Puasa Sayur dan Buah, untuk Sementara Distribusi sembako aman-aman saja. Masalah justru muncul pada sayur dan buah yang tak bisa ditimbun. |
PARA pedagang itu asyik duduk mencangkung. Santai. Tak seperti hari-hari biasa di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Mereka ngobrol tentang sepinya pembeli sejak dimulainya kampanye pemilu Rabu pekan lalu. Kios banyak yang tutup. Pemiliknya memilih menggembok kiosnya untuk sementara, ketimbang menjadi korban kerusuhan seperti pada Mei tahun lalu. Ada juga pedagang yang sibuk kampanye. ''Mumpung ada kesempatan," kata Basirun, pedagang kelapa, sambil mengemasi dagangannya dan bersiap menuju lokasi kampanye.
Kios yang masih buka memasang harga selangit. Sayur dan buah-buahan melambung tinggi harganya, padahal sudah tak segar lagi. Buah kedondong yang tadinya cuma Rp 400 per kilogram ditawarkan sampai enam kali lipat. Mentimun dijual Rp 2.000, padahal biasanya hanya Rp 400 per kilogram. Sayur sawi berharga Rp 2.200 sekilogram, sebelumnya ditawarkan Rp 300 sekilogram pun susah laku. Tidak hanya pembeli yang bingung, pedagang pun repot menjelaskan kenaikan mendadak itu. ''Mau bagaimana lagi, harga belinya saja sudah mahal," ujar Sulami, pedagang sayur, menjawab keluhan pembelinya.
Adakah pemilu juga mengerek harga sembako, untungnya tidak. Sampai pekan ini, harga sembako tenang. Malahan, harga beberapa komoditi cenderung turun. Di Pasar Jatinegara, misalnya, harga minyak goreng curah turun dari Rp 5.000 per kilogram menjadi Rp 4.300. Satu kilogram telur ayam juga turun seribu rupiah menjadi Rp 8.000. Gula juga turun dari Rp 3.000 sekilogram menjadi Rp 2.700.
Namun, arus pembeli sembako tetap saja seret. Beberapa pedagang mengaku omzetnya turun hingga 60 persen. Rupanya ini akibat pembeli sudah memborong sembako?ditambah mi instan dan susu bayi?sejak sepekan sebelum kampanye. Mereka memborong di mana saja, baik di pasar swalayan maupun pasar tradisional. Dan aksi borong ini memang tidak sehebat Mei tahun lalu, ketika terjadi kerusuhan besar di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Stok saat ini agaknya cukup memadai sehingga aksi borong tidak sampai membuat harga melangit.
Pasokan sembako memang dijaga ketat. Jalur pantai utara Jawa, urat nadi distribusi sembako dari dan ke luar Jawa, mendapat pengamanan maksimum. Pawai dan kampanye partai politik dilarang melalui jalur vital ini. Pengamanan itu ditambah juga dengan stok ekstra yang disiapkan hampir semua perusahaan retail. Namun, pengusaha juga tak berani menimbun barang besar-besaran, takut kena jarah. Untuk itu, gudang-gudang Bulog, dengan pengamanan ekstra, dijadikan tempat menimbun sementara. ''Biasanya pengecer cuma berani menstok untuk dua hari. Dengan memanfaatkan gudang Bulog, stok bisa disimpan sampai dua minggu," kata Teddy Setiadi, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Steve Sondakh, juga menjamin akan tetap berdagang selama masa pemilu ini. ''Kalau tutup, konsumen rugi, jaringan bisnis pun terganggu," kata Sondakh. Pihaknya memang meminta jaminan keamanan dari aparat keamanan untuk terus menyediakan pasokan barang. Bila kerusuhan meledak tak terkendali, apa boleh buat, toko-toko terpaksa tutup. Kalau kemungkinan terburuk terjadi, skenario darurat sudah disiapkan. Seandainya pertokoan tutup, gudang-gudang Bulog akan difungsikan sebagai tempat jual-beli sembako. Jika semua jalur macet, distribusi akan diambil alih pemerintah. Departemen Perindustrian dan Perdagangan menjanjikan bahwa semua kantor departemen, badan usaha milik negara, dan birokrasi di 27 provinsi siap mengaktifkan jalur distribusi alternatif.
Di atas kertas semua rencana pasti rapi-jali. Namun, kondisi di lapangan belum tentu mulus. Angkutan, misalnya, potensial menjadi masalah besar. Tampaknya, armada truk TNI harus siap-siap beraksi bila semua sopir truk pengangkut sembako takut berdinas. Tanda-tanda ke arah itu bukannya tak ada. Sopir truk yang tak mau mempertaruhkan nyawa semakin banyak. Jalan malam, takut dijarah. Jalan siang, khawatir terjebak kampanye. Akibatnya, ongkos angkut melambung. Tarif Rp 600-800 ribu sekali angkut, untuk rute Jawa Timur-Jakarta, misalnya, membengkak sampai di atas satu juta rupiah. Akibatnya, harga sayur dan buah?tak mungkin ditimbun lebih dari dua hari?jauh melonjak.
Ketua Asosiasi Ritel dan Distribusi Indonesia (Ardin), Ahmad Pawenney, mengakui bahwa pasokan wet product jauh lebih sulit ditangani. Perencanaan matang sama sekali tak ada. Pengadaan bahan umumnya hanya berdasarkan kesepakatan mendadak. ''Di desa-desa, jika ada tengkulak mau memborong baru dicarikan truk pengangkut," kata Pawenney. Itulah sebabnya, sampai kini belum ada pemecahan yang jitu untuk pasokan sayuran dan buah. Yang berduit, silakan ambil buah kaleng, yang tak berduit, ya, puasa saja.
Mardiyah Chamim, Ardi Bramantyo, dan Wens Manggut
|