Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIIII/24 - 30 Mei 1999
   
Kritik

Megawati dan Tim-Tim


SETELAH pemerintah mengeluarkan opsi untuk Tim-Tim, Ketua Umum PDI Perjuangan langsung menyatakan keberatannya kalau Tim-Tim dipisahkan dari Indonesia. Sayangnya, ketika Xanana Gusmao mengecam keras pernyataan tersebut, Megawati ?diam-diam? saja.


Anehnya, pada saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, Megawati berjanji akan merelakan Tim-Tim merdeka jika dia terpilih menjadi presiden, seperti dikutip sebuah harian di Surabaya, 10 Maret 1999.


Terlepas dari tepat tidaknya pendirian Megawati, sebenarnya amat sangat disayangkan, sebagai calon presiden, Megawati berubah pikiran ?hanya? karena bertemu dengan menteri Australia. Sementara itu, Theo Syafei, salah seorang Ketua DPP PDI Perjuangan, tetap tidak setuju pelepasan Tim-Tim dari Indonesia. Lalu, apa bedanya dengan sikap pemerintah yang selalu tidak konsisten itu?
Dalam sisa waktu yang singkat menjelang sidang umum MPR ini, alangkah baiknya kalau Megawati melakukan introspeksi, agar bisa tampil lebih berbobot di waktu yang akan datang. Adalah tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa presiden ke-2 dan ke-3 negeri ini ikut berjasa melambungkan popularitas Megawati saat ini. Perlakuan tidak adil telah menjadikan Megawati sebagai simbol korban ketidakadilan penguasa, yang mengundang simpati besar kalangan masyarakat, yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Megawati.


Megawati seharusnya waspada dan tidak keasyikan dengan simbol tersebut. Lihatlah nasib Sri Bintang Pamungkas dan Mukhtar Pakpahan, yang pernah menyandang simbol yang sama dengan popularitas yang tinggi semasa Orde Baru. Begitu pemerintahan yang sekarang membebaskan mereka berdua, simpati besar masyarakat langsung menurun, dan terpuruklah popularitas mereka.
Sudah saatnya Mega berbicara mengenai pemikirannya yang konkret dan konseptual, untuk mengangkat bangsa ini dari kondisi yang terpuruk dan mengantarkannya memasuki abad ke-21. Lama-kelamaan masyarakat akan bosan mendengar pernyataannya yang itu-itu saja: mengkritik presiden dan pemerintah tanpa memberikan alternatif yang konkret.


Muzani Noor

Jalan Bratang Binangun 3/29

RT 007/008, Gubeng

Surabaya 60284


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data