BANGSA kita saat ini sedang dalam proses pemilihan seorang pemimpin sebagai presiden RI keempat. Benarkah demikian? Bukankah sebenarnya kita menunggu presiden yang keenam.
Menurut saya, kita telah melupakan dua orang mantan presiden yang juga patut kita catat dan kita hormati dalam perjalanan sejarah, yaitu Syafruddin Prawiranegara dan Assa?at.
Mungkin karena pernah ikut dalam Proklamasi PRRI pada awal 1958, kemudian diperangi selama 3,5 tahun di Sumatra dan Sulawesi oleh Kasad Jenderal A.H. Nasution, yang waktu itu sebagai pelaksana dan pembela ide baru Soekarno, kedua tokoh nasional tadi harus dilupakan.
Syafruddin dan Assa?at, bersama dengan Moh. Natsir, Burhanuddin Harahap, Letkol Ahmad Husein, Letkol Ventje Sumual, Kol. Lubis, Kol. Simbolon, Kol. Dahlan Djambek, dan lain-lain, pernah menolak tegas eksperimen politik Presiden Soekarno yang disebut ?Konsepsi Presiden? yang berintikan Nasakom.
Apakah karena amnesti, abolisi, dan rehabilitasi, yang pernah dijanjikan dan ternyata tak pernah ditepati oleh Soekarno dan Nasution (Wakil Panglima Besar), mereka harus tetap dilupakan sampai sekarang? Mereka tak pernah mengenal protokol penguburan sebagai mantan petinggi negara yang patut, sebagai penghormatan akhir dan terima kasih dari bangsa dan negara.
Akan banyak membantu jika pelaku sejarah seperti Jenderal Bintang Lima A.H. Nasution, Dr. Sumitro, Ventje Sumual, Alwin Nurdin, tokoh dari Korps SSKAD 1956, yang pernah menuntut penggantian pimpinan Angkatan Darat A.H. Nasution, dengan konsekuen, dimintai fakta-fakta yang lurus, mumpung mereka masih hidup. Kasihan cucu-cucu mereka yang pernah disingkirkan itu. Dalam pelajaran sejarah di sekolah sampai saat ini, mereka mengenal bahwa kakek mereka adalah sparatis dan pemberontak.
Jadi, sekali lagi, presiden keberapa sebenarnya yang bakal kita pilih nanti? Pertanyaan ini dapat dijadikan bahan debat para calon presiden sekaligus untuk meluruskan sejarah.
Sjoeib
Alumni SSKAD 1954
Jalan Olah Raga II/51
Condet, Jakarta Timur
Telp. 8093935