Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIIII/24 - 30 Mei 1999
   
Kesehatan

Tips Kesehatan

Kunyit Putih Melawan Kanker


Bila Anda berjalan di pasar-pasar Yogyakarta, para penjual bumbu menjajakan kunyit yang bentuknya bulat menggembung. Kunyit apakah itu? Para penjual akan mengatakan, "Itu kunyit putih untuk obat kanker." Kunyit putih memang banyak diyakini bisa mengurangi, bahkan menghilangkan sel kanker, terutama kanker payudara dan leher rahim. Terkenalnya kunyit putih sebagai obat kanker bermula dari penderitaan seorang dokter yang terkena kanker payudara, yang bertugas di sebuah puskesmas di Kulonprogo, Yogyakarta. Meski sudah "divonis" usianya tinggal beberapa bulan karena kankernya sudah berbiak hingga ke usus besar, kandung kemih, dan paru-paru, dokter itu bisa panjang usia setelah diobati dengan bubuk kunyit putih. Kini, sang dokter bukan hanya merasa sembuh, tapi juga memproduksi bubuk kunyit putih untuk dijual di beberapa apotek di Yogyakarta.

Benarkah kunyit putih ampuh melawan kanker? Kebenarannya memang belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Tapi enam bulan lalu para peneliti dari berbagai bidang studi, yang tergabung di Pusat Antar-Universitas (PAU) Bioteknologi Universitas Gadjah Mada, telah melakukan penelitian ilmiah tentang kunyit putih.

Menurut Dr. Retno S. Sudibyo, pakar antibiotik dan enzim yang menjadi salah seorang peneliti PAU, tidak semua kunyit putih manjur dijadikan obat kanker. Kunyit putih yang biasa digunakan sebagai obat oleh penderita kanker adalah kunyit putih yang memiliki nama Latin Curcuma mangga.

Dari hasil penelitian laboratorium, kunyit putih terbukti mengandung protein toksis, sejenis ribosome-inactivating protein (RIP). Inilah protein yang mampu menonaktifkan ribosom sehingga sintesis protein di dalam sel terganggu. Protein tersebut terbukti pula lebih mudah melakukan penetrasi ke dalam sel kanker dibandingkan dengan sel sehat.

Tentu, pembuktian yang dilakukan PAU tak hanya sebatas di laboratorium. Para peneliti juga akan menguji toksisitas organ pada hewan, isolasi zat aktif, dan melakukan ethical clearance pada pasien yang bekerja sama dengan RSU Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Bila Anda tertarik untuk mencoba, jangan keliru memilih. Kunyit jenis ini lebih mirip jahe, tetapi besar seperti lengkuas, dan berwarna putih. Bau umbinya segar seperti bau mangga kueni. Rasanya juga enak, tidak pahit. Bila sudah dijadikan bubuk? banyak dibuat dan beredar di pasar?warnanya kuning muda. Tapi, hati-hati, tak semua bubuk yang dijual itu murni. "Yang bukan Curcuma mangga baunya seperti jamu," ujar Dr. Wiryatun Lestariana, ahli aflatoksin, yang juga terlibat dalam penelitian, kepada L.N. Idayanie dari TEMPO.

Khasiat kunyit sebenarnya bisa diperoleh dengan memakan umbi yang masih segar begitu saja. "Tapi, jika makan yang masih segar, jangan terlalu banyak karena kalau tidak tahan bisa diare," saran Retno.


Pilih-pilih Bumbu Salad


Bila Anda kebetulan menghadiri pesta, jangan cuma memburu kambing guling. Santap juga salad yang menyegarkan. Kalau mau lebih sehat, pilih bumbu yang tepat. Menurut penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Harvard, Boston, Amerika Serikat, dan dipopulerkan American Journal of Clinical Nutrition edisi Mei, bumbu salad, yang mengandung minyak, cuka, atau mayones, mengandung asam alfa-linolenat?lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated) yang sangat berguna untuk kesehatan jantung.

Kesimpulan itu diperoleh dari penelitian yang melibatkan 76.823 wanita sepanjang 10 tahun, yang dimulai sejak 1984. Peneliti menanyakan 116 jenis makanan yang biasa disantap?termasuk salad. Ternyata, mereka yang memakan salad lima atau enam kali dalam sepekan lebih kecil risikonya menderita penyakit jantung, dibandingkan dengan mereka yang jarang memakan makanan yang terdiri dari sayur segar berbumbu asam cuka.

Dari penelitian, ternyata kebiasaan makan salad dengan bumbu yang bebas lemak, seperti diet ala wanita Amerika, justru tak dianjurkan. Sebab, alfa-linolenat, yang menjadi sumber penting bagi kesehatan, akan hilang.


Minyak Ikan dan Jantung Sehat

Sudah lama minyak ikan diketahui berguna untuk menguatkan jantung. Namun, baru Dr. Clemens von Schacky, peneliti dari University of Munich, Jerman, yang berhasil mengungkap bahwa asam lemak Omega-3 yang terdapat di minyak ikan itulah yang menyebabkan pembuluh darah senantiasa lembut dan tak mengeras, sehingga aliran darah ke seluruh tubuh menjadi lancar. Buntutnya, kondisi jantung senantiasa bugar.

Seperti dilaporkan buletin Onhealth yang mengutip jurnal Annals of Internal Medicine edisi bulan lalu, dari 232 pasien yang diteliti selama dua tahun, pasien yang menyantap minyak ikan sebanyak 1,5 gram setiap hari diketahui mengalami perubahan yang lebih positif dibandingkan dengan pasien yang tak mendapat minyak ikan. Karena itu, saran Schacky, biasakan memakan minyak ikan dua kali sepekan. "Minyak ikan juga berguna sebagai pertahanan untuk melawan serangan jantung koroner," katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data