Pengobatan Alternatif Lewat Meditasi Meditasi relaksasi, 15 menit per hari, terbukti bisa menurunkan gula darah penderita diabetes tanpa ketergantungan insulin. Bagi penderita diabetes yang bergantung pada insulin, meditasi tak bisa diandalkan. |
Kebahagiaan I Made Bagiada Sada, 61 tahun, akhirnya datang juga. Setelah 36 tahun mengidap penyakit diabetes melitus tanpa ketergantungan insulin, ia baru percaya bahwa penyakitnya itu bisa disembuhkan. Itu terjadi setelah ia melakukan meditasi relaksasi sejak akhir tahun lalu. Memang ia juga menjalani diet ketat dan olah raga teratur. Tapi, baru setelah melakukan meditasi relaksasi, ia merasa lebih segar dan bisa tidur lebih nyenyak. ''Yang lebih membahagiakan, kini saya bisa merasakan kehidupan seks yang normal," ujar pria yang rajin melakukan senam seks dan banyak makan sayuran itu.
Bagiada bukan satu-satunya pengidap diabetes yang mengalami penurunan gula darah berkat meditasi. Tujuh orang lainnya?dari sepuluh orang yang aktif melakukan meditasi?juga mengalami penurunan gula darah dalam derajat baik atau berangsur normal. Itulah salah satu hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti Universitas Udayana/RSUP Sanglah yang dipimpin Psikiater Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani.
Penelitian tim Suryani melibatkan 40 responden tetap?semula ada 100 relawan yang mengikuti penelitian. Sampel penelitian dibagi dalam dua kelompok, terdiri dari kelompok sampel dan kelompok kontrol. Kelompok pertama, selain mendapat terapi kedokteran secara konvensional serta diet dan olah raga, juga mengikuti program meditasi relaksasi. Sedangkan kelompok kedua hanya menjalani pengobatan yang diberikan oleh dokter, diet, dan olah raga. Tiga bulan kemudian, kesehatan semua relawan diperiksa.
Pasien yang tak menjalani meditasi secara teratur ternyata tak satu pun yang meraih predikat kesembuhan dalam derajat baik. Kelompok yang hanya menjalani pengobatan dokter, diet, dan olah raga mempunyai peluang kesembuhan yang lebih kecil ketimbang kelompok yang selain dengan ''cara biasa" juga melakukan meditasi relaksasi. Pada kelompok kontrol, dari 20 penderita hanya 5 orang yang gula darahnya membaik.
Gerakan dasar meditasi yang ditawarkan Suryani diawali dengan duduk bersila dengan punggung tegak. Peserta kemudian diminta merasa dalam kondisi mengistirahatkan tubuh. Mereka harus memusatkan pikiran, perasaan, dan angan-angan pada satu titik. Saat itu, bila mata mulai terasa berat, peserta meditasi tidak diperbolehkan menahannya, dan kemudian malah diminta memusatkan pikiran ke hidung. Ini dilakukan untuk merasakan masuk dan keluarnya napas melalui hidung.
Bila cara itu gagal, boleh dicoba teknik lain, pokoknya yang bisa membuat orang mencapai homeostatis. Kondisi homeostatis adalah keadaan saat fungsi regulasi yang meliputi fungsi sistem saraf otonomi, endokrin, daya tahan tubuh mencapai puncaknya?sehingga tubuh mampu menyembuhkan diri sendiri. Latihan itu sendiri cukup dilakukan 10-15 menit setiap hari.
Menurut Suryani, meditasi akan menumbuhkan rasa percaya diri. Bagi penderita penyakit gula?jenis yang tak bergantung pada insulin?yang sudah sakit lebih dari setahun, perasaan semacam itu penting karena mereka umumnya sudah frustrasi dan cenderung berpikir negatif mengenai kehidupannya. Ternyata peserta meditasi yang rajin, yang sebelum percobaan yakin penyakitnya tak bisa disembuhkan, akhirnya berbalik pendapat.
Dari penelitian itu, tim Suryani juga berkesimpulan bahwa penyakit gula bukan penyakit biologis semata, tapi juga penyakit psikobiologis. Dengan kata lain, penyakit gula tanpa ketergantungan insulin terjadi karena ketiadaan disiplin dan pengendalian diri dalam memenuhi kebutuhan tubuh. Ini membuat pankreas tak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup untuk mengatur kadar gula dalam darah. Nah, ''Meditasi adalah cara untuk menumbuhkan disiplin dan pengendalian diri itu," ujar Suryani. Karena pendekatannya lebih psikologis, meditasi memang sulit diandalkan untuk mengatasi penyakit diabetes yang bergantung pada insulin, karena ini disebabkan gangguan fisik.
Meski dalam skala kecil Suryani berhasil membuktikan secara ilmiah manfaat meditasi buat pengobatan diabetes, ia tak berniat meneliti lebih jauh. "Nggak, ah. Saya hampir kapok," katanya. Menurut Suryani, penelitian lintas disiplin antara psikologi dan kedokteran seperti yang dilakukannya ternyata sulit mendapat dukungan dari para koleganya. Penelitiannya itu bahkan hampir gagal karena banyaknya hambatan yang dialaminya. Padahal, pada masa krisis begini, apa salahnya mencoba pengobatan alternatif, seperti meditasi, yang tak menghabiskan biaya?
Ma'ruf Samudra dan koresponden Denpasar
|