temuan paling menyengat dan relatif baru: transfer "uang Soeharto" sejumlah US$ 9 miliar dari sebuah bank di Swiss ke suatu rekening di Austria.

Orang pun terperangah, termasuk beberapa koresponden media asing yang pernah melakukan investigasi serupa. Soalnya, meski kabar "pencucian uang" itu sudah menyeruak setahun lalu, mereka tak pernah berhasil menemukan bukti yang memadai.

Editor Time Asia, Donald Morrison, menjamin temuan itu akurat. "Saya dapat meyakinkan Anda bahwa reporter dan editor kami telah mempersiapkan laporan tersebut dengan amat cermat," katanya kepada TEMPO. Tentang kesahihan transfer itu, koresponden Time David Liebhold menyatakan, "Sumber kami soal itu sangat terpercaya dan memiliki informasi yang amat valid." George Aditjondro, sang pemburu harta Cendana, juga menguatkannya. Time, katanya, telah mengecek berbagai bukti autentik di Swiss dan Austria (lihat wawancara George).

Untuk melindungi sumber, mereka berkeberatan mengungkap rincian proses investigasi. "Di lembaga kami sendiri, ini adalah proyek yang sangat rahasia," kata John Colmey, Kepala Biro Hongkong majalah Time, kepada TEMPO. Colmey sendiri khusus terbang dari Hongkong ke Jakarta untuk memimpin penyelidikan ini. Markas tim dipilih di salah satu kamar suite yang dirahasiakan di Hotel Mandarin, Jakarta.

Tapi, Colmey bersedia memberikan gambaran kasar. Penyelidikan, katanya, dimulai dengan membaca segala artikel dan dokumen yang mungkin ditemui di seluruh belahan dunia. Mereka juga mengontak berbagai pakar. Setelah itu, sebuah tim yang terdiri dari 10 wartawan senior mulai melaksanakan penelusuran sistematis. Setiap temuan diverifikasi dan dicek silang, sebelum didokumentasi. Laporan itu memang terbaca merupakan hasil sebuah riset yang amat detail dan komprehensif.

Investigasi yang berlangsung ekstrahati-hati?dan terkesan mencekam?dipotret dalam laporan itu. Misalnya, mereka selalu menyetel radio di kamar keras-keras saat perbincangan menyentuh topik sensitif. Para sumber juga digambarkan amat ketakutan. Seseorang yang meminta namanya disamarkan sampai memelas, "Saya tidak ingin mati. Saya punya keluarga. Tolonglah!" Untuk itu, setiap sumber penting lalu diberi kode tertentu. Mereka menyebut seorang pengusaha wanita dengan "Bunda Theresa". Seorang pejabat di Kejaksaan Agung yang akhirnya mau bekerja sama diberi kode "Dalai Lama". "Tapi, jika nama saya ditulis, Anda akan saya bunuh," kata sang jaksa, mengancam?tanpa tersenyum?kepada Liebhold.

Menurut Colmey, tim mewawancarai ratusan orang di berbagai negara, dari bankir, akuntan, pengacara, pengusaha, pejabat, mantan pejabat, dan kerabat Cendana, sampai ke warga di pelosok desa. Banyak di antaranya sama sekali tidak pernah berbicara kepada pers sebelumnya.

Di jajaran pemerintah, mereka, misalnya, mewawancarai Presiden B.J. Habibie, Menteri Agraria Hasan Basri Durin, dan Jaksa Agung Andi Ghalib. Termasuk juga beberapa pembantu Ghalib, yang terang-terangan menyatakan keraguan mereka atas keseriusan kerja Ghalib. Seorang petinggi Kejaksaan malah menyatakan, "Misi Ghalib adalah melindungi Soeharto."

Di luar itu, ada kutipan pernyataan mantan Jaksa Agung Soedjono Atmonegoro. Ia mengungkapkan temuannya soal penyaluran 84 persen dana Yayasan Supersemar secara tidak sah ke berbagai perusahaan Cendana. Selain itu, juga ada kutipan sederet nama yang punya perhatian khusus soal ini. Misalnya, George Aditjondro, Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia, dan banyak lainnya.

Juga, berbagai wawancara menarik dari lingkar dalam Cendana, dari teman dekat dan rekanan bisnis yang meminta namanya disamarkan, sampai yang terang-terangan seperti mantan kroni nomor satu Soeharto di Pertamina, Ibnu Sutowo, dan adik almarhumah Tien Soeharto, Ibnu Hartomo. Yang amat menarik, para "orang dekat" ini justru menelanjangi berbagai penyelewengan trah Soeharto. Tengoklah kesaksian seorang mantan kongsi dagang anak Soeharto, yang mengaku telah mengemplang pajak sebesar US$ 2,5 miliar-US$ 10 miliar. Bahkan, Ibnu Hartomo menghujat-hujat, "Anak-anak itu sangat buas. Sepertinya mereka telah melupakan etika."

Jadi, mau bukti apa lagi, Pak Ghalib?

Karaniya Dharmasaputra, Ahmad Fuadi, Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data