Habibie Tetap sebagai Presiden? |
ACARA Pro-Kontra di TPI beberapa waktu lalu, yang menghadirkan A.A. Baramuli dengan Sri Bintang Pamungkas, menarik diikuti. Di situ, tanpa disadari Baramuli, Ketua DPA, menyatakan bahwa ?Habibie terlibat KKN? walaupun kadarnya kecil.
Indonesia, menurut laporan beberapa lembaga penelitian korupsi di luar negeri (Eropa dan Amerika), menempati urut ke-10 dalam hal korupsi. Pantaskah negeri ini mendapat julukan ?the big ten? karena presidennya terlibat korupsi, meskipun kecil? Sampai detik ini tidak ada pernyataan atau komentar dari Presiden Habibie atas pernyataan Baramuli.
Habibie, sejak memegang tampuk kekuasaan, menurut para pendukungnya, telah mengukir prestasi luar biasa, antara lain pemulihan krisis ekonomi, kebebasan pers, pembebasan narapidana politik, perbaikan demokrasi, dan penyelesaian Tim-Tim. Sehingga, Partai Golkar menempatkan Habibie sebagai calon tunggal presiden mendatang.
Jujur, kita tidak boleh menutup mata terhadap prestasi di atas, walaupun masih perlu waktu untuk membuktikannya. Tapi masih ada hal yang amat mendasar, yaitu ?moralitas? dan ?integritas pribadi? seorang pemimpin bangsa. Sudah menjadi kenyataan bahwa keambrukan ekonomi Indonesia yang mengakibatkan lengsernya Soeharto akibat korupsi yang merajalela. Sehingga, apa pun prestasi Habibie, akan ?nol besar? jika tidak ada tindakan nyata memberantas korupsi dan perbaikan moral para pemimpin.
Masyrakat Indonesia mayoritas masih bersifat paternalisitik, pemimpin merupakan panutan dari yang dipimpin. Maka, untuk menegakkan republik ini dari keruntuhan, diperlukan pemimpin yang bermoral.
Jika ingin dipilih kembali?lebih terhormat bila tak bersedia dicalonkan?sebaiknya Habibie mengklarifikasi dirinya tidak terlibat dalam korupsi dan mengumumkan secara terbuka asal-usul kekayaan diri dan keluarganya.
Alangkah sedihnya bila bangsa ini dipimpin oleh orang yang bermental korup.
Boedi Tjahjono
TKI Perminyakan Indonesia
Jalan Bukit Cinere 181D, Jakarta
Telp. 7542095
HP 0811954741
|