Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIIII/24 - 30 Mei 1999
   
Inovasi

Senjata yang Tak Membunuh



Pekan-pekan ini kesibukan polisi Jakarta mungkin akan meningkat. Maklum, musim kampanye sudah tiba. Tak tertutup kemungkinan terjadi kerusuhan yang memaksa polisi meletuskan senjata. Main dor sedapat mungkin memang harus dihindari, tapi bila tak terelakkan? Ada baiknya polisi mempunyai senjata yang diperkenalkan Eric Herr, Wakil Presiden Direktur HSV Technology. Senjata itu berupa senjata sinar laser yang tak mematikan dan hanya bisa membuat lawan menjadi kaku sejenak. Jadi, polisi bisa meringkus pelaku kerusuhan tanpa mencederainya.

The Sunday Times melaporkan cara kerja senjata yang baru saja diperkenalkan di Amerika itu. Begini: lawan dilumpuhkan dengan sengatan listrik yang dihasilkan dari ion foton—partikel sinar pada ultraviolet yang menjadi amunisi senjata tersebut—yang dapat dimuntahkan hingga jarak 100 meter. Ketika menyetrum sasaran, listrik itu memaksa otot mengerut dan itu yang menyebabkan korban tak bisa bergerak untuk beberapa waktu.

Herr menjamin bahwa senjata buatannya itu aman untuk kesehatan. Dengan kekuatan 25 miliampere, listrik tak mampu menembus jantung dan organ vital yang dikhawatirkan bakal luluh-lantak oleh senjata itu, karena organ-organ tersebut dibentengi jaringan tubuh yang cukup tebal. Lain soal bila muatan listrik ditingkatkan menjadi 250 miliampere, denyut jantung bisa berhenti mendadak. Karena itu, kata Herr, senjata ini cocok juga dipakai untuk bertempur. Kelebihan lain, bila "amunisi"-nya diganti dengan gelombang magnet, kendaraan yang digunakan penjahat bisa dilumpuhkan karena gelombang tersebut akan merusak sistem komputer di kendaraan.


Mata 'Genit' dari Dinamo


Mengedipkan mata adalah hal sepele, bahkan sudah fasih dilakukan anak balita untuk memperagakan aksi "mata genit". Tapi, bagi mereka yang mengenakan bola mata palsu dan kelopak mata tiruan, berkedip, sungguh mati, mustahil dilakukan. Mata imitasi yang ada saat ini rupanya tak bisa digerak-gerakkan.

Tim dari Universitas Humboldt, Berlin, Jerman, berhasil membuat hal mustahil itu menjadi kenyataan, dengan memperkenalkan mata buatan yang bisa berkedip. Seperti dilaporkan BBC News akhir bulan lalu, mata palsu yang dibuat dari bahan lateks itu dilengkapi motor kecil bertenaga baterai. Dinamo akan bekerja setelah mendapat sinyal dari pembuluh darah di kelopak mata yang sehat, sehingga gerakannya seirama. Sedangkan media yang digunakan untuk membuka dan menutup kelopak mata buatan itu adalah kumparan benang dan per spiral yang bekerja secara sinergis.

Seluruh peranti elektronik tersebut dibungkus dalam bentuk kapsul kecil yang disimpan dalam bola mata buatan. Dr. Martin Klein, sang peneliti, sudah menguji kelopak mata buatan itu pada 300 ribu pasien. Berhasil. Saat dilihat dari rekaman video, mata yang palsu dapat berkedip bersama-sama dengan mata yang sehat.


Sel Pereparasi Otak

Bagaimana mengatasi penyakit stroke? Pada penanganan konvensional, stroke biasa diatasi dengan menahan laju perusakan pada otak agar tak melebar ke mana-mana. Dr. Mark Charette dan tim peneliti dari Creative BioMolekul, perusahaan riset dari Boston, Amerika Serikat, berhasil menemukan cara yang unik. Kelak, dengan sebutir obat, otak akan mereparasi sendiri sel dan jaringannya yang rusak.

Keyakinan itu didasarkan atas ditemukannya sel OP1, yang merupakan sel pemicu tumbuhnya sel otak—selain sel tulang dan ginjal. Pada otak, OP1 akan memperbaiki sel-sel yang rusak dan mati, termasuk merangsang pertumbuhan sel urat saraf pada otak, sehingga hubungan antarsel kembali normal. Sedangkan pada stroke itu terjadi karena aliran darah menuju otak terhambat, dan itu membuat sel otak yang mengontrol gerak tubuh menjadi rusak dan mati.

Menurut The Sunday Times, riset yang didukung Universitas Harvard dan Rumah Sakit Umum Massachusetts itu telah melakukan pengujian sel OP1 pada tikus percobaan. Tikus yang terkena stroke, setelah diterapi dengan cara biasa, baru 30 hari kemudian dapat disembuhkan, dengan tingkat kepulihan 50 persen. Namun, begitu diinjeksikan OP1, sang pengerat cuma perlu waktu sepekan, dengan tingkat kesembuhan 80 persen. Nah, bila tak ada aral, tahun depan riset ini dikembangkan dengan mencobakannya pada manusia.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data