Sewa Tenaga, Awas Rahasia Bisnis jasa penyedia jasa tenaga layanan khusus lagi merebak. Selain hemat, hasil kerjanya lebih optimal. Ada ruginya? |
Mau sate, mengapa harus memelihara kambingnya? Boleh jadi ungkapan tua itulah yang mengilhami bisnis yang lagi ngetren ini: outsourcing. Pelaku bisnis outsourcing, ibaratnya koki ahli, menyediakan masakan sesuai dengan pesanan pembeli. Bedanya, sementara koki menjual masakan, outsourcer menyediakan tenaga kerja.
Memang betul, bisnis penyedia tenaga layanan khusus ini bukan ladang usaha baru. Sejak bertahun-tahun lalu, telah dikenal pemasok tenaga jasa pendukung jalannya perusahaan, misalnya penyedia jasa pengamanan, jasa pembersihan, jasa pesuruh kantor, dan jasa perekrutan atau pelatihan karyawan. Tapi, belakangan, bisnis outsourcing merambah sektor yang menjadi jantung perusahaan. Pengolahan data dan pengelolaan jaringan informasi, kini, menjadi salah satu obyek outsourcer yang paling hot.
Agaknya, persaingan yang kian ketat dan tuntutan efisiensi yang kian tinggi memaksa perusahaan menyerahkan sejumlah pekerjaan yang bukan bidangnya kepada para ahli. Ketimbang pusing mengurus jaringan komputer, misalnya, mengapa tak mengontrakkannya kepada pengelola yang kompeten? Dengan cara itu, divisi teknologi informasi bisa berjalan mulus, energi bisa dicurahkan pada bisnis inti, dan ongkos bisa ditekan. ScripsHealth Inc., pemilik jaringan rumah sakit di San Diego, misalnya, berhasil memangkas biaya divisi teknologi informasi 25 persen lebih murah setelah menyewa outsourcer.
Mungkin saja tingkat penghematannya tak cukup fantastis. Okelah. Tapi sistem sewa kerja ini bisa menjadi solusi persoalan teknis. Anda bayangkan saja: bagaimana kantor berita Reuters?beroperasi di 163 negara?harus memasok berita ke 435 ribu terminal pelanggan di seluruh dunia? Kalau mau mengoperasikannya sendiri, barangkali Reuters bakal lebih kerepotan mengurus jaringan komputernya ketimbang mengelola armada wartawannya. Barangkali karena tak mau dijadikan kacung jaringan komputer, Reuters memasrahkan pengelolaan divisi teknologi informasinya kepada Compaq Ventures Corporation.
Pengalaman perusahaan di Indonesia menghemat biaya dengan menyewa outsourcer juga tak sedikit. General Motor Indonesia (GMI), misalnya, mengontrakkan pengelolaan teknologi informasinya sejak 1995. Penghematannya lumayan. "Bisa irit biaya lebih dari separuh," kata Syarif Taufik Hidayat, analis program Divisi Teknologi Informasi General Motor Indonesia.
Sayangnya, pengalaman para pengguna outsourcing sulit dilacak. Maklum saja, ini bisnis kepercayaan. "Kami tak bisa membeberkan data klien," kata B.T. Lim, country manager Compaq Indonesia. Gambaran kasarnya, Compaq Indonesia sedang menangani delapan perusahaan. Kepada mereka yang menyewa Compaq untuk tugas yang berjangka satu sampai tiga tahun, akan dikutip biaya antara US$ 1 juta dan US$ 3 juta. Sedangkan untuk kontrak outsourcing penuh, dengan masa tiga tahun, ongkosnya US$ 5 juta.
Menurut Lim, pasar bisnis outsourcing di Indonesia cukup besar. Krisis ekonomi telah mendongkrak semangat efisiensi. Perbankan, misalnya, merupakan calon konsumen potensial. Semua produknya?kartu kredit, deposito, giro, dan tabungan?membutuhkan sistem teknologi informasi yang rumit. "Kalau ditangani sendiri, divisi teknologi informasi bank bisa lebih besar ketimbang divisi kredit," kata Lim. Sebuah bank swasta, misalnya, punya staf teknologi informasi lebih dari 200 orang cuma untuk wilayah Jakarta.
Tapi apakah outsourcing selalu menguntungkan? Riyanto Gozali, manajer umum Divisi Sistem Integrasi Astra Graphia, punya sejumlah rambu. Untuk sektor usaha yang membutuhkan tingkat kerahasiaan tertentu, katanya, lebih baik tak mengundang pihak ketiga. Perbankan, misalnya, lebih baik mengelola sendiri jaringan komputernya. Database bank meliputi kerahasiaan data jutaan nasabah. Sedikit saja data itu bocor, buntutnya bisa panjang. Menurut Riyanto, bisnis pertambangan lebih tepat menggunakan jasa outsourcing. Sebab, selain lokasinya sulit dijangkau sistem informasi biasa, tingkat kerahasiaannya tak setinggi perbankan.
Memilih pengontrak tenaga pun ada resepnya. "Harus pas dengan kebutuhan," kata Riyanto. Perusahaan skala kecil dengan sistem teknologi informasi sederhana, misalnya, tak perlu mengontrak outsourcer kelas kakap. Sebaliknya, perusahaan besar dengan organisasi rumit sebaiknya memilih penyedia tenaga yang teruji kualitasnya. "Ibaratnya menyerahkan jantung perusahaan, mestinya kepada mereka yang mumpuni," katanya.
Pesan Riyanto itu sebenarnya bukan cuma untuk konsumen. Mereka yang ingin memasuki bisnis ini pun mestinya menyadari: untuk memenangi pertarungan, Anda harus lebih dulu merebut kepercayaan. Seperti para koki sate yang harus membuktikan bahwa olahannya nomor satu....
Mardiyah Chamim dan Setiyardi
|